Mengapa Jokowi?

By 00.33.00


Kasihan bangsa yang negarawannya serigala/
Filosofnya gentong nasi/ dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru/
Kasihan bangsa yang menyambut penguasa barunya dengan terompet kehormatan/
Namun melepaskannya dengan cacian dan kutukan hanya untuk menyambut
penguasa baru dengan terompet lagi.  ----- Khalil Gibran.

Saya yakin pertanyaan di atas menggelayut dibanyak kepala orang Indonesia dewasa ini.

Mengapa Joko Widodo alias Jokowi yang selalu menjuarai hasil survey calon presiden 2014,  bukan sosok lain yang penampilan luarnya  jauh lebih ganteng  dan cakep dibandingkan  mantan Walikota Solo itu?.
Bukankah ada belasan figur lain yang  berpenampilan intelek dan teknokrat yang juga telah menyatakan diri sebagai capres Indonesia 2014?. Kenapa  Jokowi yang kerempeng --- meminjam istilah Megawati Sukarnoputri,  Kompas (18/3/2014) ---- mampu memudarkan pesona  dan aura capres lainnya?.

Mengapa jutaan mata dan hati rakyat Indonesia seperti dibutakan terhadap sosok lain yang juga  kepincut banget  jadi orang nomor satu di negeri ini. Dan yang menarik, mengapa pula nyaris tidak ada media yang mengkritik Jokowi, bahkan sebaliknya media  menjadikan musuh bersama  siapa saja yang usil  dan berani “mencolek” Jokowi.

Jawabanya sederhana,  seperti kata Khalil Gibran --- seniman dari Libanon --- di atas. Rakyat kita selalu suka yang baru dan cenderung membenci yang lama. Yang baru seakan menjadi sosok suci tanpa dosa dan mumpuni serta dengan  sim salabim abra kadabra  seketika   dapat   memenuhi hajat dan kehendak banyak pihak, baik lahir maupun batin. Sedangkan yang lama adalah sosok penuh dosa dan tidak berfaedah sama sekali.

Karena itu --- seperti kata Khalil Gibran --  mereka sambut penguasa baru  dengan terompet kehormatan, namun melepaskannya dengan cacian dan kutukan hanya untuk menyambut penguasa baru dengan terompet lagi.  Bagi saya inilah salah satu jawaban, mengapa Jokowi begitu popular dalam sejumlah survey akhir-akhir ini. Pada dua pemilu sebelumnya, publik kita begitu memuji SBY, di akhir periode Pak Beye publik yang dulu memujinya sekarang berbalik mencaci bersamaan dengan puja puji kepada Jokowi setinggi langit.
Sosok Jokowi mencapai titik popularitas saat rakyat jenuh terhadap gaya kepemimpinan SBY dalam sepuluh tahun terakhir ini. Rakyat sepertinya tidak tertarik lagi dengan sosok yang tampan, ganteng, tinggi besar dengan tutur katanya tersruktur dan tersusun rapi. Rakyat merasakan tampilan pemimpin  seperti ini bukan bagian dari solusi, tidak lebih sebagai pemimpin penebar pesona.

Di tengah kejenuhan masyarakat seperti inilah Jokowi menjadi menarik dan sepertinya menjanjikan perubahan  di Indonesia. Jokowi mendapatkan momentum yang tepat. Dengan dukungan dan setting media, Jokowi berhasil memposisikan dirinya sebagai pemimpin perubahan  atau calon permimpin yang berbeda dengan yang telah ada.

Kerinduan rakyat akan pemimpin yang saling mencintai seperti terobati dengan kemunculan Jokowi. Jokwi persis muncul seperti hayalan   publik yang sudah lama rindu akan pemimpin yang suka menyapa mereka dan tidak elitis. Tampilannya  yang kerempeng dengan stelan pakaian apa adanya dan tutur kata yang mudah dipahami ternyata mampu mempengaruhi memori  dan alam bawah sadar warga  Jakarta  bahwa Jokowi  sungguh beda dengan para gubernur sebelumnya. Akhirnya dalam Pilkada DKI Jakarta  Jokowi mampu menggeserkan jago-jago lainya.

Setelah menjabat Gubernur DKI Jakarta, warga Jakarta terutama masyarakat di akar rumput semakin terpesona dengan aura Jokowi. Aura Jokowi pun terus merebak ke seantero Indonesia. Bahkan beberapa waktu setelah PDIP mengumumkan pencapresan Jokowi, rupiah  menguat beberapa digit terhadap dolar AS. Sejumlah media menyebutnya sebagai efek Jokowi, tapi Menkeu Khatib Bisri menyebutnya tidak ada hubungan sama sekali.

Namun, kepopuleran dan tingkat elektabilitas Jokowi yang tinggi belum tentu menjadi jaminan bahwa Jokowi jadi par excellence sebagai Presiden Indonesia hasil pilpres 2014. Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur DKI Jakarta, bisa saja jokowi ok, karena  ada dua keistimewaan yang mendongkrak Jokowi menjadi  pemimpin efektif dan mumpuni. Namun perlu diingat keistimewaan dia sebagai Gubernur DKI Jakarta tidak akan diperoleh bila nanti dia terpilih sebagai presiden. Efektif sebagai gubernur belum tentu efektif sebagai presiden.

Jokowi efektif sebagai gubernur DKI Jakarta, disebabkan,  pertama, sebagai Gubernur, Jokowi adalah penguasa tunggal. Tidak seperti gubernur  lain di Indonesia, Jokowi dapat mengontrol penuh dinamika Jakarta tanpa terkendala dengan egoisme para walikotanya. Sebagaimana  kita ketahui, kepala daerah yang dipilih di DKI Jakarta hanya Gubernur dan Wakil Gubernur saja, sedangkan walikota ditunjuk dan bertanggung jawab langsung kepada Gubernur.
Dengan demikian, dalam kapasitasnya sebagai Gubernur , Jokowi dapat melaksanakan segala kebijakan secara efektif  sempai ke  level terendah tanpa ada  kendala  dan penentangan dari siapa pun. Para walikota di DKI Jakarta tidak memiliki pilihan lain kecuali mono loyalitas tunggal kepada Jokowi.  Berbeda dengan Gubernur lainnya di Indonesia. Bupati dan walikota di provinsi lain dapat saja tidak setuju dan tidak mendukung kebijakan gubernur dengan alasan otonomi daerah berada di level kabupaten/ kota. Kondisi inilah yang menyebabkan Jokowi dapat  memimpin dengan efektif dan mengeksekusi langsung setiap kebijakannya.

Setiap persoalan yang ditemuinya di Jakarta dapat segera dibereskan  Jokowi dan ini menjadi surprise bagi rakyat DKI. Berbeda dengan nasip para gubernur lainnya di Indonesia. Kemampuan Jokowi mengeksekusi kebijakannya secara efektif di Jakarta inilah kemudian berkembang sebagai opini publik bahwa Jokowi akan lebih hebat lagi bila jadi Presiden. Padahal kondisi medan dan tantangan  antara  Jakarta dengan Indonesia, antara posisi gubernur dengan presiden,  dalam banyak aspek sungguh  berbeda.

Kedua, dengan jadi orang nomor satu di Jakarta yang sekaligus ibu kota negara, porsi apresiasi media kepada Jokowi menjadi spesial. Nyaris tidak ada aktifitas Jokowi baik formal maupu non formal yang luput dari liputan media. Liputan dan sentiment media yang positif terhadap Jokowi merupakan modal yang tidak terhingga plus gratis  untuk mendongkrak popularitasnya.

Akhirnya, sebagaimana kita saksikan, bila kita search di googel misalnya, akan lebih banyak kita jumpai  berita dan foto Jokowi ketimbang SBY. Bahkan dalam beberapa acara  --- sebagaimana disiarkan telivisi ----  yang dihadiri SBY bersama Jokowi,  nama Jokowi lebih banyak dielu-elu ketimbang SBY.
Banyak pihak berkeyakinan --- kecuali Allah  SWT berkehendak lain ---  Jokowi akan jadi Presiden Indonesia dalam Pilpres 2014.

Namun banyak juga  berkeyakinan, bila memang Jokowi  terpilih jadi presiden  belum tentu dia lebih baik, alias belum pasti dia dapat memenuhi aspirasi rakyat  seperti dielu-elukan hari ini. Perlu diingat, Indonesia bukan Jakarta. Boleh jadi Jokowi sukses memimpin Jakarta  ---- dan ini pun belum terbukti ---- tapi itu bukan garansi dia akan sukses memimpin Indonesia.

Kekeramatan Jokowi selama ini belum tentu  mujarab untuk kontek Indonesia.  Apalagi bila jadi presiden, sebagai kepala pemerintahan dia harus berkoalisi dengan beberapa partai politik lain agar tidak diganggu oleh legislatif. Sebagaimana SBY hari ini, karena keniscayaan berkoalisi dalam memimpin pemerintahan, maka Jokowi nantinya bukan penguasa tunggal dan harus senantiasa menjaga dan mempertimbang libido politik mitra koalisinya. Jokowi juga akan berhadapan dengan “arogansi otonomi daerah”  para gubernur, bupati dan Walikota.

Jadi, belum tentu Jokowi bisa. Karena itu sekalipun ikhtiar kita begitu menggebu-gebu untuk merubah keadaan bangsa dan negara ini  ke arah  lebih baik, namun sekali-kali kita tidak boleh terjebak pada mitos. Karena mitos akan mendorong bangsa ini terus hidup dalam mimpi. Dan selama ini tanpa kita sadari sejumlah media telah terlalu jauh terlibat dalam memitoskan Jokowi. Seakan-akan tidak ada capres lain  yang bisa di Indonesia. Yang hebat hanya Mas Jokowi.

Semoga sentiment positif media yang terus dinikmati Jokowi saat ini  tidak membuatnya besar kepala. Sehingga bila  nanti benar jadi presiden, Jokowi  tidak akan menerima karma yang sama seperti Presiden Indonesia sebelumnya. Disambut dengan terompet dan dilepaskan dengan kutukan dan cacian. Nyan ban!. Peu na bantahan?.[].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...