Makam Syuhada Waihaong, Saksi Pembantaian Muslim Ambon

By 23.19.00



Ini adalah kali pertama saya  menginjakkan kaki di  Kota Ambon. Sebagai official Kafilah MTQN XXIV dari Aceh, begitu mendarat di Bandara  Internasional Pattimura  saya dan kawan-kawan langsung disambut dengan kalungan bunga dan Tarian Hadrat (tarian khas muslim Maluku). Di seantero ruang bandarapun  terus menerus diputarkan nasyid  Ya Rasul salamun’alaik. Sesuatu yang selama ini menurut informasi yang saya terima  tidak pernah ada.

Memang melalui even MTQN XXIV ini Pemerintah Maluku bermaksud mendesain ulang citra keamanan dan kohesi sosial yang tidak kondisif di negeri yang di juluki Jazirah Al Muluk  (negeri para raja) ini. Sebagaimana kita ketahui dari tahun 1999 – 2022 Maluku  --- khususnya Kota Ambon ---- terbakar bara konflik antara umat Islam dan Kristen.

Dari H-7 Pembukaan MTQN XXIV tersebut melalui sejumlah media  nasional Pemerintah Maluku mencoba mempublikasikan kondisi Ambon  yang sudah pulih. Misalnya, sebuah koran terkemuka di Jakarta, Jumat, 1/6/2012, melaporkan bahwa  umat Kristiani Ambon siap menampung Kafilah MTQN, bahkan  kamar di Keuskupan Maluku dan Rumah Dinas Ketua  Sinode Gereja maluku disiapkan untuk menampung peserta MTQ.

Suasana familiar menyambut dan menyukseskan MTQN XXIV  di Kota Ambon memang berhasil di kondisikan.  Di sepanjang jalan dan seantero Kota Ambon, bahkan sampai ke lorong-lorong kecil sekalipun spanduk dukungan dari berbagai elemen lintas agama berkibar sepanjang hari. Gubernur  Maluku , Karel  Albert Ralahalu  dan Presiden SBY, saat acara pembukaan  juga menegaskan  perihal tingginya semangat toleransi antar umat beragama di Ambon yang direfleksikan dari dukungan kolektif masayarakat Ambon dalam pelaksanaan MTQN ini.
Siapa pun yang datang ke Ambon dari tanggal 8-15 Juni 20112 pasti akan berdecak kagum akan tingginya semangat toleransi dan kerjasama antar umat Islam dan Kristen di Ambon. Setengah dari sterring commite dan organizing comite MTQN XXIV adalah non muslim. Begitu juga di rumah-rumah non muslim nyaris tidak ada satu pun  yang tidak menaikkan umbul-umbul dan spanduk dukungan terhadap pelaksanaan even nasional ini. Pokoknya seluruh pojok Kota Ambon dalam pekan ini gegap gempita menyambut dan menyukseskan kegiatan MTQN.
Melihat Ambon saat pelaksanaan MTQN ini seakan tidak pernah ada persoalan konfilk antar ummat beragama di daerah penghasil rempah ini. Seperti kata Presiden SBY saat membuka acara: Ke depan Ambon akan jadi laboratorium kerugunan beragama sekaligus tanah yang subur bagi heterogenitas multukulturalisme di Indonesia. Ya, sebagai anak bangsa kita selalu berdoa semoga Ambon damai selamanya.

Tapi tahukah anda dari tahun 1999 sampai dengan 2022  Ambon Manise ini pernah diamuk konflik berat. Sekalipun ketika itu banyak yang mengatakan yang terjadi di Ambon bukan perang agama, tetapi ketika itu umat Islam dan Kristen saling berhadap-hadapan. Saling cepat menghabisi. Yang diserang adalah mesjid atau gereja. Satu pihak membawa salip ketika menyerang sedang di pihak lain meneriakkan takbir ketika mengejar musuh.

Menurut Abdullah Utaya, seorang tokoh Muslim dari Kawasan Batu Merah, akibat dari konflik tersebut, sampai saat ini Ambon, menyisakan sebuah kisah traumatis bagi bagi umat Islam maupun umat Kristen.  Menurut Abdullah,  saat konflik tersebut di Ambon pernah   ada jalan dibagi dua, kantor dibagi dua, pasar dibagi dua, pemukiman dibagi dua, terminal juga  dibagi dua untuk komunitas Islam dan Kristen.
 Konflik  horizontal yang  terjadi di Ambon tersebut telah menelan  banyak . Ketika saya mengunjungi daerah –daerah muslim di Ambon seperti Air Salobar, Batu Merah dan  Waringin masih dapat disaksikan dengan kasat mata bekas rumah penduduk yang terbakar. Begitu juga di daerah komunitas Kristen seperti Kuda Mati, Merdika, dan Ponegoro.

Rumah ibadah juga ikut rusak. Di dekat Tugu Trikora misalnya ada dua rumnah ibadah yang rusak, yaitu Gereja Silo dan Mesjid An-Nur. Saat ini kedua rumah ibadah itu telah dibangun kembali oleh Perintah Maluku, Cuma persoalannnya Gereja Silo dibangun ulang dengan konstrusi yang megah sedangkan Mesjid An-Anur direnovasi alakadarnya saja. Melihat kedua rumah ibadah itu dari sisi Tugu Trikora, terlihat ada ketidak adilan perhataian Pemerintah Maluku terhadap pembangunan Gereja dan Mesjid tersebut. Sesuatu yang sangat sensitif dan dapat saja memicu benturan di masyarakat.

Apapun kondisi hari ini, konflik Ambon tetap membekas di memori masyarakat di daerah ini. Salah satu saksi sekaligus monumen  dari konflik Islam –Kristen di Ambon adalah  Komplek Makam Syuhada di Desa Waihaong  Kecamatan  Nusaniwe yang berdekatan dengan Islamic Center Ambon .

Makam Syuhada ini adalah tempat dimakamkannya kaum Muslimin yang gugur dalam jihad Ambon yang terjadi pada tahun 1999 -2002. Dimana seperti saya sebutkan sebelumnya  pada rentang waktu tersebut terjadi konflik horisontal antara kaum Muslimin dan kaum Nasrani di Maluku dan Maluku Utara dengan epsentrumnya Kota Ambon.

Konflik yang bermula dari peristiwa tragedi Idul Fitri berdarah pada 19 Januari 1999 tersebut telah memakan banyak korban jiwa dari kaum Muslimin. Tindakan biadab dari kaum salibis yang melakukan penyerangan terhadap kaum Muslimin yang sedang merayakan Hari Raya Idul Fitri tersebut menjadi pemicu perang  yang berkepanjangan di Maluku.

Peristiwa tragedi Idul Fitri berdarah itu dalam catatan banyak pihak  telah membangkitkan gelora jihad dari kaum Muslimin yang bukan hanya di Maluku tapi juga di Indonesia bahkan dunia, demi melawan kedzaliman umat Kristen.




Jihad Maluku telah menyatukan kaum Muslimin Indonesia dan mendatangkan simpati dari kaum Muslimin di dunia. Mereka yang turun dalam front jihad di Maluku bukan hanya putra-putra Islam Maluku tapi juga dari tempat lain di Indonesia dan juga dari belahan dunia lain. Anda mungkin masih teringat dengan Lasykar Jihad dan Forum Ukhuwwah Ahlussunnah Waljamaah Pimpinan Ustadz Jafar Umar Thalib.

Melalui  koordinasi, mediasi dan donasi dari  Forum Ukhuwwah Ahlussunnah Waljamaah inilah kala itu ummat Islam Ambon yang sudah terdesak dapat bangkit kembali. Dan sampai saat ini masyarakat Ambon masih mengenang dan tidak melupakan jasa Umar Thalib dkk yang telah membantu membantu mereka.
Ketika saya berkunjung ke perkampungan muslim Ambon banyak anak-anak muda yang dulu terlibat jihad bersama Umar Thalib menyakan kabar Sang Ustad Panglima Perang tersebut.

Selama  tahun 1999 -2002 banyak korban dari kalangan muslim di samping Kristen yang berjatuhan. Karena banyaknya korban yang berjatuhan dari kaum Muslimin pada masa itu, maka kemudian masyarakat Muslim Ambon berinisiatif menetapkan satu tempat untuk mengubur jenazah kaum Muslimin yang gugur dibantai pasukan Kristen  dan juga yang gugur dalam front jihad. Menurut Muhammad Ramli salah seorang pemuda Ambon yang teribat dalam perang tersebut, setelah diinventarisir sejumlah tempat,  maka kemudian dipilihlah sebuah tempat yang berlokasi di pinggir pantai di Desa Waihaong  di tepi Laut Ambon untuk memakamkan mereka. Tempat ini kemudian dikenal sebagai Komplek Makam Syuhada.
Menurut  Mulyana salah seorang Staf Sekretariat Islamic Center yang tidak jauh dari komplek makam itu,   kaum Muslimin yang dikubur di makam ini bukan hanya mereka yang berasal dari Maluku, namun para mujahid yang berasal dari luar Maluku, Bahkan di komplek makam syuhada ini kabarnya juga dimakamkan seorang mujahid yang berasal dari Yaman bernama Abdullah bin Ali. Beliau adalah salah satu mujahidin dari luar Indonesia yang turut berjihad di Ambon pada tahun 2000.

Abdullah bin Ali gugur dalam pertempuran di kampung Ponegoro pada bulan Juli tahun 2000 ketika bersama-sama kaum Muslimin mempertahankan kampung Muslim Ponegoro dari serangan salibis.

Menurut cerita Muhammad Ramli Ramli,  mujahid asal Yaman ini sebelumnya telah tertembak pada bagian kakinya pada pertempuran di Poka awal Juli tahun 2000. Pada pertempuran di Ponegoro sebenarnya Abdullah bin Ali masih terluka pada bagian kakinya, namun hal tersebut tidak menghalanginya untuk turut serta dalam jihad.
Masih menurut Ramli, pertempuran di kampung Ponegoro sendiri terjadi selama tiga hari, dan pada hari yang ketiga itulah Abdullah bin Ali syahid (Insya Allah) ketika dua butir peluru menembus tubuhnya. Ia gugur terkena tembakkan sniper Kristen.

Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, tiga hari sebelum kematiannya Abdullah bin Ali yang selalu mengisi hari-harinya dengan menghafalkan Al Qur'an pernah mengatakan bahwa ia tidak akan kembali ke Yaman sebab ia ingin mencari syahid di Ambon. Dan apa yang dicita-citakannya tercapai sudah, dan kini jasadnya terbaring di komplek Makam Syuhada Waihaong Ambon.

Mungkin banyak orang yang tidak mengenal Abdullah bin Ali dan tidak tahu dimana ia dikuburkan, namun Allah Subhanahu Wata'ala di arsy mengenalnya sebagai salah seorang hamba-Nya yang telah meninggalkan negerinya menuju Ambon untuk berjihad membela kaum Muslim yang tertindas  disana.


Makam syuhada Waihaong Ambon adalah saksi bisu  terjadinya pembantaian kaum Muslimin dan terjadinya jihad di Ambon. Namun sangat disayangkan kini kondisi makam tersebut terkesan kumuh dan kotor karena pada salah satu sisi komplek makam dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah.

Mudah-mudahan Makam Syuhada Waihaong akan terus menjadi pengingat bagi kaum Muslimin di Ambon akan pentinggnya kebersamaan, solidaritas , kesatuan ummat serta menjadi pemicu munculnya kesadaran akan pentingnya secara terus menerus meningkatkan kapasitas dan kompetensi umat Islam Ambon khususnya dan Maluku pada umumnya secara terus menerus.

Kepada segenap elemen bangsa, Makam Syuhada Waihaong ini sayogianya menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan berbangsa bahwa sikap intoleransi dapat merugikan kita semua, memorakporandakan hasil pembangunan, memakan biaya besar, serta butuh waktu panjang untuk rehabilitasi dan rekonsiliasi.

Damailah Ambon, zaman berzaman! [].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...