Pungo

By 23.49.00

Padanan kata pungo dalam bahasa Aceh adalah gila. Wikipidea menjelaskan bahwa yang dimaksud  dengan gila adalah istilah umum tentang gangguan jiwa yang parah.

Orang gila adalah sosok tidak waras dan telah kehilangan akal sehatnya. Karena itu ia selalu bertindak tidak normal. Kelakuannya tidak sesuai dengan kaidah hukum dan tata krama serta adat istiadat. Personaliti orang gila adalah personaliti yang telah tercerabut dari komunitas dunia normal. Syariat Islam bahkan memberikan bonus spesial kepada orang gila dalam bentuk digugurkan seluruh kewajiban syar’iyah dan segala kejahatannya tidak dicatat sebagai dosa.

Dalam tradisi orang Aceh, ketika menyebutkan sebuah objek sebagai pungoe, maka di balik penyebutan itu ada dua kemungkinan.

Pertama, objek dimaksud memang benar-benar pungo sebagaimana dimaksudkan dalam Wikipidea di atas. Atau objek yang dituju tidak pungo, tetapi diksi pungo yang digunakan tersebut merupakan pesan verbal dari kemarahan  yang luar biasa dari si pengucap.

Kmungkinan kedua, si pengucap dan yang diucap sama-sama tidak gila. Tapi diksi pungoe yang digunakan itu hanya sebuah kiasan bagi seseorang yang nekat melaksanakan asebuah kegiatan yang sangat spekulatif. Contohnya, sebuah rumah sedang terbakar, tiba-tiba ada seseorang yang berani menerobos masuk rumah di tengah kobaran api, maka kepada si pemberani itu orang Aceh biasa menyelutu, “Luar biasa, pungo kah”.

Berangkat dari dua kemungkinan tersebut, saya mengajak semua pihak di Aceh, terutama DPRA, agar tidak marah setelah membaca headline Serambi Indonesia, Senin (4/11) di bawah judul Zaini: Ini APBA “Pungo”.
Bila kita berpikir positif maka sesungguhnya tidak ada yang luar biasa dari statemen Abu Doto tersebut. Sepanjang yang saya pahami --- setelah membaca berulang kali headline Serambi Indonesia itu --- subtansi yang ingin disampaikan Abu Doto adalah kekhawatiran beliau bahwa sangat sulit mengeksekusi sejumlah proyek dalam APBAP itu hanya dengan interval waktu hanya 45 hari.

Stressing ucapan abu doto itu  -- bila memang beliau berkata demikian --- saya kira lebih kepada canda atau joke. “Luar biasa alias pungo jika eksekutif Aceh mampu mengeksekusi dengan baik sejumlah proyek APBAP dalam waktu 45 hari”, barangkali demikian alur pikir yang melatarbelakangi statemen itu. Sama sekali bukan untuk menghina atau merendahkan pihak mana pun.

Kenapa saya sarankan jangan marah?.

Pertama, sebagai pengusung Syariat Islam, syariat yang dibawakan nabi muhammad SAW itu memang mengajarkan kita untuk tidak mudah marah. Secara psikologi marah akan berakibat tindakan kita selanjutnya tidak terkendali. Secara kesehatan, gemar marah juga tidak dianjurkan karena akan menyebabkan pelakunya cepat tua.

Kedua, bila DPRA marah hanya dengan gara-gara satu kata yang berawalan “P” itu akan saya yakin akan banyak energi DPRA yang terkuras. Padahal di saat bersamaan banyak tugas-tugas strategis lainnya yang mendesak dikerjakan. Seperti pembahasan dan pengesahan APBA 2016 agar tidak kembali mendapat sanksi dari Kemendagri akibat keterlamatan pengesahan.

Ketika, tentu headline Serambi Indonesia itu juga harus menjadi i’tibar bagi semua pihak. Agi DPRA ke depan jangan suka membuat program/kegiatan yang spekulatif alias “pungo”. Sebuah kegiatan pembangunan harus selalu mempertimbangkan tempat, waktu serta situasi yang melingkupi saat pelaksanaan di lapangan. Sedang bagi gubernur, mungkin i’tibarnya sederhana saja: jangan suka bercanda dengan diksi yang memungkinkan diterjemah lain yang kemudian dapat memantik amarah mitra komunikasinya.

Ini hanya saran. Di luar saran ini tentunya DPRA juga punya hak untuk marah. Misalnya dengan membuat Pansus --- seperti yang dilakukan DPR RI --- untuk mempertanyakan maksud pernyataan gubernur itu.
Tapi itu tidak penting. Yang lebih penting adalah bagaimana legislatif dan eksekutif bekerjasama dan bersatu padu membangun Aceh yang lebih baik.

Tidak perlu ada perdebatan yang tidak subtantif. Mari kita lupakan anekdot dalam pesawat ketika seorang anggota legislatif marah kepada pramugari. “Saya legislatif, tidak mau pindah ke kelas eksekutif”, kata seorang penumpang. He.. he..[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...