Menjadi Tetangga yang Baik

By 01.06.00


Jika engkau mendengar tetanggamu berkata: 
`Engkau orang baik’, maka engkau orang baik. Jika engkau mendengar tetanggamu berkata:
 `Engkau orang jahat’, maka engkau orang jahat.”
 (HR. Imam Ahmad, Ibnu Majah, dan Ath-Thabrani)

IBNU Mas’ud ra menerangkan, hadis tersebut di atas merupakan jawaban bagi seseorang yang bertanya kepada Rasulullah saw; Bagaimana caranya supaya tahu bahwa saya orang baik atau tidak? Maka Nabi saw pun menjawab seperti kutipan hadis di atas.

Tetangga adalah orang yang paling dekat dengan kita. Apabila ia memberikan kesaksian bahwa seseorang itu baik, berarti orang itu memang baik. Makna lainnya, hal ini sebenarnya merupakan cara Aallah Swt menutupi kekurangan-kekurangannya, yang jauh melampaui apa yang diketahui oleh orang-orang yang memujinya. Kekurangan-kekurangan yang tidak diketahui oleh tetangganya itu termasuk bagian yang dimaafkan Allah Swt, karena Dia memang Maha Pemaaf.

Banyak masalah dalam kehidupan kita sekarang yang terabaikan oleh kebudayaan dan peradaban modern. Di antara masalah tersebut adalah hak-hak bertetangga. Pada saat jiwa manusia dipenuhi dengan keimanan, serta Islam telah menjadi konsep hidup umatnya, pada saat yang sama penghormatan atas hak-hak oraang lain menjadi nafas hidup sehari-hari.

Dalam situasi tersebut, orang akan berlomba-lomba melakukan kebaikan dan memberikan masing-masing hak kepada setiap orang. Akan tetapi, seiring dengan datangnya peradaban modern yang materialistis, nilai-nilai luhur itu tergerus dan berganti dengan paradigma kebendaan.

Manusia bahkan berubah menjadi alat yang bergerak di alam kehidupan yang kosong. Tanpa makna dan nihil perasaan. Kehidupan manusia menjadi kosong dari hati nurani yang mulia dan hampir tidak mengenal kemanusiaan yang mempunyai nilai luhur dan sakral.

Faktanya, sangat sedikit orang yang bisa keluar dari keterikatan serba benda yang seperti ini, kecuali mereka yang mempunyai fondamen keagamaan yang kuat dan telah mengenal Allah. Atau mereka yang tinggal jauh dari hiruk-pikuk suasana materialistik tersebut.

Di antara makna-makna mulia yang secara perlahan digeser oleh kebudayaan modern yang materialistis adalah hak manusia terhadap orang lain, dalam hal ini terhadap tetangga kanan-kiri dan depan-belakang.
 Hak-hak tetangga

Jika kita cermati secara seksama syariat Islam, maka akan dapati betapa besar perhatian Islam terhadap hak-hak orang lain (tetangga). Alquran, misalnya, telah menyebutkan hak-hak tetangga itu setelah hak Allah, kedua orang tua, hak-hak yang serahim, anak-anak yatim dan orang miskin.

Firman Allah Swt: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua ibu bapak, karib kerabat, anak-anak miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil, dan hamba sahaya. Sesungguhnya Allah Swt tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membangga-banggakan diri.” (QS. An-Nisa’: 36).

Dalam hadis Nabi saw dijelaskan bahwa malaikat Jibril as berkali-kali memberi wasiat kepada rasulullah SAW supaya berbuat baik kepada tetangga. Sampai-sampai beliau menyangka bahwa karena besar dan pentingnya tetangga sehingga mereka berhak menerima waris. Hal itu tergambar dalam hadis berikut ini.
Ibnu Umar dan Siti Aisya ra menyatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Senantiasa (seringkali) Jibril menasehatiku agar  berbuat baik pada tetangga, sehingga aku menyangka bahwa mereka akan diberi hak waris (mewarisi harta peninggalan tetangga).” (HR. Bukhari dan Muslim).

Bahkan menurut keterangan hadis yang lain, jika seseorang muslim tidak baik dengan tetangganya, menyakitinya, dan mengganggunya, maka dia dianggap melakukan dosa besar.

Rasulullah saw bersabda kepada sahabatnya: “Apakah yang kamu ketahui tentang zina? Mereka menjawab: Perbuatan zina itu diharamkan Allah dan Rasulnya dan diharamkan sampai hari kiamat nanti. Kemudian Rasulullah saw bersabda: Berzina dengan sepuluh wanita lebih ringan daripada berzina dengan tetangga. Lalu beliau bertanya lagi: Apa yang kalian ketahui tentang sariqah (mencuri)? Mereka menjawab: Allah dan Rasulnya telah mengharamkannya, dan mencuri itu tetap haram. Rasulullah saw bersabda: Mencuri dari sepuluh rumah lebih ringan bagi seseorang daripada mencuri dari (satu) rumah tetangganya.” (HR. Imam Ahmad).

Hadis di atas menjelaskan betapa melakukan sekali kejahatan terhadap tetangga sama dengan melakukan sepuluh kejahatan. Ini membuktikan betapa para tetangga kita adalah orang-orang yang harus dimuliakan.
Dari Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda: “Tidak beriman kepadaku orang tidur malam dalam keadaan kenyang, sedangkan tetangganya kelaparan sedangkan dia mengetahui dan menyadarinya.” (HR. Thabrani dan Al-Bazzar). Ibnu Hajar Al-Asqalani juga berkata: “Janganlah menganggap remeh berbuat baik kepada tetangga meskipun hanya sedikit.”

Kerap kita jumpai, perbuatan yang namanya ghibah (membicarakan orang lain), namimah (mengadu domba), mencela, dan menghina lebih banyak terjadi antartetangga, baik tetangga dalam keluarga (tempat tinggal) maupun tetangga luar yang letaknya berjauhan.

Setiap orang yang berdekatan dengan kita selama kurun yang cukup panjang, itu adalah jaar (tetangga) kita. Di sanalah setiap kita mempunyai hak (yang harus kita terima) dan mempunyai kewajiban (yang harus kita lakukan) terhadap orang lain, dalam hal ini dengan tetangga kita.

 Larangan Menyakiti Tetangga

Ajaran Islam melarang kita menyakiti tetangga. Hadis-hadis di bawah ini menjelaskan hukum menyakiti tetangga, betapa buruk dampaknya, dan betapa besar kerugiannya. Ironisnya, hanya sedikit manusia yang selamat dari perbuatan tersebut.
Abu Hurairah ra mengatakan, Rasulullah saw bersabda: “Demi Allah, tidak beriman (diucapkan tiga kali) --tidak sempurna imannya-- yang dapat menyelamatkannya dari neraka. Seorang sahabat bertanya: Siapakah wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Yaitu orang yang tidak mengamankan tetangganya dari kejahatannya.” (Muttafaq “alaih, Imam Bukhari, Imam Muslim dan Imam Ahmad).[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...