Cara Wanita Arab Ekspresikan Hujan

By 00.52.00

 

Bagi kita di Aceh hujan merupakan  hal biasa, karena tingkat intensitas hujan di daerah kita relatif rapat. Tapi tidak bagi penduduk Arab Saudi, bagi mereka hujan adalah rahmat tak ternilai karena intensitas hujan di negeri monarkhi Ibnu Sa’ud  ini sangat jarang terjadi. Hujan adalah suatu peridtiwa alam yang sangat ditunggu-tunggu penduduk Arab.

Saking jarangnya turun hujan, di Arab Saudi sangat jarang kita dapati drainase. Karena tidak tersedianya drainase, maka begitu turun hujan lebat langsung mendatangkan masalah besar yaitu banjir. Seperti diberitakan sejumlah media, 2/5/2013, di Riyadh, ibu kota Arab Saudi dilanda hujan deras yang seketika menyebabkan banjir. Diberitakan banjir dadakan tersebut menewaskan 24 jiwa. Di Arab Saudi menurut informasi yang saya terima sangat jarang  terjadi bahkan cenderung tidak pernah hujan.

Ketika berada di Kota Madinah peristiwa langka itu saya alami langsung. Hari itu Selasa, 29 Oktober 2013. Jarum jam yang ditempel di dinding sebelah barat Mesjid Nabawi menunjukkan pukul 13.00 KSA (di Aceh pukul 17.00 WIB). Imam Mesjid yang dibangun sebagai pusat dakwah Nabi setelah hijrah dari Mekkah itu baru saja member salam kedua pertanda shalat Zhuhur hari itu telah selesai.

Sebagaimana biasa, terutama di musim haji, jamaah di Mesjid Nabawi selalu membludak. Bagian dalamnya penuh berdesakan, terutama di  Raudhah yang terletak sudut kiri bagian depan arah kiblat.
Di pelataran Mesjid Nabawi juga penuh sesak dengan jamaah. Saya yang saat itu ikut shalat di bagian barat pelataran mesjid terkejut dengan suara gemuruh yang tiba-tiba terdengar. Ternyata hujan turun di Kota Madinah. Sebenarnya suasana hujan tidak mengganggu jamaah yang salat di pelataran mesjid, karena seluruh pelataran Mesjid Nabawi saat ini diatapi oleh payung elektrik. Payung tersebut secara otomatis terbuka kala matahari mulai terik, dan menguncup kembali kala matahari meredup.

Yang menarik sejumlah jamaah dari Asia Tenggara yang shalat bersama saya nyaris tidak peduli dengan turun hujan. Sebagian mereka terus berzikir, shalat sunnat, dan sebagian lagi berbincang sesama mereka.
Lain dengan sejumlah wanita Arab yang ada di sekita saya. Saat hujan turun mereka mendadak sontak bangun dan berdiri serta berlari berhamburan ke luar payung. Sambil menengadah kelangit dan mengangkat tangan tinggi-tinggi mereka berteriak nyaring: Alhamdulillahirabbil’alamin. Mata mereka terus terbelalak kelangit dan mulut mereka terus komat kamit berzikir dan memuji Allah.

Mereka sangat ekspresif dengan turun hujan. Setelah  berdo’a, mereka saling berpelukan sambil bercerita dengan wajah penuh rasa gembira.(Mungkin saja dengan bahasa Arab mereka bilang: wow… hujan turun, seneng banget  aku).  Mereka mendatangi dan memeluk sejumlah jamaah yang ada di sekitarnya, sambil berucap: Alhamdulillah, Alhamdulillah. Mereka seperti anak-anak kecil yang main hujan di Aceh, Mereka tampung hujan dengan tangan mereka kemudian menyapu ke muka mereka. Mereka tampung lagi kemudian saling memercik kemuka kawannya.

Sikap dan ekspresi para perempuan Arab di kala turun hujan tersebut membuat saya sejenak tercenung. Betapa nikmat yang terus menerus membuat kita lupa bersyukur. Betapa karunia yang tiada henti menyebabkan kita lupa daratan.

Di Aceh jarang di antara kita ketika turun hujan  berekspresi dengan ucapan alhmadulillah sebagai wujud sikap syukur kita akan rahmat yang Allah turunkan bersama hujan.Karena sering hujan, kita nyaris lupa mensykuri karunia hujan. Di Arab Saudi, hujan adalah karunia dan rahmat yang senantiasa ditunggu-tunggu kemudian disyukuri.

Seperti halnya hutan, di negeri  Saudi hutan begitu dihargai dan disyukuri. Bahkan di saat ihram kita dilarang mencabut dan mematahkan kayu. Bila tindakan eksploitatif ini kita lakukan terhadap tumbuh-tumbuhan kita akan dikenakan sanksi atau dam.  Bila tidak bayar dam ibadah haji dan umrah kita tidak sempurna.
Di Indonesia, karena kita tidak mensyukuri hutan sebagai rahmat dan karunia Allah --- tidak hanya kepada kita tetapi juga kepada anak turunan kita ---- maka hujan yang turunkan di daerah kita yang seharusnya adalah rahmat, justru karena hutan kita gundulkan, maka rahmat tersebut bermetamorfosis menjadi bencana banjir. Karena kita tidak bersyukur, seharusnya siklus alam yang merupakan rahmat itu menjadi bencana banjir bagi sejumlah wilayah di negeri  kita.

Soal cara ekspresi terhadap karunia hujan dan eksistensi pepohonan, sungguh layak dan pantas kita meneladani rakyat Arab Saudi. Di Mekkah dan Madinah saat ini sedang begitu digalakkan penghijauan dengan menanami pepohonan di berbagai sudut kota. Mereka sadar begitu gersang sebuah lingkungan yang tidak banyak ditumbuhi pepohonan.

Bukan tidak mungkin, beberapa puluh tahun ke depan ketika Mekkah dan Madinah telah hijau dan sejuk oleh pepohonan karena saat ini mereka begitu sungguh-sungguh mengapresiakan  gerakan penghijauan, maka ketika itu bisa saja Indonesia --- termasuk Aceh --- telah menjadi jazirah tandus seperti negeri Arab hari ini.

Bisa saja, jika waktu itu tiba, Pulau Kalimantan akan berubah nama menjadi Pulau Mantan Kali. Na’uzubillahiminzalik.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...