Koalisi Anjing - Babi

By 23.51.00


Saya minta Anda tidak langsung negatif thingking  atau berburuk sangka saat pertama membaca judul di atas. Berbaik sangkalah sejenak sampai tulisan ini Anda baca dengan benar dan tuntas. Bagi saya ini penting disampaikan, karena sementara kita cukup  membaca judul saja tanpa menelisik narasainya secara utuh, langsung membuat sebuah kesimpulan. Oleh pembaca yang demikian, akhirnya setiap narasi yang dibacanya selalu disimpulkan secara absurd. Jauh panggang dari api.

Tulisan ini tidak ada korelasi apalagi koneksi dengan dinamika atau fenomena politik tertentu di sebuah ruang dan waktu tertentu pula. Bukan pula sebuah sinisme terhadap tokoh politik tertentu apalagi sebuah sarkasme terhada gaya berpolitik sejumlah politikus dan genre politik tertentu. Fakta dan data tulisan ini seratus persen berasal dari dunia fabel (binatang). Bila kemudian setelah membaca tulisan ini Anda menemukan  kesamaan peran dan watak dengan tokoh tertentu (he..he)  --- meminjam narasi dunia sinetron Indonesia --- maka semua itu hanya sebuah kebetulan.

oo0oo


Jum’at, 25/12/2015, oleh seorang tokoh muda Lhok Nga, Aceh Besar saya diajak Shalat Jum’at di sebuah mesjid di Gampong Layeun, Aceh Besar.

Mesjid itu mungil tapi indah. Terletak di antara kaki gunung dan tepi pandai yang  menawan di pinggiran jalan Banda Aceh – Meulaboh itu. Sangat nyaman Salat Jum’at di sini, di samping hembusan angin pegunungan dan deru ombak dari tepi pantai, khutbah di mesjid ini sering disampaikan dengan bahasa Aceh sambil memegang tongkat.

Sebulan sekali, bersama tokoh muda Lhok Nga yang sudah seperti abang  sendiri itu  saya salat di tempat ini kemudian makan siang di sebuah warung sederhana di lereng gunung dan seterusnya  sambil pulang ke arah Banda Aceh minum kopi tubruk di sebuah warkop  beratap rumbia langganan kami di Gampong Lam Lhom.

Bagi saya ngopi di Gampong Lam Lhom ini bukan sekedar enak, tapi juga suasana kedainya yang menarik. Setiap selesai Salat Jum’at di kedai ini sejumlah laki-laki dewasa gampong ngopi sejenak sebelum mereka melanjutkan profesi masing-masing di hari itu. Walau sejenak berinteraksi dengan laki-laki dewasa di tempat ini, saya sering mendapatkan sejumlah cerita menarik dari mereka. Mulai dari cerita lucu pejabat yang merahasiakan isteri mudanya, sampaikan kepada sejumlah isu berat terkait politik. Ternyata walau sebagian besar penduduk gampong ini petani tetapi mereka melek politik.

Jum’at kemarin saya dapatkan sebuah cerita yang tidak kalah menarik dari mereka. Ceritanya memang sederhana, tetapi ketika pulang sambil nyetir mobil saya berpikir ulang: Ini bukan cerita biasa, ada pesan moral dari cerita ini dan yang paling peting menurut saya cerita ini layak direnungkan.

Di warung kopi itu kepada saya, Cut Ma’e --- begitu kami memanggilnya --- mengeluhkan soal tanaman padinya yang tidak aman akhir-akhir ini, baik saat siang apalagi di kala malam. “Padi saya sebentar lagi panen, tapi saya tidak yakin padi itu bisa saya bawa pulang ke rumah”, katanya dengan mimik serius.

“Kenapa Cut?”, saya mencoba meresponnya.

Dia pun menejelaskan bahwa babi huta yang ada di Lam Lhom akhir-akhir ini doyan makan padi. Padahal sebelumnya babi huta di daerah ini tidak pernah terpikir menjadikan padi di sawah sebagai salah satu daftar menu mereka. Ini semuanya menurut Cut Ma’e terjadi  setelah peristiwa tsunami, dimana ketika itu babi hutan kesulitan makanan lalu mencoba makan padi dan akhirnya lidah babi hutan ini merasa enak dengan citarasa makanan barunya itu. Akhirnya menurut Cut Ma’e di gampong nya itu babi hutan menjadi salah satu pengganggu utama petani di sawah.

Karena merasa berempati, saya bertanya kepada Cut Ma’e, “Apakah di gampong ini tidak ada anjing?”.

 “Ooo... banyak, tapi anjing di sini tidak mau lagi mengusir babi hutan”, kata Cut Ma’e lirih. “Kami sering di waktu malam mendapatkan anjing-anjing dari gampong ini beristirahat di sebuah tempat yang sama dan tidak saling mengganggu dengan babi”, tegas Cut Ma’e lebih lanjut.

Menut Cut Ma’e ini adalah fenomena alam yang luar biasa. Lazimnya  anjing – babi  adalah musuh bebuyutan. Setiap melihat babi anjing pasti akan bertindak, kalau tidak mengejar ya sekedar menggonggong. Jarang sekali seekor anjing bersikap pasif ketika bersua babi, kecuali anjing tersebut sedang sakit gigi. Ini yang terjadi malah mereka saling baikan.

oo0oo

Mendengar cerita Cut Ma’e tersebut sambil berseloroh saya berkata kepadanya, “Ooo... itu namanya Koalisi Anjing-Babi”. Seorang teman Cut Ma’e yang sejak dari awal mengikuti pembicaraan kami pun ikut tertawa lepas. “Macam dum ka lagee di parlemen keudeh, pakek koalisi”, katanya sambil terus tertawa lebar.

Ya, bukan tidak mungkin secara alamiah dunia binatang dengan instink yang dimilikinya terus mengikuti dan menyesuaikan pola interaksi dan komunikasi di antara mereka seperti yang dilakukan manusia. Tentu dalam tulisan ini saya harus membatasi pertanyaan  konyol : Siapa mengikuti siapa?. Apa pola koalisi itu dicontohi dari manusia, atau sebaliknya pola koalisi yang ada di dunia politik kita saat ini justru mengikuti tabiat binatang?.

Karena setiap menulis artikel saya  selalu berhadapan dengan dua kendala: Sulit memulai dan susah mengakhiri, maka untuk memudahkan saya mengakhiri tulisan ini maka kita sepakati saja bahwa kasus anjing-babi di atas bisa saja sebuah koalisi di dunia binatang.

“Emangnya manusia aja bisa berkoalisi, kita juga bisa man!”,  mungkin lebih kurang demikian komentar anjing-babi di atas bila kedua binatang ini  bisa berbicara seperti kita.

Seperti di realitas dunia politik manusia dewasa ini kita sama-sama telah menyaksikan bahwa tidak ada kawan dan lawan yang abadi, yang abadi justru kepentingan. Maka   --- mungkin --- kepentingan yang sama  pula yang telah menyebabkan anjing dan babi di Lam Lhom itu berkawan. Dua binatang yang dulu bermusuhan itu, sekarang berteman baik. Mereka merajut koalisi. Tapi barangkali bukan koalisi permanen?.

Lalu bagaimana dengan anjing dan babi di kampung Anda?. Apakah mereka sudah berkoalisi atau paling kurang sedang menjejaki koalisi. []

- Tulisan ini pernah dipublis di Acehtrend tanggal 26/12/2015

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...