Bersihkan Hati, Lalu Bangun Negeri !

By 00.17.00



“Ketahuilah, 
sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging,
jika segumpal daging itu baik, maka akan baik seluruh tubuh manusia,
dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruk seluruh tubuh manusia, 
                                      ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia”.
                                                         --- (Muttafaqun’alaih)
 

Seluruh dimensi perjalanan hidup Rasulullah saw adalah telaga inspirasi yang tak pernah kering untuk kita eksplorasi sebagai ushwatun hasanah  dalam kehidupan kita. Tidak terkecuali peristiwa fenomenal Isra’ Mikraj yang oleh para alim ulama disebut sebagai i’jazun ilahiyyah  atau mukjizat ketuhanan yang tidak mungkin dipikirkan secara logika.

Sudah bukan waktunya lagi kita memaknai Isra’  Mi’raj hanya semata perjalanan Nabi saw di malam hari untuk menerima perintah shalat. Kita  selayaknya memaknai peristiwa monumental  itu dalam konteks yang lebih rill. Sebab, Isra’  Mi’raj penuh labirin dan makna simbolik, baik pada tatanan kemanusiaan atau pun teologi kepemimpinan.

Dimana dibawah kepemimpinan Sang Nabi saw telah terjadi perubahan yang luar biasa di muka bumi ini sebagai akibat dari gaya kepemimpinan yang diperankan Rasulullah saw. Semua ini layak menjadi inspirasi kita.

Sebagai umatnya tentu dalam berbagai kiprah kehidupan yang kita tapaki, maka tipologi kepemimpinan Rasulullah saw  selayaknya menjadi rujukan utama. Karena efektifitas dari sebuah kepemimpinan secara lineer akan menentukan kapasitas sebuah perubahan positif yang akan terjadi.

Saya yakin kita semua pernah mendengar dua buah perusahan dunia yang sukses, yaitu Apple dan McDonald’s. Perusahaan Apple mendunia dan sukses setelah Stave Wozniak berpadu dan bekerjasama dengan Stave Jobs. Richard dan Maurice McDonald mendirikan McDonald, tetapi setelah bertemu Roy Krock, barulah McDonald’s mendunia. Konon, ada satu faktor determinan yang membuat Apple dan McDonald  sukses mendunia yaitu  kualitas kepemimpinan Swtave Jobs dan Roy Kroc.

Dari fenomena inilah kemudian muncul  paradigma spesifik dalam  ilmu perilaku organisasi: Apabila kinerja sebuah organisasi menurun atau tidak produktif, langkah paling awal dan efektif untuk dilakukan adalah menggantikan pemimpin atau mengevaluasi kepemimpinan organisasi tersebut.  Intisari dari thesis ini adalah bila sebuah komunitas dalam skala apapun penuh dengan “ketidakbenaran dan ketidakberesan”, maka akar masalahnya ada dan berada pada sosok sang pemimpin sebagai pengendali komunitas tersebut.


Pesan Moral

Isra’ Mi’raj merupakan perjalanan spiritualitas terpenting yang menjadi salah satu tonggak sejarah perjuangan Nabi Muhammad saw dalam membangun peradaban, keadilan, dan kemakmuran bagi seluruh umatnya. Proyeksi awal dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah menciptakan jalan pencerahan untuk membebaskan diri dari sisi gelap (dark side) sejarah kemanusiaan. Shalat lima waktu yang diprintahkan Tuhan dalam peristiwa Isra’ Mi’raj tidak semata-mata ditafsiri sebagai kewajiban yang sifatnya ritual an sich, melainkan wahana untuk menegakkan kebenaran dan merobohkan bangunan-bangunan kemungkaran di muka bumi.

Jika dicermati, ada banyak hal yang dapat kita jadikan motivasi untuk lebih bersungguh-sungguh memaknai peristiwa Isra’ Mi’raj ini sebagai spirit kepemimpinan di tengah-tengah kita dewasa ini.

Pertama, spirit penyucian hati. Telah diriwayatkan, bahwa sebelum Nabi Muhammad dibawa Malaikat Jibril, beliau dibaringkan, kemudian dibelah dadanya; hatinya dibersihkan dengan air zamzam. Penyucian hati Rasulullah ini bermakna bahwa setiap manusia tidak akan pernah lepas dari kekhilafan. Setiap kali melakukan kekhilafan, setiap kali pula hatinya ternoda hingga menjadikannya hitam pekat, karena itu penting di sucikan.

Dalam konteks ini pesan moral Isra’ Mi’raj adalah seorang pemimpin itu harus bersih hatinya.  Seorang pemimpin yang kotor hatinya tidak  akan mampu memimpin. Karena pemimpin yang kotor hatinya adalah pemimpin egois. Sikap egois menyebabkan dia tidak sadar kewajibannya untuk memimpin. Selain mabuk dengan fasilitas duniawi yang diterimanya, dia saban hari  hanya mengurus diri sendiri dan segelintir orang yang menglilinginya.

Karena itula Nabi saw mengingatkan: Ketahuilah, sesungguhnya dalam tubuh manusia ada segumpal daging, jika segumpal daging itu baiki, maka akan baik seluruh tubuh manusia, dan jika segumpal daging itu buruk, maka akan buruh seluruh tubuh manusia, ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati manusia. (Muttafaqun’alaih).

Di sinilah urgensinya seorang pemimpin perlu terus menerus berikhtiar membersihan hatinya. Pemimpin yang kotor hatinya menjadi pemimpin yang lemah dan mudah mengumbar kemarahan tanpa sebab yang jelas.  Pemimpin seperti ini sama sekali tidak akan mampu mendayagunakan SDM, SDA bahkan sumber finansial yang melimpah. Modal material dan sospol yang ada  tidak mampu dikonversikan untuk kesejahteraan rakyat.  Dengan kata lain uang dan sumber daya alam melimpah, tapi rakyat yang dipimpinnya tidak kunjung sejahetera. Dalam konteks ini pesan moral utama kepada setiap pemimpin adalah:  Bersihkan hati Anda dulu, baru Anda bangun negeri ini!.

Pesan moral lain dari pencucuian hati Nabi saw menjelang Isra’ Mi’raj  menegasikan bahwa  seorang pemimpin itu tidak cukup sehat fisik saja. Tetapi juga perlu sehat psikis termasuk hatinya. Inilah salah satu  “asbabulghurud” Rasulullah saw dua kali dibersihkan hatinya oleh Jibril. Pertama saat Rasulullah saw kecil ketika menjadi anak susuan Halimatussa’diah, dan kedua ketika menjelang Isra’ Mi’raj.

Kedua, ketika  “transit” di Mesjid Al-Aqsha Nabi saw mengimami shalat berjamaah para Nabi ‘alaihissalam  dari segala zaman dan tempat. Di sini pesan moral utamanya adalah seorang pemimpin tidak boleh membeda-bedakan rakyat yang dipimpinya berdasarkan wilayah atau daerah. Semua rakyat dari wilayah mana pun harus diperlakukan sama. Tidak boleh menggunakan “aplikasi” ashabiyah  alias bertindak primordial dalam setiap jengkal kebijakan dan kepemimpinannya.

Ketiga, spirit keteladanan. Ketika di Baital Maqdis, misalnya, Nabi Muhammad ditawari dua gelas minuman yang berisi susu dan khamar, beliau memilih susu. Hal ini mengindikasikan bahwa pemimpin harus mampu memberikan yang terbaik dan bernilai positif bagi dirinya dan umatnya. Spirit keteladanan Nabi Muhammad itu bisa dipraktekkan dengan menjadi pemimpin yang berempati dengan nasib dan kondisi yang sedang menimpa rakyatnya dengan cara  mendesain program dan kegiatan yang benar-benar berorientasi bagi kepentingan rakyat. Dengan kata lain, pemimpin yang berketeladanan adalah pemimpin yang gemar membalas jasa rakyat, bukan sebaliknya terus menerus mengeksloitasi keuntungan personal atas nama rakyat.

Keempat, prinsip keadilan. Proses negosiasi yang dilakukan Nabi Muhammad dalam menerima kewajiban shalat juga menjadi cerminan bahwa esensi seorang pemimpin adalah berusaha meringankan beban yang dihadapi rakyatnya. Al-Ghazali mengungkapkan bahwa seluruh ajaran ibadah yang diwajibkan kepada umat Islam merupakan fondasi yang wajib dilaksanakan untuk menemukan saripati dan esensi agama, yakni agama sebagai rahmat bagi sekalian alam.  Seorang pemimpin yang meneladani Nabi saw adalah pemimpin yang setiap waktu berusaha membahagiakan rakyatnya, bukan membahagiakan diri sendiri, keluarga dan kroni-kroninya.

Keempat, spirit dan etos membangun peradaban yang kuat. Sejarah mencatat, tidak lama setelah Isra’ Mi’raj, Rasulullah dengan para pengikutnya hijrah ke Madinah. Dengan spirit dan etos yang lahir dari Isra’ Mi’raj, Nabi Muhammad SAW berhasil menyampaikan risalah kenabian di Madinah. Lebih dari itu, beliau juga berhasil membangun sebuah negara kota yang disebut Al Farabi sebagai negara yang adil, makmur, sejahtera, aman, dan damai. Negara seperti itu adalah sebuah negeri ideal sebagaimana dicita-citakan para ahli dari Yunani, seperti Plato dan Aristoteles.

Khatimah

Kesuksesan Nabi Muhammad dalam memimpin Madinah mendapat apresiasi serius di kemudian hari. Filsuf George Bernand Show  --- misalnya ---berkeyakinan seandainya Muhammad saw diserahi untuk memimpin dunia modern, tentu berhasil menyelesaikan persoalan dengan cara yang dapat membawa dunia ke dalam kesejahteraan dan kebahagiaan. Bernand juga meramalkan, akidah yang dibawa Nabi Muhammad saw akan diterima dengan baik oleh Eropa di kemudian hari. Maka tak heran, jika salah seorang sejarawan barat, Michael H. Hart, menempatkan Muhammad sebagai tokoh nomor wahid yang paling berpengaruh sepanjang sejarah umat manusia.

Spirit kepemimpinan Nabi Muhammad  saw menemukan momentum untuk diinternalisasikan dalam jiwa-jiwa pemimpin kita saat ini. Momentum Isra’ Mi’raj dapat menggugah kita  dalam menegakkan nilai-nilai keadilan, kemanusiaan, kesejahteraan, dan keimanan, yang pada titik klimaksnya akan lahir sosok pemimpin yang memiliki integritas kebangsaan dan spirit religiusitas yang agung.

Nah, pemimpin sesungguhnya adalah pemimpin (yang) memimpin. Selamat datang pemimpin baru yang berintegritas, selamat datang Aceh Baru!.[].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...