Jenewa Kota Islami

By 22.36.00






Saya yakin, banyak dari Anda tidak setuju dengan judul di atas. “Jenewa kok  Islami, bukankah kebanyakan warganya penganut Katolik Roma?”, begitu barangkali komentar Anda ketika awal membaca reportase ini. Ya, apa hendak dikata, sekalipun mayoritas warga Jenewa adalah penganut Katolik Roma, faktanya harus diakui bahwa Kota Jenewa itu memang  Islami.

Sebagai informasi, Kota Jenewa merupakan kota terpadat kedua di Swiss, dengan populasi penduduk lebih dari 180.000 jiwa. Kota ini merupakan salah satu kota yang paling dikenal, karena beberapa organisasi internasional  menempatkan markas besarnya disini, seperti Palang Merah Internasional, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Komisi Hak Asasi Manusia, Organisasi Buruh Dunia, Dewan Gereja Sedunia, organisasi penyandang cacat dan lain sebagainya.

Selama berada di Jenewa saya sangat tertarik dan mengamati benar dinamika  kota ini yang menurut saya sangat luar biasa. 

Saya ingin menyampaikan beberapa fakta berikut ini terkait alasan  saya menyebutkan Jenewa Kota Islami. Selanjutnya terserah  Anda berkesimpulan masing-masing. 

Bagi saya sebuah kota islami tidak mesti di negeri Islam. Di negeri kafir pun, bila sebuah kota tertata dengana baik  dan memperhatikan kepentingan publik  sesuai dengan nilai-nilai Islam, maka kota itu adalah kota islami. Sebaliknya, sekalipun di sebuah  negeri Islam bila kotanya seronok, tidak teratur dan dinamikanya hanya untuk pencitraan, maka label kota tersebut sebagai kota islami layak kita diskusikan kembali.

Fakta pertama. Hari Minggu tanggal 13 September 2015  bersama  rombongan saya datang ke pusat perbelanjaan Kota Jenewa. Sekedar informasi saja, di pusat perbelanjaan yang terletaak di tengah-tengah Kota Jenewa itu terdapat berbagai pertokoan yang menjajakan berbagai produk dan merek terkenal di dunia. Katakanlah seperti Rolex, Hermes, Bucherer, Montblance, Prada, Benoid De Roski, Tissut,  dan lain-lain. 

Ternyata saya kecolongan. Keinginan sekerdar melihat-lihat saja berbagai merek terkenal dunia itu tidak kesampaian. Semua toko di pusat perbelanjaan Kota Jenewa tutup pada hari  Minggu. Menurut pengakuan beberapa pihak di Kota Jenewa, tradisi tidak berdagang di hari Minggu telah menjadi kebiasaan warga Kota Jenewa sejak ratusan tahun lalu.

Ternyata, warga Kota Jenewa tidak berjualan hari Minggu bukan karena hari libur atau kebijakan pemerintah. Lebih karena tradisi mereka yang relegiusitas. Mereka sengaja tidak berjualan hari Minggu  --- dengan konsekwensi kehilangan pendapatan milyaran rupiah --- hanya karena mereka  ingin bersiap-siap dan berkonsentrasi melaksanakan ibadah mingguan di gereja. Mereka boleh saja menjadi warga kota modern dan kapitalis, tetapi soal kekhidmatan beragama tidak mereka nomor duakan. Mereka tutup toko dan tidak lalu lalang di jalan saat prosesi kebaktian berlangsung  di gereja. Jalanan di Kota Jenewa benar-benar lenggang dalam interval waktu pelaksanaan ibadah Mingguan di gereja. Memang seuatu banget.

Saat berada di tengah pertokoan Kota Jenewa yang tutup di hari Minggu itu, saya teringat kondisi negeri sendiri. Di Aceh yang Serambi Mekkah, termasuk di Banda Aceh Kota Madani, hari Jumat bahkan saat berlangsung ibadah Jumat bukanlah detik-detik yang penuh khidmat dan sakral.  Banyak dan sangat mudah  menjumpai toko-toko  yang terus buka. Saat di mesjid sedang berlangsung ibadah Jumat, di jalan-jalan terus berlalu lalang kenderaan bahkan dengan klakson yang tidak sungkan. 

Fakta kedua.  Di tengah Kota Jenewa ada sebua dana yang indah. Danau Leman namanya. Di salah satu sudut danau itu  terpasang water fountain, yaitu air mancur yang yang memancar ke udara mencapai 140 meter. Water fountain  dapat dinikmati sambil santai dari tepi danau, baik siang maupun malam hari. Danau Jenewa dan pancuran air tersebut menjadi salah satu icon Kota Jenewa.  Yang menarik adalah, sekalipun sekeliling danau  itu  ada rumah penduduk tapi airnya tetap  bersih dan jernih , tidak ada sampah seperti di sejumlah sungai  di negeri kita. Masyarakat Kota Jenewa tidak buang sampah ke danau. Dan ternyata kearifan mereka merawat danau dengan salah satunya tidak membuang sampah ke dalamnya telah menghadirkan keuntungan luar biasa dalam bentuk keindahan kota dan mendatangkan keuntungan finansial dari kunjungan wisatawan. 

Melihat danau Jenewa yang bersih dan kesadaran warganya tidak membuang sampah ke danau pikiran saya seperti melayang  ke Daerah Aliran sungai (DAS) Krueng Daroy, Krueng Aceh dan berbagai krueng lainnya di Aceh. Tidak hanya sampah, kebanyakan tali air di Aceh itu  juga penuh dengan sampah-sampah kimiawi lainnya.
Fakta ketiga. Jenewa kota yang sangat tertib dan bersih. Tidak ada yang membuang sampah dan putung rokok sembarang tempat. Hutan dan taman kota tertata rapi dan hijau. Lalu lintasnya juga sangat tertib. Tidak ada keriuhan klakson. Tidak ada pengendara kenderaan yang ugal-ugalan, sok kuasa dan merasa sebagai penguasa jalan. Tidak ada yang menerobos lampu merah. Di sini juga ada pengendara mobil gede, tapi jalannya sendiri-sendiri dan tetap mengikuti tertib lalu lintas. Bukan seperti pengendara mobil gede di negeri kita,  jalannya bergerombol, merasa sebagai penguasa tunggal di jalan,  menerobos lampu merah serta tanpa sadar mengganggu pengguna jalan lainnya plus dikawal polisi lagi. 

Dan yang paling istimewa adalah penghargaan kepada pejalan kaki. Di setiap  traffig light di Kota Jenewa selalu ada sinyal lampu untuk pengguna jalan kaki --- tidak hanya untuk kenderaan. Sehingga dengan karenannya pejalan kaki tahu kapan dia aman menyeberang dan kapan harus berhenti. Pengendara kenderaan di sini langsung melambat dan menghentikan kenderaannya bila ada pejalan kaki  --- terutama perempuan dan anak-anak --- menyeberang jalan. Kontras benar dengan kondisi di Negeri Syari’at kita, ketika ada yang menyeberang jalan pengendara bukan malah melambat tapi mempercepat dan diiringan belalakan mata, klakson keras dan umpatan.

Minimal dengan tiga fakta di atas dan kalau diurut masih banyak yang lainnya, saya merasa sangat layak bila Kota Jenewa disebut kota yang islami.  Warganya sangat religius. Kotanya  bersih, hijau serta berudara  segar.  Termasuk tidak ada warga yang merokok sembarang tempat.  Lalu lintas terbit serta Pemerintah Kotanya  sangat berempati kepada  kepentingan warga. Suasana kotanya teduh dan menyenangkan. Tidak membuat stress.

Nah, dengan fakta demikian, sepakatkah Anda  bila saya  menyebut Kota  Jenewa sebagai kota Islami?. Lalu bagaimana dengan kota-kota di Aceh yang kita klaim Islami?. Atau menurut Anda kita lebih baik enjoi aja: apalah arti sebuah nama!. [].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...