Berziarah ke Perkuburan Baqi’

By 22.18.00



Komplek pemakaman Baqi’  terletak di sebelah kanan Mesjid Nabawi yang hanya dibatasi oleh halaman mesjid Rasul itu.  Dalam sejumlah buku sejarah disebutkan Komplek Pemakaman Baqi’ merupakan areal kuburan  lama sejak masa jahiliyah sampai sekarang. Rasulullah SAW, dalam catatan sejarah,  terutama tahun terakhir menjelang wafat  pada 11 H/ 623 M  sangat  sering berziarah ke komplek perkuburan ini.
Ke tempat inilah di sela-sela beribadah di Mesjid Nabawi saya berkunjung.

Saat ini pemakaman Baqi’ telah mengalami  perluasan dari aslinya sehingga  bangunan-bangunan  yang ada di sekitarnya dibongkar. Luas komplek pemakaman ini menurut catatan yang ada di pagar kuburan ini lebih kurang 138.000 M2 dengan dikelilingi pagar marmer yang kekar dan bagian luarnya  dibangun tempat ziarah yang tinggi, sehingga para penziarah dapat melihat lokasi pemakaman dari luar pagar  tanpa harus masuk.

Saat berziarah ke Perkuburan Baqi’ saya melihat jamaah perempuan sama sekali tidak diperkenankan memasuki arena perkuburan oleh asykar atau polisi Saudi, dan hanya diperkenankan melihat areal pemakaman  melalui jeruji pagar. Sedangkan jamaah laki-laki dengan leluasa dibiarkan masuk dengan jadwal yang telah ditentukan. Paska shalat Subuh adalah saat Baqi’ begitu banyak dibanjiri penziarah.

Menurut catatan sejarah, orang yang pertama diseumiyub (dimakamkamkan) di sini adalah  Usman bin Mazh’un, seorang sahabat dari kalangan Muhajirun yang terkenal saleh dan hidup sederhana  yang meninggal pada  5 H/ 626 M. Sedangkan Ibrahim putra Rasulullah adalah orang kedua yang dimakamkan di sini.

Di tempat ini pula terdapat makam para isteri Rasulullah. Sedangkan keluarga Rasul lainnya yang dikebumikan di sini  --- selain putra putri beliau ---  antara lain Abbas bin Abdul Muthallib (paman kesayangan Rasul), Hasan bin Ali,  Ali Zainal  Abidin, Fatimah binti Asad (ibu Ali bin Abi Thalib), Halimah (ibu susu Nabi) dan lain-lain.

Di areal “alam barzah” ini  saya merasakan betapa aura spritualitas begitu menyengat. Namun ada sedikit rasa kecewa ketika memasuki komplek perkuburan mulia ini. Ketika mengelilingi seluruh sisi komplek saya  sangat sulit mengindentifikasi kuburan tokoh-tokoh  besar tersebut di atas.

Penyebabnya, kuburan di Baqi’ tidak memiliki penanda khusus seperti di Aceh. Setiap kuburan hanya ditandai satu onggokan batu. Tidak ada tanjakan tanah, seluruh areal perkuburan dibuat rata. Tidak ada prasasti yang mengukirkan nama pemilik kuburan.

Untuk mencari tahu di mana kuburan Aisyah atau Usman bin Affan misalnya, tidak ada petunjuk yang jelas. Tidak  ada pemandu ziarah yang disediakan untuk memberikan informasi yang diperlukan.
Saya sendiri  jadi meraba-raba tanpa sasaran yang jelas. Akhirnya, hanya ada sebuah keyakinan  --- yah  berdasarkan catatan sejarah  --- bahwa di sini ada jasad para ashabul awwalun (para pembawa panji-panji Islam yang pertama) berbaring. Tanpa harus tahu di mana posisi jasad-jasad mulia itu  di antara ribuan makam lainnya yang ada. Saya hanya bisa berdoa kepada mereka serta mengharapkan keberkahannya.
Di Komplek  Kuburan Baqi’ terlihat bearagam cara para jamaah berziarah, terutama jamaah dari Iran. Ada yang terus menerus  berdoa, nangis-nangis, menggosok-gosokkan mukanya dengan abu dari lokasi kuburan, mencium  kuburan dan sebagainya. Pokoknya  gado-gado  lah.

Terlihat ada  asykar  Saudi bersikap kasar kepada  penziarah. Mereka  merebut kitab doa dan zikir ziarah dari tangan jamaah. Kadang-kadang mereka  mengusir jamaah dengan  diringi   teriakan:  “haram”, “haram”, “rukh-rukh”.

Ziarah kubur sambil membaca do’a apalagi disertai tangisan  --- dalam perspektif Wahabi yang saat ini berkuasa di Saudi --- termasuk bid’ah sehingga dilarang. Ini tentu berseberangan dengan kebiasaan  penziarah dari Iran, Turki, India, Pakistan, Banglades, Indonesia, Malaysia dan wilayah Asia Tenggara lainnya. Bagi para penziarah  dari wilayah ini, ziarah kubur merupakan  bagian dari kultur mereka.

Untuk menghindari ziarah yang “syirik”  itu pula, di belakang pintu masuk Baqi’ dipasang papan pengumuman  dalam empat bahasa yaitu  Arab, Turki, Inggris dan Indonesia, yang meminta agar para pengunjung tidak melakukan  tindakan yang menjurus syirik. Pengunjung dilarang memuja-muja kuburan,  membawa tanah kuburan atau meminta-minta sesuatu pada kuburan.

Di tengah-tengah areal pemakaman  Baqi’, seorang laki dengan pakaian terusan putih plus penutup kepala ala Arab terus “berteriak-teriak” sepanjang waktu memperingatkan pengunjung agar tidak melakukan bid’ah. (Mungkin ini petrugas khusus yang ditunjuk Pemerinyah Saudi?}. Kalau jamaah berkurumun di sebuah kuburan yang diyakini makam Siti Fatimah putri Rasul  --- misalnya ---  petugas segera menghalau.
Apalagi kalau jamaah berdoa sambil menangis di sisi kuburan itu.

Alasan ini pula mungkin yang menyebabkan kuburan di Komplek Baqi’  tidak beri petunjuk lokasi dan posisi kuburan yang ada di situ.  Allahummaghfirlahum warhamhum wa’afihi wa’fu’anhum. []




Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...