Istanbul, Sebuah Kota di Dua Benua

By 22.31.00






Melihat posisi dipeta, Kota Istanbul merupakan satu-satunya kota di dunia yang terhampar di dua benua, yaitu Benua Eropa dan Benua Asia.  Bagian utama kota itu  membentuk bagian paling tenggara Benua Eropa yang  dipisahkan oleh Selat Bosporus di sisi Asia  Barat. Selat Bosporus yang terlihat sangat indah itu mengalir melalui celah dalam yang memisahkan dua benua tersebut  di sudut barat laut Turki. 

Posisi Istanbul  yang berada di dua benua  itu  menyebabkan terjadinya percampuran dua budaya (Eropa Tenggara dan Asia Barat)   sehingga secara alamiah menjadikan Istanbul semakin menarik untuk dijelajahi. Terutama terkait kemajemukan dan kebhinnekaan  budaya yang dimilikinya. 

Kini, sekalipun Istanbul bukan lagi ibukota Turki, namun karena Istanbul pernah menjadi ibukota kekaisaran dunia maka  sampai saat ini Kota Istanbul  tetap menjadi kota penting di Turki. Konon eskalasi politik di Istanbul menjadi barometer suasana politik naasional Turki.

Di Istanbul bersama rombongan saya menginap di Hotel Ramada, sebuah hotel yang terletak di pinggir Kota Istanbul. Dari sejumlah sumber yang coba saya konfirmasi, Istanbul  merupakan salah satu  kota terbesar di  Turki yang  menjadi jantung ekonomi, budaya, dan sejarah negara ini. Dengan jumlah penduduk 13,9 juta (berdasarkan penelusuran di Google), kota ini membentuk salah satu  aglomerasi perkotaan terbesar di Eropa dan termasuk salah satu kota terbesar di dunia menurut jumlah penduduk di dalam batas kota.

Istanbul yang memiliki luas 5.343  km (2,063 mil) ini berbatasan dengan  provinsi Istanbul dan menjadi ibu kota administratifnya. Istanbul adalah kota lintas benua yang membentang melintasi Selat Bosporus salah satu perairan tersibuk di dunia— di Turki barat laut, antara  Laut Marmara dan Laut Hitam . Pusat perdagangan dan sejarahnya terletak di  Benua Eropa, sementara sepertiga penduduknya tinggal di Benua Asia  bagian barat.

Dengan demikian, seperti saya sebutkan sebelumnya, Turki adalah negara unik. Di satu sisi menjadi bagian dan Eropa, di sisi lainnya masuk dalam Benua Asia. Karena itu sampai hari ini Turki  terus berusaha menjadi bagian dari Masyarakat Eropa (ME) sekalipun belum berhasil  karena simbol Islam masih begitu kentara pada steriotipe Turki yang merupakan salah satu hal yang tidak disenangi  Masyarakat Eropa.

Karena mayoritas  agama yang dipeluk rakyat Turki adalah Islam maka  secara umum orang Eropa tidak terlalu berkenan dengan Turki,  bahkan oleh segelintir pihak di Eropa Turki disebut mereka  sebagai orang sakit Eropa.
 
Letaknya yang berada di perbatasan Eropa dan Asia itu menjadikan Turki kaya budaya, sejarah, dan kuliner. Berkeliling di  Istanbul, wisatawan  dimanjakan dengan keindahan bangunan rumah ibadah seperti Blue Mosque, Istana Topkapi Sarayi, bazaar, restoran, dan pemandian yang  sangat terkenal  yaitu Suleymaniye Hamam.

Istanbul merupakan salah satu kota dengan kunjungan wisatawan tertinggi di dunia, jumlah kunjungan turis yang datang ke sana dalam sebulan konon kurang lebih sama dengan jumlah kunjungan wisatawan asing yang ke Indonesia selama setahun.  

Salah satu daya tarik Turki atau Istanbul adalah catatan sejarahnya yang penuh dengan cerita. Diantaranya  tentang peperangan dua agama terbesar di dunia  yang terjadi  di siniyaitu antara Islam dan Kristen. Dalam sejumlah buku sejarah dicatat betapa sejumlah negara Eropa ketika itu dan bahkan sampai hari ini sangat kecewa dengan kejatuhan Konstantinopel/ Istanbul ke tangan umat Islam.

Kisah fenomenal Muhammad Al Fatih tentang pendudukan Benteng Konstantinopel  juga menjadi sebuah cerita sejarah yang banyak menjadi inspirasi kaum muslim untuk berkunjung ke Istanbul dan Turki. Sebuah Benteng dan kota yang selama ratusan tahun dikuasai pihak  Kristen Ortodo  Yunani dan terkenal sulit untuk ditembus yang akhirnya bisa ditaklukan oleh Al Fatih.

Buat Anda pecinta kuliner, Turki menjadi salah satu daya tarik sendiri, aneka macam makanan tersedia menjadikan Lira (mata uang di Turki) yang kita bawa semakin menipis kalau tidak bisa menahan keinginan.
Kebab Turki yang kita kenal di Indonesia, ternyata di Turki disebut doner, sedangkan kebab asli Turki isinya adalah nasi seperti nasi goreng tapi sedikit, ada daging, dan sayur sayurnya serta cabe hijau besar.

Sajian kuliner khas Turki banyak ditemukan di beberapa restoran pinggir jalan. Atau jika ingin membeli suvenir dan oleh-oleh khas Turki, para wisatawan tinggal mencari bazar yang ada di sekeliling kota. 

Yang pasti, tiga hari menikmati keindahan Kota Istanbul belumlah memadai. Namun karena keterbatasan waktu selama tiga hari  saya dan kawan-kawan berupaya maksimal menjelajah setiap lekuk kota  Sultan Al-Fatih itu. 


Selamat tinggal Istanbul, kami tunggu kabar baru dari mu,  insya Allah kami akan kembali lagi. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...