Nasiran

By 23.46.00


“Seandainya seekor keledai terperosok di Kota Baghdad karena jalanan rusak, 
aku sangat khawatir karena pasti akan ditanya oleh Allah Ta’ala:
 Mengapa kamu tidak meratakan jalan untuknya?”
 --- Saidina Umar bin Khattab ra

Apa yang bergelayut di pikiran dan terbetik di hati Anda ketika membaca berita halaman satu Serambi Indonesia, Selasa (12/05), di bawah judul Korban Kelaparan dari Abdya Dirawat di RSUZA ?.

Tentu masing-masing otak dan pikiran kita memiliki sistem motorik tersendiri dalam merespon peristiwa tersebut. Ya, tergantung tingkat sensitifitas hati nurani kita!. Sebuah hati nurani yang keruh dan batat akan menganggap peristiwa tersebut sebagai kejadian biasa dan bersifat personal saja. Tetapi bagi siapa saja yang memiliki nurani yang bening, ketika membaca peristiwa di atas akan menjerit keras dan berteriak: Kenapa masih ada “ayam mati kelaparan di lumbung padi”.

 Kemana sang pemimpin yang seharusnya melindungi jiwa raga rakyatnya?. Nasiran adalah anak laki-laki berusia 16 tahun dari Desa Ie Mierah, Babahrot, Kabupaten Abdya. Serambi Indonesia memberitakan ia harus dirawat intensif di RSUZA Banda Aceh karena menderita gizi buruk dan anemia. Yang bersangkutan berasal dari keluarga miskin di sebuah gampong di Abdya. Sungguh mengejutkan dan mengguncang moralitas kita, hari gini masih ada yang kelaparan di Aceh.

Mengapa demikian?. 

Ada Setiap Zaman Kisah absennya negara atau kealpaan pemerintah hadir di tengah-tengah rakyat memberikan pelayan terbaik kepada rakyatnya dipastikan ada di setiap pemerintahan, baik zaman dahulu kala maupun masa kini. Baik dalam sistem pemerintahan monarkhi absolut, monarkhi konstitusional maupun dalam sistem pemerintahan demokrasi yang konon disebut-sebut sistem terbaik karena dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. Yang berbeda hanya cara pengelola negara mensikapi kealpaan mereka terhadap tugas dan kewajiban konstitusi mereka untuk mensejahteraan rakyat.

Ada pemerintahan yang berpandangan bahwa nasip rakyat seperti yang dialami Nasiran adalah nasip personal yang bersangkutan dan tidak ada kaitannya dengan negara dan penguasa negara. Karenannya sang penguasa dalam pemerintahan seperti ini bersikap dingin saja bila ada rakyatnya yang menderita. Akan tetapi di berbagai belahan dunia ada juga pemerintahan yang merasa berdausa besar dan merasa bertanggung jawab bila ada rakyatnya yang terabaikan. Pemerintahan seperti ini akan segera memperbaiki keadaan bila kedapatan ada rakyatnya yang tidak terlayani oleh fungsi negara. Penguasa negara akan minta maaf atas nama negara karena telah mengabaikan rakyatnya. Bahkan di beberapa belahan dunia, ada pejabat pemerintah yang terkait dengan perkara seperti ini segera mengundurkan diri. Tingkat sensitifitas sebuah pemerintahan terhadap nasip rakyatnya sangat terkait dengan kualitas moralitas yang melingkupi pemerintahan itu.

Pemerintahan Umar bin Khattab ra --- misalnya --- seperti dikutip di awal tulisan ini merasa berdosa bila dia tidak melayani rakyat dengan baik, hatta seekor keledai sekalipun. Alkisah, suatu masa tanah Arab pernah mengalami paceklik yang amat memprihatinkan. Hujan lama tak turun. Lahan menjadi tandus. Tanaman warga tak bisa dipanen karena kering kerontang. Jumlah hewan ternak yang mati juga sudah tak dapat dihitung. Keputusasaan mendera hampir di seluruh masyarakat. Khalifah Umar Bin Khattab, khulafaurrasyidin yang kedua itu mengeluarkan kebijakan agar setiap hari dilakukan pemotongan unta untuk konsumsi warga. Sedangkan ia sendiri memilih untuk berpuasa dari makanan enak. Untuk mengetahui masalah yang dihadapi oleh masyarakatnya, Umar bin Khattab ra pun tak segan melakukan incognito dengan cara keluar masuk kampung.

Pada suatu malam Umar yang ditemani Aslam mengunjungi sebuah perkampungan terpencil yang terletak di tengah gurun sepi. Saat memasuki daerah tersebut mereka terkejut karena mendengar isak tangis dari sebuah gubuk tua. Mereka pun bergegas mendekati gubuk tersebut untuk memastikan suara tersebut. Setelah mendekat, khalifah melihat seorang perempuan tua sedang memasak. Asap mengepul dari panci yang ia aduk. Sementara di sampingnya tampak seorang anak perempuan yang masih saja menangis.

Karena penasaran Umar pun meminta izin untuk masuk. “Assalamu’alaikum “, Umar memberi salam. Mendengar salam tersebut, si ibu hanya sekedar menoleh dan kembali melanjutkan aktifitasnya. “Siapa yang tengah menangis, apakah dia sakit?” , tanya Umar. “Anakku. Dia tidak sedang sakit. Ia hanya sedang kelaparan”, jawabperempuan tanpa menoleh ke arah Umar. Khalifah Umar dan Aslam terperanjat. Mereka terdiam. Hingga akhirnya keduanya memilih untuk tetap berada di rumah tersebut. Umar dan Aslam duduk hingga satu jam lamanya.

Sepanjang itu pula si perempuan tua masih saja mengaduk panci dengan sendok panjangnya. Dan sepanjang itu pula si anak perempuan terus menangis. “Apa yang sedang engkau masak, wahai ibu, kenapa masakanmu tidak kunjung matang?” , tanya Khalifah Umar penasaran. “Ayo kemari, coba engkau lihat sendiri” , kata perempuan tua tersebut sambil menoleh ke arah Umar dan Aslam. Umar dan Aslam segera mendekat ke arah panci dan melihat ke dalamnya. Namun alangkah terkejutnya Umar saat melihat isi panci tersebut. “Engkau merebus batu?”, tanya Umar dengan mimik tidak percaya. Perempuan itu hanya menganggukkan kepala. “Aku melakukan ini agar anak-anakku terhibur. Agar mereka mengira aku sedang memasak.

Sebagai seorang janda miskin apa yang bisa aku lakukan. Meminta anak-anakku berpuasa dan berharap seseorang mengantarkan makanan untuk berbuka. Tapi hingga magrib tiba tak seorang pun yang datang. Anakku tertidur karena mereka kelelahan setelah seharian menangis”, jelas perempuan itu dengan mimik muka yang agak berat. Mendengar penjelasan ibu itu Umar tertegun. Tak ada kalimat yang bisa diucapkan. Sebagai pemimpin Umar merasa bersalah karena masih ada rakyatnya yang menangis karena kelaparan.

“Seperti inilah yang telah dilakukan Khalifah Umar kepadaku. Dia membiarkan kami kelaparan. Ia tidak mau melihat ke bawah, memastikan kebutuhan rakyatnya sudah terpenuhi atau belum”, lanjut perempuan itu dengan tatapan matanya yang kosong. Ibu itu diam sejenak. Lalu melanjutkan, “Umar bin Khattab bukanlah pemimpin yang baik. Ia tidak mampu menjamin kebutuhan rakyatnya”. Mendengar penuturan si Ibu, Aslam yang mendampingi Umar ingin menegur namun dihalangi oleh Umar. Khalifah Umar segera bangkit dan meminta izin kepada si ibu.

Dengan air mata berlinang ia mengajak Aslam untuk segera kembali ke Madinah. Tanpa beristirahat, Umar segera mengambil gandum lalu memilkulnya sendiri. “Wahai Amirul Mukminin, biarlah saya saja yang memikul karung tersebut”, pinta Aslam yang tak tega melihat Amirul Mukminin yang tampak kelelahan. Mendengar permintaan tersebut Umar bukannya senang melainkan marah. Mukanya merah padam. Umar menjawab, “Wahai Aslam, apakah engkau mau menjerumuskan aku ke dalam api neraka. Apakah engkau kira setelah menggantikan aku memikul karung ini maka engkau akan memikul beban ku nanti di akhirat kelak? “

Nasiran Nex…

Cerita Umar di atas sengaja kita hadirkan untuk sedikit melunakkan hati sekaligus menginspirasi kita. Apakah kita berani memastikan bahwa di berbagai pelosok Aceh tidak ada lagi Nasiran-Nasiran lainnya yang juga sedang kelaparan dan menderita anemia?. Sulit menjawab pertanyaan di atas, apa lagi sampai memberikan sebuah kepastian.

Untuk kasus Nasiran sendiri, setelah diberitakan Serambi Indonesia beberapa waktu yang lalu, sampai artikel ini diturunkan kita tidak tahu perkembangannya. Mudah-mudahan Nasiran sudah tertolong dan tertangani dengan baik. Atau, nasip tragis terus menimpa Nasiran. Kita menganggap apa yang dialami anak laki-laki itu hanya persoalan personal, tidak ada kaitan sama sekali dengan tugas dan kewajiban pemerintah. Buktinya, sampai hari ini belum ada seorang pun yang mewakili negara/ pemerintah sesuai dengan hirarkhi yang ada untuk memberikan penjelasan atau klarifikasi mengapa seorang Nasiran terabaikan oleh negara.

Apa yang salah dan dimana kekeliruan itu terjadi. Atau bila memang itu benar adanya kelalaian pemerintah dalam melaksanakan tanggung jawabnya, tidakkah seharusnya pemerintah meminta maaf dan di saat yang bersamaan segera berkonsolidasi memperbaiki kesalahan yang ada.

Ketika Serambi Indonesia memberitakan Nasiran, maka yang harus dipahami oleh semua pihak bahwa salah satu hal yang ingin dilakukan adalah menyampaikan pesan verbal kepada semua pihak --- terutama pemangku kepentingan rakyat --- bahwa peristiwa seperti ini yang terjadi di Aceh (sebuah negeri syariat dan berlimpah rupiah) adalah peristiwa besar dan memalukan, sekalipun Nasiran itu masih anak kecil yang berasal dari keluarga kecil dan tinggal di gampong terpencil pula.

Ditanya Tuhan

Meminjam suasana batiniah Umar bin Khattab di atas, yakinlah, di akhirat nanti Allah Tuhan kita akan menanyakan kejadian yang telah menimpa Nasiran itu. Apa jawaban kita, jika di hari kiamat kelak Allah SWT bertanya, “Kenapa sampai Nasiran kelaparan, padahal setiap hari kamu makan empat sehat lima sempurna secara berlebihan?”. “Kenapa Nasiran tidak berbaju, padahal kamu sendiri tiga kali sehari ganti baju?”. Atau, Tuhan bertanya nyaris mirip para demonstran bertanya, “Kemana sih APBN, APBA dan APBK yang triliunan rupiah itu kamu taburkan; hoe ka kaba atra nyan mandum?”. Lha, apa yang akan kita jawab?.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...