“Dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi,
yang abadi hanya kepentingan. Ketika kepentingan berbeda,
kawan pun menjadi lawan. Sebaliknya, ketika kepentingan sama,
 lawan pun berubah wujud menjadi kawan”.

oo0oo



Di atas panggung politik mutakhir di tanah air kita, adagium di atas seperti menjadi kebenaran mutlak.

Itulah yang diyakini dan diperankan sehari-hari oleh sebagian besar  elit politik kita dewasa ini. Persahabatan segera memasuki senjakala ketika pilihan dan aspirasi poltik berbeda.
Seakan tidak bias memadu-padankan dua hal tersebut di waktu bersamaan: Pertemanan sejati di satu sisi, dan pilihan politik yang berbeda di sisi lain.

Padahal di masa lalu, di masa-masa awal kemerdekaan negeri ini, ketika para politisi masih disatukan hati untuk berkonstribusi kepada negeri,  perbedaan politik tidak memutuskan persahabatan mereka. Bagi mereka pilihan politik adalah sebuah pilihan rasional untuk sebuah cita-cita ideal, sedangkan persahabatan adalah entitas kemanusian yang berdimensi universal yang mampu mengabaikan tendensi politik demi alasan-alasan kemanusia. Hal inilah yang dipraktekkan politisi kita tempo dulu dan layak kita contohi dewasa ini.

oo0oo

Alkisah, sesungguhnya Syarifuddin Prawiranegara, Soekarno, IJ Kasimo, Leimina dan Subandrio adalah serangkai sahabat sejati.

Syarifuddin Prawiranegara adalah  ayah dari Fadhli Zon, Wakil Ketua DPR RI dan Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). PDRI adalah pemeintahan darurat yang dibentuk Sukarno ketika agresi Belanda II di mana ketika itu Sukarno ditawan Belanda di Yogyakarta dan seluruh wilayah Indonesia dalam penguasaaan kolonialis Belanda kecuali Aceh. Awalnya PDRI berpudat di Bukit Tinggi, Padang, selanjutnya dipindahkan ke Bireun, Aceh.

Pak Syaf – begitu beliau dipanggil – adalah  elit Partai Masyumi yang merupakan rival tangguh PNI, partai besutan Soekarno bersama  Leimina dan Subandrio. Sedangkan IJ Kasimo adalah Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (PARKINDO) yan g juga lawan politik Masyumi di parlemen ketika itu.

Di parlemen kala itu selalu terjadi perbedaan pandangan  politik  yang keras antara Masyumi, PNI dan Parkindo. Syarifuddin Prawiranegara, Leimina dan Subandrio juga sama-sama anggota Kabinet Presiden Sukarno. Syarifuddin Prawiranegara menjabat sebagai Gubernur BI pertama, sedangkan Leimina dan Subandrio adalah Wakil Perdana Menteri.

Namun sekeras apapun pertentangan mereka di panggung politik, di luar panggung politik mereka dalah sahabat sejati. Beberapa catatan sejarah menyebutkan, anggota parlemen ketika itu hanya beberapa orang saja yang memilki mobil. Selebihnya naik angkot atau motor ketika setiap pagi dating bekerja ke gedung parlemen.

IJ Kasimo politisi militan Kristen dari Fraksi Parkindo  termasuk salah seorang anggota parlemen yang memiliki mobil ketika itu. Sedangkan Muhammad Natsir dan Muhammad Room (Masyumi) tidak memiliki alat transportasi apapun. Beliau ini saat hendak ke gedung parelemen sering naik angkot bahkan kadang jalan kaki.

Suatu hari Natsir --- yang pernah menjadi Perdana Menteri --- yang terkenal dengan Mosi Integralnya mempersatukan kembali NKRI setelah pernah menjadi Negara-negara bagian itu sedang menunggu angkot. Tiba-tiba IJ Kasimo lewat dengan mobilnya, lalu dia mengajak Natsir naik mobilnya dan mengantar Natsir sampai ke rumah.

Dalam buku Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo  yang ditulis JB Sudarmanto dicatat  betapa anak-anak dan isteri Syarifuddin Prawiranegara merasakan betul besarnya rasa kemanusiaan Sukarno dan orang-orang di sekitarnya saat  Syarifuddin Prawiranegara  ditahan karena terlibat dalam PRRI/Permesta. Padahal Syarifuddin Prawiranegara adalah musuh politik Sukarno.

Dalam buku itu diceritakan bahwa pada awal-awal kemerdekaan persahabatan di atas segalanya. “Politik memang boleh beda. Tapi, anak-istri nggak boleh terlantar,”  demikian dikisahkan dalam buku tersebut.

Ketika Sjafruddin ditahan akibat terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), hidup anak-istrinya memang seketika jadi susah. Rumah mereka diambil paksa, isteri dan anak-anak Syarifuddin hidup tercerai-berai. Ada yang menumpang pada saudara atau ditampung pengurus  Masyumi yang mampu lainnya.

Lily , isteri Syarifuddin Prawiranegara, membiayai hidup anak-anaknya dari pemberian sahabat-sahabat Sjafruddin dan segelintir orang yang bersimpati. Banyak orang takut mendekati keluarga Sjafruddin semasa dia ditahan. Akibat ketakutan itu antara lain, anak-anak Syarifuddin Prawiranegara kesulitan mendapatkan sekolah ketika hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Sekolah Muhammadiyah  -- yang notabene dekat dengan Masyumi, partai tempat Sjafruddin berkancah–  didatangi Lily bahkan tak berani menjamin bisa menerima anbak-anak Syarifuddin Prawiranegara.

Persoalan itu baru bisa dipecahkan oleh persahabatan Sjafruddin dan IJ Kasimo, tokoh Partai Katolik. Setelah mendapat surat Sjafruddin yang diantar langsung oleh Farid Prawiranegara, salah seorang anak Syarifuddin Prawiranegara,  Kasimo langsung memberi saran dan surat pengantar.

 “Kamu datang saja ke Kanisius, pasti diterima,” kata Kasimo sebagaimana disitir JB Sudarmanto dalam Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo. Berbekal surat itulah Farid akhirnya bisa melanjutkan sekolah di SMP Pangudi Luhur yang terletak di Jalan Brawijaya, tak jauh dari rumah Sjafruddin.

Kesulitan keluarga Sjafruddin berubah begitu dua putrinya, Salvyah dan Aisyah, mengadu kepada Waperdam Leimena dan Waperdam Soebandrio di kantor Leimena. Kedua waperdam kaget begitu mendengar kesulitan hidup keluarga Sjafruddin pasca-penahanan sang kepala keluarga. Soebandrio langsung menelepon Jusuf Muda Dalam, orang Aceh yang menjadi Gubernur Bank Indonesia ketika itu, agar yang menyita rumah Sjafruddin, segera mengembalikan rumah itu.

Oleh Jusuf, perintah Seobandrio langsung ditindaklanjuti dengan merapikan rumah itu terlebih dulu. Saat isteri dan anak-anak Syarifuddin Prawiranegara masuk rumah sudah dicat semua dan lengkap dengan peralatannya.

Leimena dan Soebandrio juga mengatakan kepada dua putri Sjafruddin agar datang ke rumah Leimena di Jalan Teuku Umar saban bulan untuk mengambil sembilan bahan pokok. “Ini kontribusi kita untuk bapakmu. Kita kan sama bapakmu berteman sebetulnya,” kata Leimena.

Sejak itu, keluarga Sjafruddin kelebihan bahan keperluan sehari-hari. Setiap bulan, Lily membagikan kelebihan barang-barang itu kepada keluarga tahanan politik lain macam M. Natsir dan Burhanuddin Harahap.

Meski dirahasiakan, kabar bantuan Leimena-Soebandrio itu sampai juga ke telinga Presiden Sukarno. Sambil mengutarakannya ke pengusaha Dasaad saat sarapan di Istana, Sukarno mengatakan keprihatinannya mengetahui Lily harus menggunakan bis kota untuk bepergian semenjak Sjafruddin ditahan.

“Itu Leimena sama Bandrio kasih sembilan bahan pokok sama duit. Kita kasih dua mobil ya! Anda kan dapat keagenan Mazda kotak, tolong kasih dua mobil sama Lily,” kata Sukarno  kepada Dasaad,
Beberapa hari kemudian, Dasaad mengontak  keluarga Syarifuddin Prawiranegaradan menyerahkan dua mobil seperti perintah Sukarno.

oo0oo

Kisah di atas hanya bagian dari cupilan kisah cara berpolitik para politisi kita masa lalu. Bagi mereka pertemanan  di atas segalanya sekalipun berbeda jalur politik. Kini sangat jarang kita temui para politisi yang tetap menjalin silaturrahmi dan pertemanan ketika pilihan politik berbeda.
Dunia memang telah berubah, ka bak ujong, ka toe kiamat. []


Kita sepakat bahwa prostitusi online — sebagaimana diberitakan sejumlah media — yang terjadi beberapa tempat di Aceh  merupakan sebuah peristiwa yang sangat mengganggu sosiokultural kita. Kita prihatin, kecewa dan sangat menyesalkan peristiwa bejat  itu terjadi di negeri ini bahkan dilakukan sendiri oleh ahli waris negeri mulia  ini.

Di tengah dunia peradaban yang sangat terbuka seperti dewasa ini plus kemajuan teknologi informasi yang mampu melakukan penetrasi dan menyuplai  berbagai budaya asing  hatta ke kamar kamar tidur di rumah kita, maka di tengah situasi seperti, kita dibuatnya kalangkabut dalam menjaga dan mengawal moralitas privat dan publik kita.

Maka dari itu, sangat wajar kita terkejut dan kecewa ketika media membuka kepada kita peristiwa amoral itu.

Kejadian prostitusi online ini tentu telah mereduksi fondasi kesakralan pernikahan dan institusi keluarga di Aceh. Yang harus kita lakukan adalah amal jama,i  atau gerakan kolektif kolegial menyelamatkan keadaan.Tindakan apa yang harus kita lakukan dalam rangka pennaganan psikologi dan alternatif jalan keluar bagi mereka mereka yang telah terjerat kejadian ini, sekaligus langkah antisipasi apa saja yang dapat dan mungkin kita lakukan untuk mengantisipasi agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi di Bumi Serambi Mekkah.

Sebagai orang Aceh yang di negerinya terjadi peristiwa memilukan ini, seharusnya sikap  yang selayaknya ditampilkan adalah kesedihan, keprihatinan, kemarahan serta diksi dan narasi yang solutif terhadap persoalan ini.


Bukan justru sebaliknya, mengolok-ngolok dan menjadi bahan tertawaan. Olok-olok dan tertawaan terkait prostitusi online tersebut justru bukan menyelesaikan masalah tetapi justru memunculkan masalah baru yang sangat serius, yaitu merusak dan menghancurkan properti peradaban Aceh lainnya.

Menghina Apam

Salah satu properti peradaban Aceh yang tanpa sengaja dihina dan dirusak ketika mengolok prostitusi online dan pelakunya adalah salah satu makanan “sakral” orang Aceh, yaitu Apam.

Tahukah Anda bagaimana kedudukan kuliner Apam dalam peradaban orang Aceh?.

Sepanjang saya ketahui khanduri Apam dalam tradisi Aceh termasuk ritual yang masih dijunjung tinggi di tengah tengah masyarakat kita terutama di kampung-kampung.

Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.

Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok.

Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on ‘ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng).


Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat (sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut Apam Leu’eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.

Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam (bulan Rajab) sebulan penuh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (di lhok ngon u).

Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat, seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar, boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu, disamping memohon rahmat bagi orang yang telah meninggal tersebut, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat Jum’at.

Nah dari cerita yang menjadi fakta di tengah tengah masyarakat Aceh tersebut di atas, maka sesungguhnya nilai Apam dalam tradisi kearifan budaya Aceh cenderung “sakral” dan jauh beberapa level di atas lontong atau KFC —  kuliner yang datang belakangan ke Aceh.

Jadi ketika sementara kita mengolok pelaku prostitusi online dengan diksi Apam, maka sesungguhnya kita telah menghina kuliner Apam, yang oleh indatu kita dalam kondisi ekonomi sulit sekalipun tetap memuliakan kuliner Apam.

Apam adalah kuliner Aceh yang halalanthayyiban, sedangkan prostitusi online adalah perbuatan hina dan haram. Menyamakan prostitisi dengan Apam adalah tindakan menghalalkan yang haram dan sebaliknya. Yang lebih fatal lagi, orang orang Aceh yang suka menyebut perempuan pelaku prostitusi itu dengan sebutan  Apam adalah orang Aceh  yang dengan sadar menghina diri sendiri, menghina indatu, yang juga melecehkan kuliner sendiri.

Anda bercanda, tapi menghina diri sendiri. Sehatkah Anda?. Janganlah menembak Kapal musuh tapi yang jatuh kapal sendiri.

Melihat dan membaca dinamika issu prostitusi online di medsos, di mana diksi Apam digunakan sementara warga net untuk menginisiali pelaku prostitusi online, maka tindakan itu adalah tindakan tak sadar diri. Hana tusoe droe. Ikut ikutan, lagee leumoe kap situek.

Berhentilah mengolok diri sendiri, jauhilah sikap dan tindakan menghina tradisi indatu. Ingat, suatu masa nanti, tanpa tradisi yang orisinil Aceh yang pernah menjadi sebuah bangsa akan jadi mitos. Ditolak sebagai sejarah. Nyan ban!. []



Secara histories jatuh dan bangun atau muncul dan bubarnya suatu negara di wilayah Asia Tenggara dan Busantara ini bukanlah sesuatu yang baru - melainkan sebagai sebuah peristiwa yang kerap terjadi. Pemerintah Penjajahan Belanda pernah mengalaminya.

Penjajah pertama wilayah Nusantara (kini Indonesia) dari Belanda adalah VOC. VOC ini bubar karena korupsi yang dilakukan oleh elitenya (dewan 17) bukan oleh pegawai atau punggawanya. Begitu VOC bubar, lalu berdirilah Pemerintahan Hindia Belanda yang menjajah Indonesia hingga tahun 1942.

Setelah pemerintahan atau negara Hindia Belanda bubar ditaklukan oleh Jepang. Dan, berdirilah Pemerintahan Dai Nippon Asia Raya yang menguasai Indonesia. Tahun 1945, memanfaatkan situasi yang menguntungkan dari Perang Dunia ke-II, melanjutkan sebuah proses diskursus yang muncul sejak awal 1900-an serta hasil rapat BPUPK tertanggal 28 Mei - 1 juni 1945, tepatnya tanggal 17 agustus 1945 di Proklamirkanlah Kemerdekaan Indonesia.

Sukarno ditangkap dan dibuang ke Sumatra pada agresi Belanda kedua. Belanda menyebut eksistensi negara Indobesia bubar ketika ibu kota negara dikuasai dan pemimpin negara ditangkap.

Ketika Kemerdekaan Indonesia diproklamirkan, belum jelas batas wilayahnya - sebab berbagai kerajaan (negara) Islam masih ada walau dengan kekuasaan yang terbatas. Belanda yang menjadi bagian dari sekutu, pemenang Perang dunia ke-II, tak rela atas kemerdekaan Indonesia - lalu meminta bantuan sekutu untuk bisa menguasai kembali Indonesia menjadi wilayah jajahannya. Lalu terjadilah agresi Belanda pertama dan kedua.

Pada era yang disebut era perang kemerdekaan itu, lahirlah negara federasi, dimana Indonesia menjadi salah satu negara dari negara federasi tersebut - yang disebut dengan RIS (Republik Indonesia Serikat) yang melahirkan dua Presiden, yakni: Sikarno sebagai Presiden RIS, dan Mr Asat sebagai Presiden Indonesia.

Pergolakan perdebatan yang berlarut-larut itu kemudian dijawab dengan cerdas oleh Muhammad Natsir (Partai Masyumi) dengan mengajukan apa yang dikenal dengan nama: MOSI INTEGRAL. Berdasarkan Catatan Sejarah ini, maka yang membentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia adalah Muhammad Natsir - bukan Sukarno.


Sukarno bersama M Natsir. Di Kabinet dengan Perdana Menteri M Natsir inilah terbentiknya Mosi Integral.

Dan itu adalah Keputusan Politik Parlemen Indonesia ketika itu. Dengan mosi integral M Natsir (Masyumi) yang diterima parlemen maka RIS bubar dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri.

Fakta ini menjelaskan, tentang jatuh bangun atau bangkit berdiri dan bubarnya negara telah berkali-kali terjadi di Indonesia. Namun spiritnya sama: ingin membebaskan kaum pribumi dari cengkraman pendatang asing Eropah mau pun pendatang asal Cina.

Lalu setelah M. Natsir (Masyumi) berhasil melalui parlemen dalam mendirikan NKRI, lalu dibentuklah Badan Konstituante untuk menyusun UUD Indonesia. Menurut pakar hukum Dr. Adnan Buyung Nasution dalam disertasinya yag kemudian dibukukan berjudul Aspirasi Pemerintahan Konstitusional di Indonesia, Studi Sosio-legal atas konstituante 1956-1959”, badan ini sebenarnya hampir menyelesaikan tugasnya menyusun UUD Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun tulis Buyung Nasution, kerja Badan Konsituante  tak tercapai atau bisa diselesaikan karena Sukarno selaku presiden ketika itu mengeluarkan Dekrit kembali ke UUD 45, Selain itu Sukarno juga mengeluarkan Doktrin Manipol Usdek dan Nasakom serta membubarkan parlemen hasil pemilu tahun 1955. Dia kemudian mendirikan DPRGR/S yang sangat politis sampai Sukarno jatuh pada tahun 1965.

Nah, setidaknya dari sejarah itu kita mengenal Indonesia dengan bentuk negara berbagai rasa. Yang pasti negara jatuh bangun, eksis dan bubar, bukan sesuatu yang fiksi atau khayalan. Sebab, dalam sejarah Indonesia pun sudah sering kita alami..?

Kesultanan Ternate.

Ingat ya dahulu ada Mataram Hindu, Sriwijaya, Majapahit, Samudera Pasai, Demak, Pajang dan Mataram Islam. Semua bubar. Mataram terbelah jadi dua negara, Surakarta dan Jogjakarta (tinggal yang masih eksis). Masing-masing juga kemudian pecah dua. Hindia Belanda pada tahun 1942 pun bubar. Kesultanan (Melayu Siak Indrapura, Melayu Deli, Pontianak, Banten, Cirebon,  Bugis, Ternate. Tidore, dll) juga tinggal kenangan. Jadi ini pengalaman nyata yang pernah dialami leluhur kita!


Kraton Kesultanan Kadriah Pontianak. Salah satu rajanya adalah Sultan Hamid II pencipta lambang garuda pancasila.

                                                                    *****

Memang sebelum sebuah negara bubar, dikenal eksis terlebuh dahulu dalam sebutan status sebagai  'negara gagal.  Bahkan itu ada istilah keren berbau Inggris 'Lameduck Nation' (negara bebek lumpuh). Istilah  "bebek lumpuh" berasal sebagai deskripsi pialang saham pada 1700-an di Inggris yang tidak bisa melunasi utang mereka. Nama itu kemudian dibawa ke orang-orang dalam bisnis yang, ketika diketahui bangkrut, akan terus melakukan bisnis.

Yang paling ngeri bila istilah apa yang disebut Denny JA terjadi.  Dia sudah mendalami lebih jauh macam apa prasyarat negara gagal atau 'Failed Statei itu, dan bagaimapula ia bisa diukur secara kuantitatif dalam Fragile State Index.

Failed State, negara gagal, atau dengan tanda kutip kita sebut negara yang mungkin "musnah," adalah kondisi ketika kemampuan pemerintah untuk mengelola kompleksitas negara berada pada titik rendah. Menurunnya wibawa pemerintah nasional mengancam keberlangsungan negara yang berdaulat. Meluas ketidak nyamanan warga.

Beberapa indikator dapat dikenali. Menurut Denny, terjadinya penurunan kesejahteraan masyarakat yang signifikan, atau yang disebut economic collapse. Di samping bertambahnya kemiskinan, juga di sana sini terjadi kerusuhan akibat kondisi ekonomi.

Akankah negeri tercinta ini mengalaminya?. []




Dalam berbagai momentum kehidupan kita, pemantik gairah yang memunculkan selera selalu dibutuhkan. Kehidupan tanpa gairah sesusungguhnya adalah kefanaan.

Sekalipun kita butuh makan untuk hidup dan beribadah, tapi karena telah menjadi rutinitas, kadang karena menu yang tidak fariatif menyebabkan selera makan kita mengalami defisit.

Soal menu pemantik selera makan kadang tidak perlu yang mewah dan tempat yang wah. Menu sederhana dan di tempat yang sederhana kadang juga mampu membangkitkan gairah makan kita.
Siang ini saya makan siang dengan menu sederhana, tapi nikmatnya seperti hidangan siang pertama di rumah mertua.

Ya, hanya Boh Manok U Dadar plus Kuah Suree Asam Keueung . Tempatnya pun sederhana: Di tepi sungai dekat tapal batas Banda Aceh.

Ya, kenikmatan dan kegairahan itu kadang di tempat sederhana dengan hal yang sederhana pula. []



DUA ulama tersohor, baru saja hadir di nanggroe kita, Aceh. Pertama, Ustaz Abdul Somad Lc MA (UAS), seorang ahli hadis jebolan Universitas Al-Azhar Mesir dan Daarul Hadits Marokko. Ulama kelahiran Riau ini pertama ke Aceh akhir 2017 lalu, memenuhi undangan Pemerintah Aceh untuk menyampaikan tausiah Peringatan 12 tahun tsunami. Dan, Senin (12/3/2018) kemarin, ia kembali menginjakkan kakinya di Serambi Mekkah ini memenuhi undangan masyarakat Aceh.

Kedua, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr Zainul Majdi MA. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), sosok TGB ini bukan “manusia biasa”. Paling tidak beliau memiliki modal sosial politik spesifik yang melekat pada dirinya. TGB adalah pemilik “darah biru” Nahdhatul Wathan. Sebuah ormas besar, terkenal dan berpengaruh di NTB. Orang tua TGB dan keluarga besarnya adalah elite dan pendiri organisasi massa ini. Posisi sosial politiknya di Nahdhatul Wathan dan NTB sama seperti posisi sosial politik dan “darah biru” Gus Dur di NU dan Jawa Timur.

TGB juga seorang ulama muda yang brillian. Tidak hanya alim dan faqih, bukan hanya hafidz 30 juz dan ahli tafsir lulusan Al-Azhar Kairo, ia juga seorang orator, serta memiliki talenta sebagai organisator yang paripurna dan sukses. Dua potensi ini semakin sempurna ketika dia menjabat gubernur dua periode yang sukses di NTB. Maka wajar saja jelang Pilpres 2019 ada banyak pihak yang menaruh harapan; semoga TGB dapat bermetamorfosis dalam dinamika politik Pilpres 2019 menjadi tokoh bangsa dan negarawan ke depan.

Disambut positif

Kunjungan ulama luar Aceh untuk berceramah di Aceh bukanlah pertama kali dilakukan oleh UAS dan TGB. Sebelumnya telah banyak ulama luar Aceh yang diundang menyampaikan tausiah di sini. Misalnya, seperti yang dulu rutin dilakukan oleh “Sulthanah” Illiza Sa’aduddin Djamal saat beliau memimpin Bandar Aceh Darussalam. Tapi yang membedakan kunjungan ulama luar untuk mengisi ceramah di forum dakwah Jumatan yang rutin digelar di Bustanushshalatin (Taman Sari) Banda Aceh kala itu dengan kunjungan UAS dan TGB adalah reaksi publik, terutama melalui media sosial.

Ketika dulu Walikota Banda Aceh menghadirkan sejumlah ulama luar Aceh sebagai penceramah di Banda Aceh, reaksi publik cenderung negatif. Bahkan sejumlah pihak kala itu menyerang kebijakan Bunda Illiza sebagai tindakan kurang menghargai ulama-ulama yang ada di Aceh. Padahal saya sangat yakin iktikad Illiza ketika itu sama sekali tidak demikian, yang dilakukan Illiza lebih kepada sebuah inovasi menghadirkan selingan untuk meminimalisir kemungkinan rasa jenuh jamah dakwah yang dilaksanakan setiap pagi Jumat tersebut.

Reaksi seperti di atas tidak terjadi saat kehadiran UAS dan TGB di Aceh. Sikap publik di Aceh sangat mendukung kehadiran TGB dan UAS serta kehadirannya justru disambut dengan antusias. Ini dapat dibuktikan dengan tingkat kehadiran masyarakat mengikuti ceramah secara langsung di lapangan, antusiasme sebagian besar masyarakat menonton lewat live medsos karena tidak bisa hadir atau tempat acara telah sesak penuh oleh pengunjung, serta tidak ada sama sekali sentimen negatif terhadap kedua ulama tersebut dari netizen Aceh di dunia maya.

Bagi saya, kehadiran TGB dan UAS ke Aceh beberapa waktu lalu itu dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi TGB dan UAS sendiri. Kehadiran mereka di Aceh telah memantik inspirasi masyarakat Aceh terkait kerinduan mereka akan hadirnya ulama sebagai tokoh sentral di Aceh sebagaimana halnya TGB di NTB. Kalau TGB bisa muncul di NTB, apa sulitnya memunculkan sosok dan peran serupa di Aceh. Di NTB banyak pesantren, di Aceh juga tidak kurang dayah.
Kemudian, kalau ceramah dan pesan moral UAS dapat viral secara nasional, mengapa ceramah ulama Aceh tidak kita terkonsolidasikan menjadi demikian. TGB dan UAS sangat berpotensi menjadi magnit pemersatu umat, maka dengan konsolidasi yang baik ulama Aceh pun sebenarnya dapat lebih dari itu. Barangkali ini yang selalu terngiang-ngiang saat masyarakat Aceh berjumpa TGB dan UAS dan sampai saat TGB dan UAS telah meninggalkan Aceh.

TGB dan UAS menjadi tokoh di daerahnya masing-masing kemudian diterima menjadi tokoh umat di tingkat nasional, bahkan selanjutnya menjadi sosok yang dipertimbangkan dalam berbagai kebijakan yang akan dibuat pemerintah, bukanlah lahir dan hadir begitu saja tanpa ada agenda setting.
Agenda setting yang saya maksudkan adalah kesadaran setiap elemen umat di Aceh untuk bekerja kolektif kolegial mempersiapkan kelahiran dan kehadiran tokoh ulama yang dapat diterima semua pihak di Aceh. Tokoh ulama ulama yang bukan hanya fakih dan saleh serta hebat kepemimpinannya, tetapi juga mampu melayani dan mengayomi umat. Prototype ulama yang demikian tidak akan hadir di tengah-tengah masyarakat Aceh, bila kita tidak mempersiapkan prakondisi dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Ide memunculkan ulama sebagai tokoh pemimpin sosial politik Aceh --sebagaimana halnya TGB di NTB-- merupakan satu inspirasi yang muncul di balik kedatangan dan interaksi UAS dan TGB dengan masyarakat Aceh. Proitotype UAS dan TGB bukanlah “material” yang sulit dicari di Aceh. Jadi tidak benar dugaan bahwa antusiasme masyarakat Aceh kepada TGB dan UAS dikarenakan tidak adanya sosok seperti TGB dan UAS di Aceh.

Banyak tokoh ulama di Aceh yang bahkan melebihi kaliber TGB dan UAS, cuma semua itu seperti barang terpendam karena lemahnya ikhtiar bersama kita melakukan konsolidasi dan promosi untuk mengantar para ulama kita ke panggung pemimpin puncak sosial politik di Aceh.



Di Aceh tidak kurang ulama-ulama muda cerdas, intelek, ganteng dan orator yang merupakan lulusan dari berbagai dayah yang sangat mungkin “diagenda-setting-kan” menjadi “TGB” dan “UAS” versi Aceh. Karena konsolidasi dan promosi kita lemah, maka potensi yang ada itu menjadi seperti ibarat uranium dalam perut bumi yang dikuasi orang-orang awam; Barang berharga, tapi tidak dapat didayagunakan. Tidak lebih seperti pepatah tetua Aceh, meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya.

Kedua, dari sisi masyarakat Aceh. Kerinduan masyarakat Aceh akan hadirnya ulama sebagai tukoh sentral di Aceh sebagaimana halnya TGB di NTB selayaknya mendorong kita di Aceh --utamanya yang berkompeten-- agar segera melakukan konsolidasi umat dan ulama. Ulama dan umat di Aceh adalah dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Sinergi keduanya akan melahirkan kekuatan yang signifikan dan dahsyat.

Saya yakin ulama-ulama muda Aceh sekaliber Ayah Sop Jeunib, Lem Faisal Sibreh, Ayah Muntasir Batee Iliek, Abiya Kutakrueng, dan Waled Rusli Lam Jamee (sekadar menyebut beberapa nama) dan banyak ulama muda Aceh lainnya, setelah melihat fenomena kehadiran dan sambutan UAS dan TGB tentunya tahu persis apa yang harus dilakukan, terkait agenda setting konsolidasi umat dan ulama di Aceh, guna menghadirkan peran ulama yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di nanggroe teuleubeh ateuh rueng donya ini.

Menjawab rindu

Saya yakin, saat Ayah Sop Jeunib, Lem Faisal Sibreh, Ayah Muntasir Batee Iliek, Abiya Kutakrueng, Waled Rusli Lam Jamee dan banyak ulama muda lainnya membaca tulisan ini akan sedikit tersenyum manis sambil berucap ringan, “Apa mungkin semua itu dikerjakan?”. Saya akan menjawab gamblang, “harus dan mungkin!”

Harus, karena ini adalah tanggung jawab moral kita semua untuk menjawab kerinduan umat. Umat Islam Aceh telah lama rindu --dan puncak kerinduan mereka membuncah saat kedatangan UAS dan TGB-- akan hadirnya sebuah kondisi, di mana potensi umat dan ulama Aceh terkonsolidasi dengan baik. Kemudian, dengan soliditas sosial politik tersebut, di Aceh akan hadir bukan hanya satu, tapi puluhan ulama yang prototipenya bahkan melebihi UAS dan TGB.

Mengapa saya menyebutkan nama-nama ulama muda Aceh untuk menjawab kerinduan umat di atas? Ya, karena kerja berat, keras dan penuh tantangan ini memang harus dilakukan oleh yang muda-muda. Para alim ulama kita semisal Abu Tu Blangblahdeh, Abu Mudi, Abu Kuta, Waled NU, Abu Balah Keutapang, dan sejumlah nama ulama senior Aceh lainnya tinggal diminta arahan, petunjuk dan keberkahan. Di mana pun di dunia ini perubahan dan perbaikan selalu digerakkan kaum muda dengan restu dan dukungan orang tua.

Saya yakin Tu Sop, Lem Faisal dan kawan-kawan punya semangat dan talenta untuk pekerjaan besar dan amal salih ini. Di Aceh teupong leubeh, pakon kueh han jeut tapeugot? Bismillah, mari kita mulai!

* Tulisan ini telah di publiklasikan di Harian Serambi Indonesia, 16 Maret 2013






IBARAT manusia, Partai Persatuan Pembanguan (PPP) sedang “sakit”. Dualisme kepengurusan adalah satu penyakit yang sedang hinggap di tubuh PPP akhir-akhir ini. Sebernarnya penyakit ini bukanlah penyakit kronis yang mematikan, karena Partai Golkar juga pernah terjangkit penyakit serupa.

Yang membedakan PPP dengan Partai Golkar adalah kemampuan mendiagnosa dan tindakan medis yang cepat dan akurat. Partai Golkar kemudian berhasil sembuh dari penyakit yang dideritanya, sedangkan PPP terus dalam kondisi sakit yang mungkin disebabkan diagnosa medis keliru dan salah jeb ubat. Salah minum obat menyebabkan penyakit tidak sembuh bahkan tambah parah.

Sebenarnya ketika muncul dualisme kepengurusan PPP --kubu Romahurmuzy dan Djan Farid-- masyarakat yang selama ini menggantung harapan politik pada PPP masih belum putus asa. Masyarakat masih yakin bahwa dualisme itu hanya bersifat temporer dan merupakan dinamika demokrasi internal PPP yang dalam waktu tidak terlalu lama akan ada jalan keluar. Lebih-lebih lagi sekalipun dualisme, kedua kubu tersebut memiliki ideologi yang sama dan selalu dalam bimbingan para alim ulama.

Bahkan, ketika PPP Kubu Djan Farid mendukung Ahok --pemimpin nonmuslim-- sebagai Calon Gubernur (Cagub) DKI Jakarta, di mana tindakan tersebut merupakan kejadian di luar mainstream sejarah, politik dan ideologi PPP, konstituen PPP justru belum terlalu kecewa. Saat itu konstituen PPP masih berpikir sederhana, “Biarlah PPP Djan Farid mendukung pemimpin kafir, kan masih ada PPP Romy yang setia bersama umat menolak pemimpin nonmuslim.”

Tetapi ketika di kemudian waktu, PPP Romy juga ikut-ikutan mendukung Ahok-Djarot, maka pupuslah sudah harapan dan segenap kebanggaan sebagian umat yang selama ini mereka tautkan pada PPP dari masa ke masa. Meminjam adagium orang Aceh, apa yang dilakukan PPP tersebut tidak lebih ibarat publoe kameng bloe eungkong.

Aceh adalah satu basis kultural dan sejarah PPP, sekalipun PPP di Aceh dari waktu ke waktu semakin kurang popular. Pun demikian, jika PPP tidak memilih aksi bunuh diri dengan mendukung Ahok-Djarot, maka PPP di Aceh --yang karena hubungan sejarah dan kultural-- insya Allah tetap memiliki tempat istimewa di hati rakyat Aceh dan sangat terbuka peluang untuk move on.

Tetapi ketika PPP menganggap opsi mendukung pemimpin kafir lebih baik dan spesial, maka rakyat Aceh menjadi sangat terkejut bahkan lebih terkejut dari mendengar bunyi halilintar di siang bolong. Mereka seperti tiba-tiba menjadi sadar ternyata issu-issu keagamaan yang selama ini didengungkan PPP hanyalah trade mark alias merek dagang semata. Tidak berbeda dengan modus Perindo mendukung Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta.

Pilihan sulit?

Banyak yang menduga perubahan sikap mendadak PPP Romy mendukung pasangan Ahok-Djarot merupakan pilihan yang sulit. Sebagaimana diketahui legalitas formil PPP Romy-Djan Farid sangatlah ditentukan oleh pengakuan pemerintah melalui Kemenkumham. Selama ini pemerintah hanya mengakui keabsahan PPP Romy. Legalitas ini dapat saja berubah sesuai dinamika politik yang ada.

Sedangkan di saat bersamaan, PPP Djan Farid terus melakukan manuver “cantik”. Djan Farid merasa, melihat bahkan membaca ada semacam “kecenderungan” hati pemerintah kepada pasangan Ahok-Djarot yang didukung oleh sejumlah partai koalisi pemerintah, yang mana bila momentum ini dimanfaatkannya dengan baik, maka akan ada peluang pergeseran legalitas pemerintah dari PPP Romy ke PPP Djan Farid.

Dari beberapa sumber media, disebutkan bahwa sejumlah partai besar pendukung Ahok-Djarot yang juga partai koalisi pemerintahan Jokowi-JK, bahkan telah beberapa kali melakukan pertemuan dalam rangka mencari solusi untuk mengalihkan stempel legalitas pemerintah dari PPP Romy ke PPP Djan Farid. Dan sepertinya Pemerintah Jokowi-JK juga telah menyampaikan pesan verbal akan ada dinamika politik semacam ini kepada PPP Romy.

Bila benar demikian maka posisi PPP Romy sangat dilematis. Di satu sisi PPP Romy ingin tetap menjaga suasana batiniah konstituennya yang sangat sensitif dengan issu pemimpin nonmuslim. Sedangkan di sisi lain di saat bersamaan PPP Romy sangat membutuhkan pengakuan dan legalitas formil dari pemerintahan Jokowi-JK untuk dapat eksis. Memang PPP menghadapi pilihan sulit, seperti sama sulitnya umat untuk memahami keputusan politik PPP itu.





Tapi terlepas dari situasi dilematis yang demikian, tindakan PPP mendukung Ahok-Jarot adalah tindakan menggali kubur sendiri. PPP telah melakukan tindakan bunuh diri yang patut disesalkan.

Sejarah parpol Islam di Indonesia juga akan mencatat dengan baik bahwa salah satu prestasi luar bisa PPP --baik kubu Romy maupun Djan Farid-- adalah menghancurkan PPP setelah dengan susah payah dibangun oleh para alim ulama dan pemimpin umat tempo doeloe.

Kehilangan kendali
 
Dengan keputusan politik mendukung Ahok-Djarot, maka dengan kesadaran penuh PPP dengan tangannya sendiri telah melakukan pemutusan mata rantai sejarah, ideologi juga tradisi dengan masa lalu PPP. Dengan tindakan tersebut, di mata umat PPP telah kehilangan argumentasi sejarah yang selama ini menjadi pertimbangan umat mendukung PPP. PPP juga telah kehilangan kendali untuk mengelola emosi ideologis dan batiniah umat agar tetap mendukung PPP sebagai rumah besar umat Islam yang berlambangkan Kakbah.

Dengan kondisi seperti ini PPP dapat saja segera menjadi fosil sejarah. Ke depan tokoh-tokoh PPP akan kehilangan kata-kata untuk meyakinkan umat bahwa PPP adalah partai yang layak dipercaya untuk memperjuangkan aspirasi mereka. Bukan tidak mungkin juga setelah keputusan politik seperti ini, aka ada pihak-pihak dari kalangan umat yang akan meminta agar PPP perlu segera mempertimbangkan kembali layak tidaknya partai ini memakai gambar Kakbah sebagai lambang partai. Mungkin sangat banyak lambang lainnya yang cocok untuk kondisi PPP hari ini, tanpa harus membawa-bawa Kakbah sebagai kiblat beribadah umat Islam.

Tulisan ini sengaja saya tulis sebagai empati saya kepada PPP. Dalam perjalanan hidup saya, saya punya hubungan emosional dan romantisme dengan PPP. Dulu ketika saya kecil di pedalaman Aceh Utara, ayah saya yang sehari-hari sebagai petani, guru ngaji dan tokoh agama di sana adalah pendukung utama dan “provokator” yang selalu bekerja tanpa pamrih memenangkan PPP dalam setiap pemilu. Ketika itu, menjadi pendukung PPP di era Orba bukanlah perkara mudah, bahkan ayah saya pernah beberapa kali nginap di kantor Koramil karena mendukung PPP. Maka ketika 26 tahun lalu saya meninggalkan kampung halaman, saya tetap menghormati dan mengenang orang tua saya dengan cara terus dan konsisten berempati kepada PPP.

Di masa SMA dulu saya begitu suka membaca novel karya AA Navis yang berjudul Robohnya Surau Kami. Hari ini, di usia saya yang semakin menua, saya sedih membaca magnum opus Romy-Djan Farid dengan judul yang bombastis dan spektakuler, Robohnya Kakbah Kami.[].

(Dipublikasikan Serambi Indonesia, Rabu, 5/4/2017)

Berbeda dengan anda,  saya termasuk laki-laki yang sangat mudah luluh dengan air mata. Benteng pertahanan saya langsung ambruk bila harus bernegoisasi dengan pihak yang berlinangan air mata. Di banyak peristiwa air mata mampu mengalahkan ketegaran saya.Itu dulu.

Menyadari kelemahan psykologis ini, setiap saat saya terus melakukan up date  diri diantaranya dengan banyak-banyak membaca buku bertemakan air mata. Buku-buku tersebut telah berhasil menginspirasi saya mengelola air mata, termasuk tidak lagi terpancing ikut menangis kala melihat orang menangis. Yang lebih menguatkan saya lagi adalah tindakan anak saya yang masih SD yang mengatakan saya cemen saat dia melihat air mata saya meleleh pada sebuah momentum yang sebenarnya biasa-biasa saja.

Sekarang saya sudah relatif kuat, minimal tidak mudah menangis. Termasuk kemarin, Selasa, 13/12, saat menyaksikan Ahok menangis di depan majelis hakim yang menyidangkan kasus penistaan agama yang melibatkannya di Jakarta,  saya tidak ikut-ikutan menangis. Justru saya heran, kok Ahok menangis ?.

Bukankah beberapa waktu yang lalu Ahok pernah sesumbar, “Kalau KPK sampai mentersangkakan saya dengan alasan yang tidak jelas, berarti takdir saya juga melawan oknum KPK. Wah, lengkap lah, top banget, Republik ini saya lawan semua," ujarnya, (DetikNews, Selasa,24 Nov 2015).
Lihat betapa gagah beraninya Ahok, republik ini akan berani dilawannya. Sangat hebat kan?.

Bukankah Ahok juga yang menyebutkan ibu-ibu di Jakarta yang menangis karena tergusur seperti orang menangis dalam sinetron. Tetapi kemarin --- sekali lagi --- kok  Ahok sesunggukan?. Jadi, kemarin saya tidak menangis seperti beberpa pihak yang begitu terharu melihat Ahok menangis, saya justru heran.

Penangis Profesional

Ternyata tangisan itu tidak selalu bermakna sedih dan penyesalan. Kadang kala tangisan itu hanya kamuflase. Ada kontradiksi. Matanya terlihat seperti  berduka tapi hatinya sesungguhnya bergembira.

Tetapi tidak sedikit juga orang menangis itu benar-benar menangis karena sebuah penyesalan. Menyesal karena suatu peristiwa  tragis yang telah terlanjur dilakukan. Atau menyesal karena dosa dan maksiat yang sudah terlalu banyak dibuatnya. 

Tangisan dan deraian air mata  seperti di atas  sering dilakukan para sufi, salah satunya Rabi’atul  Adawiyah. Adawiyah menangis karena trauma dosa dan takut akan neraka. Sampai hari ini puisi “ilahi lasturi ...”   yang selalu dibacanya saat menangis  di tengah malam masih populer dan dibacakan banyak orang di dunia.

Nabi Yusuf  as juga menangis sampai buta matanya karena sedih kehilangan anaknya. Umar bin Khattab, Khalifah Rasulullah SAW kedua, yang terknal sangat tegas, kekar dan perkasa ternyata juga sangat mudah menangis sampai mengguguk-guguk  bila berdiri shalat menghadap Tuhan nya. Padahal dalam sebuah hadits sahih Bukhari Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa syaitan pun  tidak berani berpapasan dengan Umar bin Khattab. Tangisan semacam ini digambarkan Allah dalam firman Nya, “Dan mereka bersujud ambil menangis dan maka bertambahlah atas mereka perasaan khusyuk”, Surat Maryam: 58.

Di samping linangan air mata ikhlas seperti  di atas, banyak juga  “profesional” yang mampu menangis kapan saja diperlukan tanpa melibatkan hati dan batiniahnya. Di saat bersamaan yang bersangkutan mampu melakukan dua hal sekaligus: matanya berlinang  sedih sedangkan hatinya bergembira ria. Mata dan hatinya berada di frekwensi yang berbeda. Suasana psykologi yang seperti ini oleh tetua Aceh tempoe doloe diistilahkan sebagai kliek-kliek ureung meukawen khem-kem ureung (maaf) koh boh. Dia menangis tapi bukan karena sedih, begitu juga sebaliknya, dia tertawa tapi sama sekali tidak gembira.

Sepanjang saya amati paling tidak ada tiga pihak yang mampu melakukan acting  menangis secara profesional.

Pertama, para aktor pemain film.  Sesuai dengan tuntutan skenario mereka mampu memerankan berbagai karakter yang diperlukan. Termasuk menangis sesunggukan bila dibutuhkan. Sekalipun linangan air mata para aktor itu kita sadarai sebagai akting semata-mata, jauh dari mkebenaran, tapi banyak juga di antara kita yang ikut menangis saat menyaksikan film yang diperankannya itu.

Penangis profesional kedua adalah sejumlah politisi senior. Ada beberapa politisi senior yang saya kenal sangat ahli dalam berpidato. Teman saya sering menyelutuk, kalau politisi ini sedang berpidato semuanya terasa indah  ---- bahkan katanya ---  nasi dingin pun bisa berasap. Politisi model ini mampu menangis dengan baik dan sempurna kapan saja. Sambil pidato berapi-api dia mampu menangis terisak-isak dan baru berhenti setelah beberapa audien ikut menangis.

Ketiga, penangis profesional adalah seperti yang  saya dengar cerita dari beberapa pihak tentang kisah  orang Aceh yang tinggal dekat dengan komplek Pecinan. Menjadi kebiasaan beberapa waktu yang lalu, setiap ada orang Cina yang meninggal mereka akan datang melayat. Di rumah duka orang ini akan ikut menangis sesunggukan seakan-akan begitu berduka atas kematian tersebut. Ujungnya, setelah seluruh prosesi selesai para penangis profesional ini akan mendapat angpau ala kadarnya.
Ketiga model linangan air mata di atas atau yang sejenisnya oleh beberapa pihak disebut sebagai air mata buaya. 

Lha, ada hubungan apa orang yang menangis  dengan buaya?. Yang satu tinggal di darat sedangkan yang satu lagi tinggal di air. Kalau yang dimakud adalah budaya darat, maka itu tidak mungkin, karena buata darat hanya sebuah perempumaan.

Ternyata menurut Wikipedia, yang dimaksud dengan air mata buaya merupakan emosi palsu pada seorang munafik yang pura-pura bersedih dan mengeluarkan air mata palsu. Ekspresi ini berasal dari anekdot kuno, bahwa buaya menangis untuk menarik perhatian mangsanya, atau menangis untuk mangsa yang mereka terkam. Kisah ini pertama menyebar dalam cerita perjalanan Sir John Mandeville pada abad ke-14. Sir John Mandeville  adalah penulis dari The Travels of Sir John Mandeville, sebuah memoir perjalanan yang pertama kali diterbitkan antara 1357 dan 1371.

Dalam bukunya tersebut Sir John Mandeville menceritakan tentang seekor buaya yang berpura-pura tidak makan daging. Tapi suatu saat buaya tersebut ditemukan membunuh seorang laki-laki. Anehnya, buaya tampak  mengeluarkan air mata saat memakan laki-lakai tersebut. Bahkan Wiliiam Shakespeare juga menggunakan istilah air mata buaya  dalam naskah sandiwara Tragedi Othello pada tahun 1603.

Faktanya memang buaya nampak menangis ketika memakan mangsanya. Dikarenakan ketika buaya menelan tubuh mangsanya yang besar, buaya harus membuka mulutnya lebar-lebar dan saat itu kelenjar air matanya tertekan sehingga keluarlah air matanya. Atau dalam versi lain, buaya meneteskan air mata untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Khususnya setelah buaya memakan mangsanya, buaya akan meneteskan air mata. Tapi bukan karena penyesalan buaya tersebut, namun secara alami hal itu terjadi karena kelenjar air mata buaya akan mengeluarkan cairan untuk mengeluarkan kelebihan garam dari buaya. Akhirnya buaya terlihat seperti menangis, padahal buaya sebenarnya  sedang berbahagia karena bisa makan enak.

Jadi tangisan buaya bukanlah karena rasa bersalah atau penyesalan karena telah memakan mangsanya. Dengan  kata lain air mata buaya hanya simbol penyesalan palsu. Memang di beberpa tempat akhir-akhir ini ada buaya yang menangis benaran karena benar-benar sedih disebabkan populasi mereka nyaris punah karena banyak permintaan akan kulitnya. Sepatu, tas tangan, koper, ikat pinggang, dan barang lain yang dibuat dari kulit buaya memang indah, awet dan sangat menarik.

Menjadi viral

Mulai 13/12 malam,  beberapa saat setelah sidang pertama kasus penistaan agama oleh Ahok di Jakarta  sampai tulisan ini saya tulis, hastag #airmatabuaya menjadi viral di media sosial. Banyak netizen yang mempertanyakan status air mata Ahok di depan majelis hakim yang terhormat itu. Apakah linangan air mata Ahok itu benar-benar manifestasi dari sebuah penyesalan atau justru itu sebuah acting yang telah diskenariokan?.

Tentu melalui tulisan ini saya tidak mau melibatkan diri dalam pusaran polemik terkait  judul  yang tepat untuk tangisan si Ahok itu. Saya justru kagum terhadap perubahan sikap Ahok yang begitu fantastis. Ahok yang sebelumnya  gagah perkasa tiba-tiba dia sesunggukan di depan meja hijau. Ahok yang hari-hari kemarin tak kuasa menjaga mulutnya dari berkata kasar dan pedas, tiba-tiba menjadi begitu humanis dan telaten membaca nota keberatan di hadapan majelis hakim dengan segenap intonasi yang lembut dan tratur, serta dengan pemilihan diksi yang empatik, serta sama sekali tidak meledak-ledak seperti tradisinya selama ini.

Soal mengapa Ahok kemarin menangis, lalu apakah air mata  itu air matabuaya atau bukan dan sebagainya?, silakan saja Anda berdiskusi lebih lanjut tapi jangan sampai berantam!.  Bagi saya pribadi soal status air mata Ahok kemarin sederhana saja: Hanya Tuhan dan Ahok sendiri yang tahu mengapa ia menangis. Biet bulut!. [].

Rabu. 8/2/2017
#######


Kemarin sore , rasa penat badan saya berujung ke tempat refleksi tunanetra.

Setiap mau pijat, saya lebih memilih jasa tunanetra karena ada plus nya, sekalipun fasilitasnya dibawah tempat refleksi lainnya. Plus nya adalah dari berbagai cerita dan.cara mereka bercerita.

Saya mau dipijat sekaligus yang memijat bercerita. Kondisi ini tidak ada di tempat pijat lainnya. Di tempat pijat tunanetra mereka memijat dan.bercerita tanpa habis, hatta kita sudah tertidur pun mereka masih cerita.

Kemarin, sambil menikmati pijatan, Saya bertanya kepada tunanetra langganan saya itu, "Siapa yang akan memenangi Pilkada Banda Aceh?".

Dengan tegas tanpa ragu ragu dia menyebutkan satu satu nama calon walikota Banda Aceh yang akan memenangkan Pilkada Banda Aceh.

Saya terkejut, sambil berkata, "Kok bisa?".

Dia lalu menjawab dengan ketus, "Han neu pateh ka keutan neuh".

"Teuma pakon nyan yang meunang", tanya saya lbh lanjut untuk mencari tahu.

"Begini", katanya, "Dari 105 orang yang saya pijat, 97 orang mendukung calon walikota yang saya sebut tadi", jelasnya lbh lanjut.

Nah, ternyata tukang pijat tunanetra juga yakin bisa lakukan hitungan cepat Pilkada Banda Aceh. Soal benar salah kan.biasa.

Anda ingin tahu siapa kandidat walikota banda aceh yg diprediksikan menang ini, ayo kita ngopi. [].