Hutan Beton Kepung Baitullah

By 01.37.00


Setelah saya mengamati langsung, ternyata benar seperti yang ditulis dalam buku sejarah, bahwa Kota Mekkah Almukarramah  terletak di sebuah lembah. Dengan demikian posisi Ka’bah dapat dilihat dari bukit-bukit yang ada di sekelilingnya.

Kini, bukit-bukit yang ada di sekeliling bangunan yang pertama kali didirikan Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  itu telah penuh ditumbuhi hutan beton yang menjulang ke langit. Di sekeliling Mesjidil Haram   begitu banyak gedung-gedung jangkung. Hotel berbintang dan mall tegak  berdiri  tidak sampai  jarak seratus meter dari pintu bangunan mulia itu.

Pokoknya,  kini Mesjid Haram   seperti dikepung  hutan beton. Inilah amatan dan perasaan saya ketika menatap dalam-dalam suasana mutakhir di sekeliling Baitullah dari lantai 21 Grand Zamzam Hotel yang berjerak sekitar 50 meter dari dinding Mesjidil Haram tempat saya menginap selama di Mekkah.

Bukit-bukit batu yang dahulu dijejaki oleh Rasulullah SAW  dan para sahabatnya, kini dihancurkan untuk  pembangunan  hotel-hotel bertaraf internasional. Banyak bangunan yang sekarang muncul di  sekeliling Mesjidi Haram belum ada  di tahun 2010 dan 2011  ketika saya mengunjungi Mekkah.

Pembangunan besar-besaran di haram al-syarif  ini luar biasa,  nyaris  tanpa mempertimbangkan  kepentingan umat Islam seluruh dunia  terkait sejarah Islam dan faktor penting yang dapat  meningkatkan motivasi ibadah. Konon, banyak situs sejarah telah punah. Kota Mekkah dan Madinah (haramain)  secara historis menuju pada kepunahan. Banyak situs-situs sejarah telah digantikan oleh  gedung pencakar langit.
Ustad Mahlil Nasution, seorang Mutawwif  (pembimbing  haji ) dari PT. Kharissa Tour & Travel  Jakarta yang  yang mendampingi saya selama ibadah haji  menjelaskan  bahwa dengan alasan pemurnian ajaran Islam,  Rezim Wahabi yang saat ini menguasai  Arab Saudi telah membongkar  sebagian besar situs bersejarah.

Situs-situs sejarah  yang kita baca dalam Buku Sirah Nabawiyah , saat ini sebagiannya  sulit kita dapati lagi baik di Mekkah maupun Madinah. Salah satunya menurut  penuturan  Ustadz Mahlil  adalah  Baitul Mawlid.
Saat pertama kali  Rezim Ibnu Su’ud yang  berkolaborasi dengan Muhammad bin Abdul Wahab (pengagas ajaran Wahabi) menguasai Mekkah tahun 1920 M, Baitul Mawlid  (kubah dan atap rumah tempat nabi Muhammad dilahirkan)  diratakan dengan tanah. Lokasi tersebut sempat dijadikan  sebagai pasar ternak, namun akhirnya difungsikan sebagai perpustakaan. Begitu juga dengan Jabal Qubais  --- tempat Nabi Ibrahim menyerukan umat manusia supaya berhaji ---   di atasnya saat ini telah didirikan istana Raja Arab Saudi.

Melihat maraknya pembangunan gedung pencakar langit di sekeliling Mesjidil Haram,  wajar saja bila jamaah haji dan umrah  bertanya: Apa sebenarnya latar belakang yang mendorong Kerajaan Arab Saudi  “memagari dan mengucil”  Mesjidil Haram dengan  hotel berbintang dan mall?

Memang sangat menyenangkan, mondar mandir dari penginapan ke Mesjidil Haram. Bisa jalan kaki,  ngopi  dulu, lalu kembali untuk shalat di sekitar Ka’bah. Tapi apa benar dan sudah tepat   hanya dengan cara   demikian  kemudahan dan kenyaman dapat diberikan kepada  dhuyufurrahman  atau para tamu Allah  itu?.

Padahal jika yang diinginkan adalah  kemudahan dan kenyamanan agar  jamaah cepat  sampai dan mudah mengakses Mesjidil Haram dari penginapan, mungkin  bukan  itu solusinya, tetapi Pemerintah Arab Saudi dapat mengupayakan moda transportasi yang memadai, representatif, nyaman dan moderen. Dan ini sangat mungkin dilakukan mengingat cadangan devisa Saudi Arabia sangat besar yang bersumber dari  eksplorasi minyak serta sumbangan devisa  dari jamaah seluruh belahan dunia  yang datang  tiada henti setiap waktu.
Sambil rehat di lobi  Grand Zamzam Hotel , saya sempat berpikir:  untuk kepentingan  masa depan dan  keagungan Baitullah, apakah sudah tepat kebijakan Pemerintah Arab Saudi membangun hotel dan mall yang sangat mepet dengan Baitullah dan  Mesjid Haram?.

Ketika berada di lantai tertinggi   hotel bintang lima di samping  Mesjidil Haram  itu, betapa hati saya sangat  teriris melihat Ka’bah menjadi benda kecil dan sangat kecil di kelilingi  oleh gedung-gedung pencakar langit yang megah.

Dari Ka’bah yang menjadi kecil dibanding gedung-gedung sekitarnya itu, kini dengan mudah kita mengakses mall-mall, hotel berbintang  serta pusat perdagangan lainnya yang ada di sekeliling Mesjidil Haram. Begitu dekatnya!. Sehingg jika Anda berada di sisi Baitullah , Anda akan melihat gedung-gedung dan   tiang-tiang pancang yang tinggi mengelilingi mesjid mulia ini.

Apakah gedung-gedung yang terlalu dekat mengepung Baitullah itu tidak  megundang resiko?. Soal air misalnya, tidakkah air  sumur zamzam  akan tersedot untuk kebutuhan hotel dan mall?. Atau apakah fasilitas hotel berbintang dan mall yang begitu dekat dengan Mesjidil Haram tidak akan mengakibatkan air sumur zamzam berpotensi  terkontaminasi atau tercemar  oleh air kotor (air tinja dan lainnya)   yang bersumber dari toilet hotel berbintang dan mall yang ada di sekeling Mesjidil Haram?.

Andaikan  boleh berharap, alangkah indah jika  radius satu atau dua kilo meter   dari pelataran terluar  Mesjid Haram  itu dibebaskan  dari segala bentuk bangunan, dan hanya diisi dengan taman, pelataran, landscape dengan segala macam benda  serta   pepohonan yang dapat menghijaukan dan menyegarkan udara di sekeliling Baitullah.

Alangkah indahnya pula  jika dibuat kolam air mancur sederhana di sana-sini. Atau  diperbanyak payung-payung indah  seperi di Mesjid Nabawi dan biarkanlah  hotel-hotel dan mall  yang menjulang tinggi itu  memiliki jarak yang cukup jauh dari  Mesjidil Haram, sehingga keagungan Mesjidil Haram  dan spritualitaasnya akan terawat sepanjang masa.

Tapi tentu ini hanya harapan seorang musafir,  mari kita serahkan semua itu kepada Pemerintah Saudi, karena bukankah mereka telah mengklaim  diri mereka  sebagai  khadimul haramain--- pelayan dua tanah haram.[]


Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...