“Kekuasaan itu Kebenaran”

By 23.21.00


Suatu waktu dalam sebuah forum terjadi perdebatan menegangkan antara  Socrates dengan Trasymachus. Trasymachus adalah anak muda Yunani yang radikal dan tidak sabaran. Trasymachus jengkel dengan Socrates yang menjelaskan keadilan dengan pertanyaan.

Ia menginterupsi dan menggertak Socrates, “Omong kosong dan apa ini semua, Socraetes?. Untuk apa berperilaku seperti anak kecil, bersikap sopan pada setiap pendapat ?. Jika Anda ingin tahu apa itu keadilan, berhentilah bertanya dan membantah siapa saja yang menjawab Anda. Anda tahu persis lebih mudah bertanya ketimbang menjawab. Anda harus memberikan jawaban. Katakan apa itu keadilan?”.

Dengan sabar, walau agak panik, Socrates menjelaskan  bahwa ia sendiri tidak tahu apa itu keadilan. Ia sedang berusaha keras menemukan jawabannya. Untuk itu, ia harus bertanya dan bertanya.

Trasymachus meradang. “Jadi, inilah kearifan Socraetes. Ia tidak mau mengajari orang sedikit pun, kecuali berputar-putar mengambil pelajaran dari orang lain. Tidak berterimakasih lagi”.

“Memang benar, Trasymachus, saya belajar dari orang lain. Tetapi tidak benar kalau saya tidak berterimakasih. Saya sangat dermawan dengan pujian, satu-satunya balasan yang dapat saya berikan, karena saya tidak ber-uang. Sebentar lagi bakal kau lihat betapa mudahnya  saya memuji jawaban  jawaban yang baik, karena saya yakin jawabann yang akan Anda berikan  pasti baik”, Jawab Socrates.

“Dengar, kalau begitu”, kata Trasymachus. “Saya bilang, keadilan atau kebenaran  hanyalah apa yang menjadi kepentingan  golongan lebih kuat. Sekarang mana pujianmu itu?.  Saya sudah melihat Anda akan membantah jawaban ini.  Setiap jenis pemerintahan  menjalankan hukum  untuk kepentingan penguasa. Pada pemerintahan demokrasi, hukum demokratis; tirani, hukum tiranis; dan seterusnya.

“Dalam menetapkan hukum itu, mereka menetapkanya dengan jelas bahwa apa yang “benar”  bagi rakyat adalah apa yang menjadai kepentingan penguasa. Siapa yang menyimpang dari sisi hukum sebagai pelanggar dan “penjahat”.

“Inilah yang saya maksud bahwa “yang benar” sama saja di semua negeri: kepentingan pemerintah berkuasa; dan pemerintah adalah unsur  terkuat di setiap negeri. Jadi, kita berdalih dengan benar bahwa yang benar selalu sama: Kepentingan yang lebih kuat” (Plato, Republik).

Kita tidak menurunkan dialog ini seluruhnya, karena kita harus menulis kembali semua isi  Republik. Dalam diskusi itu, Plato memenangkan argumentasi Socrates. Pertama, karena Socrates adalah guru dan idola yang paling dia kagumi. Kedua, karena Plato seorang idealis.

Sejak itu semua orang memperjuangaakan keadilan. Dalam wacana filsafat, keadilan Socrates lah yang menang. Dalam kehidupan nyata, keadilan Trasymachus – lah yang dominan terjadi.  Might is right. Kekuasan itu kebenaran.  Rakyat bisa berdebat tentang pihak mana yang benar. Tetapi keputusan penguasalah yang harus diikuti. Setiap orang bisa member  makna berlainan  pada apa yang terjadi di sekitarnya: mulai dari situasi ekonomi, seperti soal harga, sampai sampai situasi politik, seperti Pemilu.

Tetapi makna yang benar adalah makna  yang ditetapkan pemerintah. Yang berbeda dianggap melanggar hukum dan berbuat jahat.

Alkisah, suatu ketika, dunia margasatwa diserang wabah penyakit.  Diduga wabah itu merupakan azab Tuhan karena kejahatan  penghuni dunia itu. Baginda Singa, tokoh nomor satu di Kerajaan Rimba, dengan memelas mengakui, “Akulah penyebab semua bencana itu. Pekerjaanku memakan warga yang lemah seperti domba dan kambing”.

Serigala segera membantah. Yang dilakukan singa adalah konsekwensi atau implikasi dari  kekuasaan. Memakan warga adalah  un chimerique empire.  Seorang demi seorang dari pembesar margasatwa mengakui kesalahannya. Pengadilan selalu memutuskan mereka tidak bersalah.

Si Keledai berbicara. “Mungkin akulah yang bersalah. Aku pernah makan rumput yang tumbuh di kebun orang lain, karena kelaparan”.  Gemuruh juri di pengadilan margasatwa menuding   keledai dan berteriak,  “Makan rumput orang. Alangkah buruknya kejahatan itu”.

Keledai itu pun dikorbankan untuk menyelamatkan Kerajaan Rimba dari bencana. Ada pesan moral di akhir kisah ini: Bagaiamana keadaan Anda, kuat atau lemah?. Itulah yang akan menentukan hitam putih Anda dalam mahkamah.

Kecuali beberapa periode singkat, sejarah umat manusia selalu membuktikana kebenarah kisaha di atas. Tapi kebenaran maahkamah manusia di bawah kebenaran mahkamah hati nurani, dan kebenaran mahkamah hati nurani di bawah kebenaran mahkamah hari kiamat. “Sungguh Aku bersumpah denagan pengadailan ahari kiamat. Dan sunggunb Aku bersumpah dengan pengadilan diri yang mencela”.  (QS. Al-Qiyamah” 1-2).

Nabi Muhammad menawarkan kepada kita, apakah kita berkuasa atau toidak, terhadap pilihan ini: “Akan dating sepeninggalku suatu kaum yang di dalamnya tidak tegak kekuasaan kecuali dengan pembunuhan dan pemaksaan; tidak tegalk  kekayaan, kecualaia dengan kesombongan dan kebakhilan; tidak tegak kecintaan, kecuali dengan  mengikuti hawa nafsu kebanyakan orang. Barang siapa menemuia zaman seperti itu,  dan bersabar dalam kemiskinan walauaapun sanggup kaya, bersedia menerima kebencian walau bisa disukai, tabah menanggung kehinaan walau mampu dihormati, semua diulakukannaya demi mengharapkan keridhaan allah SWT. Allah akana amaemberikannya pahala lima puluh orang shiddiqin. Nyan ban!..[].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...