Pesan Moral Dari Makam Syuhada Uhud

By 23.16.00

Buki Uhud dan Makam Syuhada Uhud merupakan bagian dari sejumlah destinasi yang saya lakukan selama berada di Saudi Arabia.

Makam Syuhada Uhud terletak di sebuah dataran yang berdekatan dengan lereng Gunung Uhud. Gunung Uhud ini terletak  lebih kurang lima kilo meter  di sebelah utara Kota Madinah.

Disinilah pada tanggal 22 Maret 625 M/ 7 Syawal 3 H terjadi pertempuran besar antara kaum muslimin dengan kafir Quraaisy. Tentera Islam dipimpin langsung oleh Rasulullah SAW, sedangkan  armada perang kafir Quraisy dipimpin oleh dedengkot musyrikin yang bernama Abu Sufyan.

Sejumlah sumber sejarah Islam mencatat kala itu kaum muslimin didukung oleh kekuataan 700 orang tentera, sedangkan kafir Quraisy didukung 3000 personil pasukan. Karena terjadi di Bukit Uhud maka peperangan ini diberi nama Perang Uhud.

Perang Uhud terjadi satu tahun setelah Perang Badar  yang juga terjadi antara kaum muslimin versus kafir Quraiys. Dalam perang Badar ini kafir Quraisy menderita kekalahan besar. Ketika itu mereka  bersumpah atas nama Latta dan Uzza --- dua nama patung sesembahan kafir Quraisy --- akan menuntut balas kekalahan mereka di Badar . Setahun setelah kekalahan kafir Quraisy di Badar tersebut, perang Uhud pun pecah berkecamuk.

Kalau di peperangan Badar kaum muslimin mendapat kemenangan besar, sebaliknya dalam kancah Perang Uhud kaum Muslim mengalami kekalahan yang memilukan. Dalam peperangan ini Rasulullah nyaris dicelakakan musuh, Hamzah bin Abdul Mutallib pamanda Rasulullah SAW tewas ditombak dan dikunyah hatinya oleh Hindun binti ‘Utbah isteri Abu Sufyan serta sejumlah sahabat Rasulullah lainnya menjadi syuhada.

Dalam catatan sejarah disebutkan dari  pihak Rasulullah SAW ketika itu 70 orang menjadi syuhada, sedangkan tentara musyrikin Qurais  tewas sebanyak 23 orang yang selanjutnya akan menjadi ahli neraka.
70 orang syuhada inilah yang dimakamkan di lereng bukit Uhud. Di samping ke Mesjid Quba --- mesjid pertama yang dibangun Rasulullah SAW saat pertama tiba di Madinah --- Bukit Uhud dan Komplek Pemakaman Syuhada  Uhud merupakan lokasi kunjungan yang nyaris tidak dilewati kebanyakan jamaah haji dan umrah yang berkunjung ke Madinah.

Kondisi Komplek Pemakaman Syuhada Uhud sama  keadaannya dengan umumnya komplek pemakaman lainnya di Madinah  atau  Mekkah. Hanya berbentuk hamparan dan tebaran batu serta tidak ada satupun batu nisan penunjuk kuburan serta sosok yang dikuburkan di dalamnya.  Penziarah tidak dibenarkan masuk ke dalam komplek, hanya mengintip dari celah pagar yang tinggi serta  kokoh sambil berdoa dan member salam kepada ahli kubur.

Kenapa kaum muslimin kalah dalam pertempuran ini?.  Hanya dalam Perang Uhud saja --- dari 27 peperangan yang diikuti dan pimpin langsung Rasulullah SAW ---  kaum muslim menderita kekalahan.
Para ahli sejarah menuturkan, bahwa saat Perang Uhud akan dimulai Rasulullah menempatkan pasukan Islam di kaki bukit Uhud bagian barat. Tentera Islam diatur Rasulullah dalam  formasi yang kompak dan saling bersinergi. Sayap kanan berada di kaki Bukit Uhud sedangkan sayap kiri  berada di kaki Bukit Ainain.

Sayap  kanan pasukan Islam aman karena terlindungi oleh Bukit Uhud. Tetapi sayap kiri pasukan Islam berada dalam bahaya  karena musuh  dapat saja  mengitari Bukit Ainain  dan menyerang  pasukan Islam dari belakang. Rasulullah sebagai ahli strategi perang sangat memahami kondisi medan yang membahayakan ini.

Karena itu Nabi  menempatkan 50 orang  pasukan ahli panah di Bukit Ainain ini di bawah pimpinan Sahabat Abdullah bin Zubair. Kepada Abdullah bin Zubair dan pasukannya Rasulullah SAW memberikan instruksi: “Gunakan panahmu terhadap kaveleri musuh. Jauhkan pasukan musuh dari belakang kita. Selama kalian tetap di tempat, bagian belakang kita aman dari ancaman musuh. Jangan sekali-kali kalian meninggalkan posisi ini. Jika kalian melihat kami menang, jangan bergabung. Jika kalian melihat kami kalah, sekali-kali jangan datang untuk membantu. Tetaplah di tempat kalian sampai Allah SWT memenangkan kita”.

Namun apa yang terjadi?. Setelah beberapa waktu peperangan berlangsung, pasukan kafir terdesak, banyak yang terbunuh dan sebagian besar dari mereka mulai melarikaan diri. Sejumlah rampasan perang --- dalam fiqih siasah disebut ghanimah --- bertaburan dengan nilai yang tidak terkira serta menggiurkan nafsu manusia normal.

49 orang  pasukan pemanah yang ditugaskan Rasul di atas Bukit Ainain, kecuali Abdullah bin Zubair tergoda akan kilauan harta rampasan perang yang berhamburan di lereng bukit. Mereka melupakan pesan Nabi dan komando dari Abdullah bin Zubair. Mereka meninggallkan puncak bukit Ainain, meninggalkan tugas utama mereka yang diamanahkan Sang Rasul.

Melihat pasukan  pemanah Islam meninglkan Bukit Ainain, Khalid bin Walid yang ketika itu belum masuk Islam memerintahkan pasukan kafir yang tersisa agar kembali menyerang Nabi dan pasukannya  dari belakang dengan mengitari  Bukit Ainain. Serangan balasan yang datang mendadak ini menyebabkan  terjadinya  kepanikan di tengan pasukan Islam. Pasukan Islam pun cerai berai sekalipun akhirnya dapat disatukan kembali oleh Nabi, dengan out put akhir peperangan ini  70 orang  tentera Islam wafat dengan status Syuhada.

Pesan Moral

Saat saya menatap hamparan luas komplek Makam Syuhada Uhud dan Bukit Uhud, saya merasa seperti  ada   pesan moral yang terpancar dari peristiwa heroik  Rasulullah dan sahabatnya di tahun ke-3 Hijriah itu. Ketika saya berziarah dan berdoa di Makam Syuhada Uhud dan  saat saya menatap dalam-dalam  bentangan Bukit Uhud, paling tidak ada dua pesan moral  dari sana yang perlu diinternalisasi oleh seluruh umat Nabi, baik yang telah sampai ke lokasi ini maupun yang belum.

Pertama,kita  tidak akan memperoleh  kemenangan hakiki  sekalipun atas nama dakwah bila kita tidak sepenuhnya  sami’na wa atha’na  terhadap segala  perintah serta larangan Allah dan Rasulnya.  Kedua, kemenangan yang telah ada di depan mata jangan sampai mendorong kita membelokkan  langkah perjuangan dari cita-cita dan tujuan awal. Hati yang tiba-tiba bengkok dalam medan juang dapat menyebabkan Allah dengan kemahakuasaan-Nya mentransformasikan kemenangan yang telah ada di tangan kita menjadi kekalahan fatal yang memilukan.

Pesan moral ini berlaku universal, kepada siapa saja dan dimana saja!. Assalamu’alaikum wahai ahli Uhud, salam sejahtera dan rindu kami untuk kalian.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...