Pengungsi Timteng dan Masa Depan Eropa?

By 00.52.00



Konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya Suriah, ternyata berdampak ke sejumlah negara di kawasan Uni Eropa.

Saat saya  melewati beberapa kota di Eropa,  baik itu di Swiss, Austria, Jerman,  Hongaria hingga Republik Ceko,  di beberapa stasiun kereta api terlihat kerumunan sejumlah  pengungsi yang terdiri dari laki-laki dewasa, perempuan berjilbab, dan sejumlah  anak-anak yang nampak kumuh dan kelelahan. Dari sejumlah informasi yang saya peroleh di stasiun kereta api Kota Wina di Austria dan Budapest di Hongaria, tumpukan pengungsi dari Timteng itu karena  mereka  sedang menunggu pemberangkatan kereta api ke sejumlah negara tujuan mereka di Eropa. Namun jumlah mereka tidak lagi sebanyak  beberapa Minggu sebelumnya sebagaimana diberitakan sejumlah media, karena sebagian besar dari mereka telah ditraanfer ke sejumlah negara anggota Uni Eropa.

Di Austria dan Hongaria, dan juga di Ceko imigran muslim  yang mencoba mencari penghidupan baru di Eropa itu ternyata tidak hanya berkumpul  secara bergerombolan di sejumlah stasiun kereta api. Saya menyaksikan banyak  di antara mereka juga bertebaran di sejumlah pusat perbelanjaan di beberapa kota di Austria, Hongaria juga Ceko. Di sana mereka menjadi pengemis. Mereka meminta belas kasihan dari manusia yang lalu lalang di pasar. Wajah mereka mudah dikenali. Rata-rata memakai baju gamis , berjilbab serta berwajah Arab. Mereka bersujud ke tanah diiringi suara tangisan dan tangannya ditengadah  ke atas meminta belas kasihan warga yang lewat.

Pro dan Kontra

Kedatangan imigran muslim ke daratan Eropa memunculkan sikap pro-kontra di tengah-tengah publik  Uni Eropa. Pada awalnya kebanyakan pihak di Eropa menolak masuknya pengungsi muslim ke wilayah mereka.
Namun setelah peristiwa Aylan Kurdi, seorang bocah Suriah korban tenggelam kapal pengungsi yang mati tertelungkup di pantai dekat kota wisata Bodrum, Turki barat daya, disiarkan fotonya oleh sejumlah media cetak dan elektronik dunia, sikap sejumlah pihak di Eropa pun  berubah drastis.
Sejumlah kepala negara Uni Eropa secara terbuka menyatakan akan membantu  dan memfasilitasi pengungsi muslim itu. Bahkan pihak gereja juga membuka sejumlah posko membantu dan menerima  kedatangan imigran Timur Tengah.

Namun masih ada juga pihak di Eropa yang menentang habis kedatangan pengungsi. Mereka beralasan kedatangan pengungsi muslim  akan mengancam identitas Kristen Eropa. Bahkan Perdana Menteri Hongaria, Viktor Orban, seperti diberitakan media, pernah memberikan penyataan kontroversial terkait banyaknya pengungsi muslim masuk Eropa.

Viktor  berteriak bahwa dia tidak ingin Eropa dibanjiri migran muslim, karena menurutnya, akar identitas Eropa adalah Kristen. Dan kehadiran pengungsi muslim di Bumi Eropa  akan mengancam agama Kristen sebagai identitas benua itu. Karena sikap militannya itu Stasiun Kereta Api Budapest pernah ditutupnya  beberapa waktu lalu  untuk pengungsi muslim. Namun kemudian dibukanya kembali ketika sejumlah pihak di Eropa mengecam sikap konyolnya itu. Di stasiun Biudapest saya menyaksikan sejumlah petugas Pemerintah Hongaria melayani dengan baik para pengungsi.

Skenario Allah SWT

Ketika melakukan “sidak” ke terminal kereta api Kota Wina dan Budapest,  dan melihat wajah-wajah bersih tanpa dosa pengungsi muslim itu, saya sempat berpikir bahwa membanjirnya pengungsi muslim ke Eropa bukanlah sebuah kebetulan. Benar peperangan di Timur Tengah telah  menyebabkan mereka mengungsi. Tapi bukan  tidak mungkin di balik semua itu ada skenario Allah SWT yang tidak terbayangkan oleh banyak pihak.

Sampai reportase ini saya finising di kamar sebuah hotel di Kota Praha, saya masih berpikir barangkali gelombang pengungsi muslim ke Eropa adalah bagian dari skenario Allah untuk menambahkan populasi umat Islam di Benua Eropa dan pada gilirannya nanti Islam akan mendominasi benua kulit putih itu. Bukankah pada masa lalu selama 700 tahun Islam sempat menjadi tuan rumah yang baik di Eropa (Andalusia, Spanyol).

Penambahan populasi muslim di Eropa dapat saja terjadi karena pengungsi muslim yang telah diterima sebagai imigran di Eropa  selanjutnya akan diberikan status kewarganegaraan  dan memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan warga Eropa lainnya.

Ini pula sebenarnya secara samar menjadi kekhawatiran beberapa pihak di Eropa. Konon banyak pihak di Eropa khawatir  --- dengan kondisi migrasi penduduk beragama Islam ke Eropa seperti saat ini --- dalam interval waktu lima puluh tahun ke depan Eropa akan dihuni oleh 50 persen bangsa Eropa kulit putih dan 50 persen imigran muslim. Selanjutnya dalam waktu 100 tahun ke depan sangat mungkin orang Eropa hanya akan berjumlah 20 persen.

Inilah barangkali yang dimasudkan PM Hongaria, Viktor, sebagai ancaman terhadap Kristen sebagai identitas Eropa. Dan barangkali ini bula merupakan  pesan verbal dari beberapa coretan  dan graffiti yang saya saksikan di beberapa pojok Kota Budapest, Wina dan Praha yang dibuat oleh beberapa pihak yang  menentang imigran muslim di Eropa.

Soal masa depan Eropa (yang bisa saja didominasi muslim), barangkali hadis Nabi berikut ini dapat menjadi bahan diskusi pembaca. Abu Qubail meriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin Ash, “Suatu ketika kami sedang menulis di sisi Rasulullah SAW,  tiba-tiba beliau ditanya, “Mana yang terlebih dahulu dikuasai kaum muslimin,  Kota Konstantinopel   --- sekarang bernama Istanbul, Turki, yang telah dikuasai umat Islam  ---  atau Kota Roma (Eropa)”.  Rasulullah menjawab, “Kota Konstantinopel akan dikuasai lebih dulu”. (H.R. Ahmad, Addarimi, dan Alhakim). []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...