Situs Rasul Dihancurkan, Situs Ibnu Su’ud Diabadikan

By 01.44.00



Gunung atau tepatnya bukit itu membentang dari arah selatan ke timur Baitullah. Mutawwif (pembimbing haji) dari PT. Kharissa Tours & Travel Jakarta, Ustadz Abdul Halim, menjelaskan kepada saya bahwa itulah tanjakan tanah yang dalam catatan sejarah Islam dikenal dengan Jabal Qubais.

Selintas bila diperhatikan gunung tersebut hanya gundukan bebatuan biasa sebagaimana lazimnya gunung atau  bukit di Arab Saudi lainnya  yang tandus dan kering kerontang. Tapi di atas bukit itu pernah terjadi  peristiwa luar biasa yang mempengaruhi sejarah umat manusia sampai hari ini.

Menurut sejumlah sumber,  di atas gunung inilah beberapa saat setelah membangun Baitullah Nabi Ibrahim ‘alaihissalam  menyerukan umat manusia  agar berhaji ke Baitullah. Di atas gunung ini pula   terjadi sebuah mukjizat Rasulullah Saw untuk meyakin kafir Quraisy akan kerasulannya. Mukjizat dimaksud dalam bentuk  turun bulan ke hadapan Nabi SAW kemudian  terbelah  dua dan masuk ke pergelangan  kiri dan kanan baju  Rasulullah SAW, selanjutnya  sang bulan mengucapkan dua kalimah syahadat, seterusnya menyatu kembali dan kemudian menuju keorbitnya semula.

Kini gunung yang memiliki nilai sejarah besar ini tidak bisa didaki lagi. Di atasnya telah dibangun istana megah Sang Raja Saudi Arabia. Penguasa yang beraliran Wahabi ini tidak merasa perlu sama sekali memelihara dan menyelamatkan situs sejarah seperti ini.

Di ujung sebelah  kanan  Jabal Qubais  (jika kita  menghadap Baitullah)  tepat di depan Bukit Syi’ib Ali bertepatan di sebelah timur Baitullah juga terdapat sebuah situs sejarah yang tidak terhitung nilainya.  Tempat itu dikenal dengan Baitul Mawlid, tempat Rasulullah SAW dilahirkan. Di tempat inilah dahulunya pertapakan rumah  Rasulullah SAW.

Kini tempat mulia itu tidak bertanda dan berbekas lagi. Saat ini di atas bekas tempat Rasulullah SAW  dilahirkan itu telah dibangun sebuah bangunan lantai dua ukuran 5x 12 meter. Di dinding bangunan itu terlulis  Maktabah Makkah Al Mukarramah. Maksudnya gedung ini berfungsi sebagai Perpustakaan Mekkah Al-Mukarramah.

Tetapi selama tiga kali saya mengunjungi perpustakaan itu sekalipun tidak pernah buka. Ustadz  Abd. Halim putra Situbondo Jawa Timur yang mendampingi saya ke perpustakaan itu  membenarkan bahwa selama sebelas tahun dia berada di Mekkah memang pustakaan itu tidak pernah buka.

Menurutnya beberapa waktu setelah  Baitul Mawlid  (kubah dan atap rumah tempat Nabi Muhammad dilahirkan) itu  dibongkar Pemerintah Saudi, di tempat itu justru dibangun pasar hewan yang menjadi tempat transaksi atau jual beli unta, kibas dan hewan lainnya di Mekkah.

Setelah mendapat protes dari sejumlah pihak terutaama  dari dunia Islam, barulah Pemerintah Saudi melunakkan sikapnya dengan membangun gedung perpustakaan di tempat itu.

Beberapa langkah ke depan tidak jauh dari Rumah Rasulullah SAW  (Baitul Mawlid)  ke arah Baitullah tersebut  terdapat bekas pertapakan rumah Ummul Mukminin Saidatina Khadijah radhialllahu’anhu. Disinilah Rasullullah setelah menerima wahyu dan menikahi Khadijah bertempat tinggal. Di sinilah putra-putri beliau seperti Saidatina Siti Fatimah dan lain-lain lahir dan dibesarkan.

Rumah Khadijah ini adalah saksi bisu betapa sulitnya kehidupan Rasulullah bersama Khadijah dan anak-anaknya di masa-masa awal  Rasulullah SAW diangkat menjadi utusan Allah. Di rumah ini berkali-kali Rasulullah menerima wahyu dari Allah, dan dari rumah ini pula Nabi  menumpahkan rasa sedih dan gembiranya bersama keluarga terhadap berbagai dinamika dakwah yang beliau hadapi.

Kini tempat mulia ini juga tidak ada lagi bekasnya. Sadisnya, di tempat ini oleh Pemerintah Arab Saudi justru dibangun WC atau tempat buang air besar.

Saya tidak tahu apa yang ada di benak Pemerintah Saaudi ketika tempat yang mulia,  penuh berkah dan  sejarah seperti ini dijadikan tempat hina dina, tempat manusia seluruh dunia membuang kotorannya. Saya juga tidak mengerti apa yang ada di otak Pemerintah Saudi dan Ulama Wahabi di sana ketika siang malam melihat manusia dari seluruh dunia membuang kotorannya di tempat yang ketika Rasulullah SAW  hidup adalah tempat beliau beristirahat, tempat beliau bermunajat , serta tempat privat beliau bersama keluarga tercintanya. Bahkan di tempat ini Allah SWT melalui ruhul quddus  Jibril ‘alaihissalam menurunkan wahyu kepada Nabi.

Kenapa terlalu rasis Pemerintah Saudi memperlakukan  situs peninggalan Nabi. Kenapa Pemerintah Saudi begitu  benci kepada situs-sitrus sejarah yang sesungguhnya dapat menjelaskan kepada kita terkait napak tilas Rasulullah menyebar Islam belasan abad yang lalu?.

Ada yang bilang ini adalah bagian dari cara dan strategi Pemerintah Saudi menjaga agar tempat-tempat yang merupakan situs sejarah Rasul tidak dijadikan sebagai tempaat kegiatan-kegiatan yang mengarah kepaada syirik dan khurafaat.

Bila benar  ini motifnya, saya kira alasan dari Pemerintah Arab Saudi itu jauh dari kebenaran subtantif. Pemerintah Saudi  sendiri telah bersikap dan bertindak ambigu. Mereka dengan sadar mengahancurkan situs Rasul, bahkan menghinannya dengan menjadikan rumah Nabi sebagai tempat membuang kotoran. Tetapi disaat yang bersamaan mereka justru mengabadikan situs-situs “kebesaran dan kejayaan” keluarga Ibnu Su’ud   di berbagai pojok Kota Mekkah dan Madinah.

Apakah dalam skala tertentu pemberian nama-nama raja dari keturunan Ibnu Su’ud (pendiri Arab Saudi) pada sejumlah pintu masuk Mesjidil Haram bukan bagian kemusyrikan kontemporer?. Pemasangan foto raja Saudi di berbagai tempat bukan pengkultusan. Tulisan “Ini Wakaf dari Raja Malik bin Abdul Azis” yang ditulis besar daan mencolok di dinding Komplek Abraj Al-Bait di depan pintu satu Baitullah apakah sama sekali tanpa dimaksudkan untuk mengkultuskan Sang Raja Arab itu?.

Mereka bilang tidak boleh mengkultuskan Rasul, tapi disaat yang bersamaan mereka kultuskan Sang Raja mereka  dengan cara dan teknologi yang lebih modern.

Bila alasannya agar tidak mengarah pada kemusyrikan, saya kira Pemerintah Saudi tidak perlu bersikap barbar terhadap situs sejarah Rasul.  Pemerintah Saudi dapat  saja memberikan penjelasan kepada jamaah sekalian dengan penjagaan dari asykar  seperti selama ini dilakukan di sekeliling Makam Rasulullah. Makam Rasulullah tidak dibongkar, tapi di situ selalu ada petugas dari asykar  dan ulama Saudi yang menjaga dan menasehati jamaah agar tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan akidah saat berziarah  di makam Rasulullah SAW.

Sungguh Pemerintah Saudi telah bersikap tidak adil bahkan zalim terhadap sejarah Rasul. Situs sejarah Rasul dihancurkan, di atas puing-puing sejarah Rasul yang mereka hinadinakan itu, dengan sadar  mereka bangun  dan abadikan Situs Ibnu Su’ud dan keturunannya. Mereka melarang kita kultuskan Nabi, tapi disaat yang bersamaan raja mereka minta dikultuskan.

Mereka hancurkan Situs sejarah Nabi, di atasnya mereka bangun sejarah diri. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...