Jejak Islam di Swiss

By 22.33.00

Swiss juga dikenal dengan nama Switzerland. Negara dengan nama resmi  Confoederatio Helvetica  atau biasa disingkat menjadi CH  ini terlihat indahnya bukan main. Sehingga tidaklah berlebihan bila penulis senior Indonesia, Ramadhan KH dalam salah satu tulisannya menyebutkan bahwa, “Tuhan pasti tersenyum ketika Ia menciptakan Swiss”.

Di setiap bagian negeri ini kita dapat menikmati kesempurnaan paduan danau, sungai, bukit, pepohonan, rumah-rumah berwarna warni serta puncak gunung bersalju yang sudah disuguhkan sejak pertama kali memasuki wilayah negeri ini. Sepertinya negeri ini tertib, makmur banget dan menyenangkan.

Swiss adalah republik  federasi yang berada di Eropa Tengah. Luasnya relatif kecil hanya 421.285 km persegi. Negara beribukota Bern ini terdiri dari 26 negara bagian yang disebut “Canton”. Secara geografis, Swiss dibatasi oleh Jerman, Prancis, Italia, Austria dan Lienchtenstein. Karenanya wajar saja jika negeri ini memiliki empat bahasa resmi: Jerman, Prancis, Italia dan Romansh.

Saya berada di Swiss selama dua hari dan sangat menikmati keindahan negeri ini.

Jejak Islam
Dari sejumlah sumber informasi diketahui ternyata Islam bukanlah agama yang asing di Swiss. Di berbagai pojok negeri Swiss sangat mudah di jumpai perempuan berjilbab.

Dalam sejumlah catatan sejarah, masuknya Islam ke Swiss dimulai saat para pelaut muslim Andalusia (catatan: Kesultanan Islam pernah menguasai Andalusia, Spanyol lebih kurang 700 tahun) membangun sebuah negeri di Prancis Selatan. Kemudian para pelaut muslim itu menaklukkan negeri-negeri di sekitarnya menuju ke arah utara, sehingga pada tahun 939 M/ 321 H sampailah mereka ke wilayah St Gallen di Swiss.
Lalu mereka memindahkan armadanya ke sana dengan tujuan untuk mengamankan  Andalusia. Salah satu caranya dengan membangun berbagai  menara pengintai di beberapa tempat di pegunungan Alpen. Bahkan kala itu, sebagian wilayah Pegunungan Alpen akhirnya dikuasai oleh pasukan Islam, sehingga memudahkan mereka untuk masuk ke wilayah itu dari arah laut.

Dalam catatan sejarah disebutkan, Raja Teutons yang menguasai Jerman saat itu pernah mengirimkan utusannya kepada Raja  Abdurrahman An-Nasir Pemimpin Kerajaan Islam Andalusia untuk membicarakan keberadaan tentera Islam di Wilayah St Gallen.

Setelah Kesultanan Islam Andalusia jatuh, sebagian umat Islam di sana  kembali berhijrah untuk menyelamatkan diri dari penyiksaan tentera Kristen. Mereka memasuki wilayah Swiss Selatan dan memutuskan untuk menetap di sana. Mereka bergabung dan menyatu dengan penduduk setempat.

Di pertengahan abad ke-14 Hijriah, Swiss kembali menjadi tempat hijrahhnya umat Islam.Sebagian kecil umat Islam kala itu mengungsi ke sana  setelah Perang Dunia II berkecamuk. Berkat kebaikan akhlak mereka dalam menyebarkan nilai-nilai Islam, beberpa penduduk asli Swiss  kala itu memeluk Islam.

Seorang yang termasuk golongan pertama masuk Islam adalah penyair Swiss Frithjof  Schuon yang sebelumnya  menganut sebuah agama yang beraliran kependetaan. Karena minatnya yang besar  pada Islam ia memutuskan  pindah ke Aljazair dan mengucapkan dua kalimah syahadat di sana.

Setelah mempelajari Islam ia kembali ke Swiss sambil terus mendakwahkan agama barunya  itu. Setelah masuk Islam ia dikenal dengan nama  As-Syaikh Isa Nuruddin Ahmad Al-Shadili Al-Darquwi Al-Alawi Al-Maryami. Di tangan dinginnya ada beberapa warga Swiss yang menyatakan memeluk Islam.

Umat Islam di Swiss terus bertambah jumlahnya disebabkan masukya imigran muslim dari negara lain, dan banyak penduduk asli Swiss yang memeluk Islam. Menurut sensus tahun 2009 saja, umat Islam di Swiss mencapai 4000 orang atau 4,26 persen dari total penduduk Swiss. Sangat diyakini  saat ini umat Islam di Swis terus bertambah, terutama dengan adanya gelombang pengungsi dari Timur Tengah ke sejumlah negara Eropa.

Kota Basel menjadi kota dengan jumlah umat Islam terbesar di Swiss. Kaum muslimin di Swiss sebagian besar adalah imigran dari Arab, Kosovo, Turki dan Afrika. Sebagian lainnya  para diplomat, pekerja professional, pegawai di PBB san pelajar yang sedang menempuh studi. Penduduk Swiss sendiri kebanyakan beragama Katolik Roma.

Pada tahun 1973, Raja Faisal  --- Raja Saudi Arabia ketika itu ---  berkunjung ke Swiss dan meletakkan batu pertama dalam rangka pendirian King Faisal Center yang lokasinya tidak jauh dari kantor PBB. King Faisal Center mencakup sebuah mesjid yang cukup besar, perpustakaan dan sekolah gratis untuk anak-anak muslim.

Dengan kondisi yang demikian, maka sangat jelas bahwa Islam bukanlah agama yang asing di Swiss. Tinggal selanjutnya bagaimana pola interaksi sosial politik umat Islam di negeri ini sehingga pada masa-masa yang akan datang Islam di negeri indah ini dapat dirasakan semua pihak benar-benar sebagai rahmatan lil ‘alamin. Moga-moga! []




Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...