Buya Tambue

By 23.15.00



“Buya tambue, lheuh dikap han ek dihue”.

Bila hari ini Anda datang ke Gampong Tambue, pasti Anda tidak akan menjumpai  seekor  pun buaya  (bahasa Aceh: buya). Karena Gampong Tambue yang terletak  di kaki Bukit Bate Geulungku Kecamatan Simpang Mamplam Kabupaten Bireun itu tidak  memiliki  sungai atau rawa-rawa tempat biasanya binatang melata ini berhabitat. Gampong Tambue justru terletak  dekat  laut, dan di Aceh tidak pernah kita dengar buaya laut. Yang ada hanya buaya di air tawar dan satu lagi buaya darat. Sebutan buaya yang terakhir adalah  sebuah steriotipe   kurang bagus yang dialamatkan kepada seorang laki-laki yang sesukanya “menerkam” perempuan.

Namun ada atau tidaknya buaya  di Gampong Tambue, baik sekarang maupun dulu tidak perlu kita persoalkan,  yang  penting dan pasti adagium buya Tambue telah terlanjur popular, beredar luas  dan sering diucapkan orang Aceh untuk tujuan tertentu terkait  kepemimpinan sosial politik  yang tidak efektif dan efisien di tengah-tengah masyarakat. 

Karenanya, apapun cerita yang melatarbelakangi buya Tambue itu tidaklah terlalu penting, yang tidak kalah penting adalah kepopuleran filosofis “buya Tambue”  itu  telah melintas batas Kecamatan Simpang Mamplam dan  Kabupaten Bireun, bahkan telah menjadi takeline umum masyarakat Aceh ketika mengaitkannya  dengan tipikal  tuna karya (tidak produktif)  seseorang  pemimpin yang  diberikan atau mendapatkan sebuah tanggung jawab dari rakyat  namun yang bersangkutan tidak sanggup  melaksanakan tanggung jawab tersebut.

Karakter Buya Tambue
Alkisah, konon zaman dahulu kala  --- seperti  lazimnya haba jameun, ashabulkisah  tidak menyebutkan waktunya  ---  di  Gampong  Tambue ada seekor buaya yang menerkam seorang laki-laki dewasa. Yang menarik setelah menerkam, binatang melata yang dalam bahasa latin disebut  crocodylus porosus  tersebut mencampakan tubuh laki-laki itu begitu saja dan tidak  seperti  kebiasaan buaya yang  menyeret (bahasa Aceh: bahue)  hasil tangkapannya ke sarang  untuk  dimakan.

Masyarakat yang menemukan jasad laki-laki korban terkaman buaya itu sempat berpolemik soal kenapa buya Tambue itu tidak menyeret laki-laki itu ke sarangnya. Ada yang berpendapat, buya Tambue tidak jadi menyeret tubuh laki-laki itu dikarenakan buaya itu tiba-tiba  mual dan kehilangan selera makan. Maka  jasad laki-laki malang itu pun dicampakkan begitu saja.

Tapi sebagai besar masyarakat Gampong Tambue ketika itu berpendapat  lain. Menurut mereka  itulah tabi’at  asli atau karakter khas buya Tambue : Lheuh dikap han ek dihue. Nah, konon sejak saat itu sampai hari ini istilah buya tambue lheuh dikap han ek dihue  terus popular di tengah-tengah masyarakat Aceh. Dan masyarakat Aceh langsung paham banget   subtansi dari  adagiuim tersebut ketika ada yang mengatakan  alah hai buya tambue. Barangkali iklan jamu tradisional yang berbunyi  ‘nafsu besar tenaga kurang’  juga terinspirasi dari kelakuan unik buya Tambue ini.



Kondisi Kekinian

Di tengah-tengah masyarakat Aceh hari ini yang semakin terbuka dan  kritis   juga ditopang oleh teknologi informasi yang berkembang begitu pesat, ketika ada fenomena sosial seperti seseorang  yang begitu bersemangat mencalonkan diri dan kemudian terpilih sebagai geusyik, tetapi selanjutnya Pak Geusyik tersebut tidak memiliki kompetensi alias tidak mampu melaksanakan tugas dan kewajibannya,  maka untuk menjelaskan kondisi menyedihkan tersebut serta penegasan sikap kolektif dari  masyarakat terhadap ketidaksukaannya  terhadap  kepemimpinan Pak Geusyik,  orang Aceh tidak perlu membuat narasi yang panjang lebar serta berliuk-liuk, tapi cukup mendeskrepsikan dengan beberapa kata yang bernas: Buya tambue, lheuh dikap han ek dihue.

Dalam perspektif  politik  Aceh terutama di kampung-kampung, ternyata   ketika kalimat buya tambue, lheuh dikap han ek dihue didedikasikan masyarakat  kepada figur pimpinan tertentu  maka  pesan verbal  dari masyarakat  itu memiliki dua dimensi dan perspektif.

Pertama, bagi rakyat kalimat tersebut  adalah suara hati nurani mereka sebagai wujud  kegundahan mereka terhadap seorang pemimpin yang telah mereka pilih dan dukung selama ini.  Bagi rakyat Aceh penyebutan  buya tambue, lheuh dikap han ek dihue  juga merupakan cara dan mekanisme alamiah  dari mereka sebagai kritik  terbuka  sekaligus petisi ketidakpercayaan mereka terhadap  pemimpinan  yang tidak mensejahterakan mereka sekaligus tidak mampu mengemban  kewajibannya selaku pemimpin.

Kedua,  sebaliknya bagi seorang pemimpin yang berhati nurani  --- dalam skop apa pun kepemimpinannya ---  maka ketika  jargon buya Tambue  sudah sering diucapkan  dan menjadi “nyanyian” rutin rakyatnya, baik di warung kopi, di media sosial dan di berbagai ruang publik  lainnya, maka seharusnya sang pemimpin secara otomatis tergerak melakukan evaluasi  diri dan   tentunya  segera melakukan  kontemplasi dalam rangka  mencari solusi cerdas guna memperbaiki keadaan. Ketika situasi dan kondisi seperti ini mengemuka maka  harus  segera ada tekad bulat  dan tindakan nyata dari seorang pemimpin  bahwa pemimpin itu ( memang harus) memimpin, bukan sekedar penikmat kekuasaan.  Pemimpin itu eksekutor. Pemimpin itu seni melakukan eksekusi, buka seni menunggu  boh ara hanyet.

Bagi rakyat Aceh yang  sudah dicerdaskan oleh berbagai situasi sosial politik tahu benar bahwa karakter khas buya Tambue  tidak lineer  dengan pesan orang tua kita bahwa “rajin itu pangkal pandai, hemat itu pangkal kaya”.

Maka dari itu ktika seorang geusyik --- misalnya ---  yang tidak mampu  melaksanakan tugas dan kewajibannya termasuk tidak mampu membelanjakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBD) sama sekali tidak ada hubungan dengan karakter  mulia  bahwa yang bersangkutan   adalah pemimpin yang hemat sebagai aplikasi dari pesan moral  “hemat pangkal kaya”  seperti dinasehatkan para orang tua kepada kita semua. Justru  tindakan  seorang pemimpin seperti inilah  dalam   uraian di atas  kita sebut sebagai karakter buya tambue, lheuh dikap han ek dihue. Sebuah karakter yang lari dari tanggung jawab. Lheuh tanggong ka han ek jaweub.

Wah, ternyata  Aceh tidak hanya kaya kuliner dan sumber daya alam, tapi ternyata  juga surplus  fatsoen  yang terkait dan dapat dikaitkan dengan dinamika sosial politik yang update. Misalnya, uet jalo toh kapai. Atau apa rambot, lheuh mat han ek got.
Bahkan  di berbagai pelosok kampung di Aceh fatsoen-fatsoen  sejenis masih  sangat banyak dan mudah kita dengarkan dalam berbagai perspektif serta kaitannya  dengan multi fenomena sosial politik yang melingkupinya . Apalagi dewasa ini berbagai media --- baik telivisi, radio, koran bahkan media online  --- telah dapat dengan mudah diakses  masyarakat Aceh  sampai ke sudut perkampungan di lereng-lereng bukit.

Sebagai contoh kita sebut  Serambi Indonesia --- misalnya ---  koran terbesar di Aceh ini pagi-pagi buta atau sekitar jam 07.00 pagi sudah beredar  ke sebagian besar gampong-gampong  di berbagai pelosok Aceh. Jadi, jangan pernah mengira bahwa  berbagai “sandiwara”  sosial politik dan pemerintahan yang kita lakonkan di provinsi tidak diketahui dan dipahami oleh  ureung gampong. Mereka bisa saja senang, kecewa atau  marah ketika tahu  harapan dan asa mereka dipenuhi atau  memang dipermainkan oleh penerima kepercayaan mereka . Mereka juga bisa mengamuk  dan mengutuk si Buya Tambue.

He.. he .. he … nyan ban. Jak lom u Banda!. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...