Boh Leupieng Berguling Lagi

By 19.15.00


Alkisah, di sebuah negeri ada seorang laki-laki yang telah lanjut usianya. Sang laki-laki tersebut sekalipun tergolong laki-laki normal namun tidak lazim seperti laki-laki normal lainnya di berbagai belahan dunia. Laki-laki ini tidak menikah --- sekalipun telah berulang kali didesak oleh berbagai pihak --- sampai usianya kepala lima setengah. Tidak ada penjelasan resmi atau gelagat verbal dari yang bersangkutan untuk dijadikan referensi sebagai penjelasan dia tidak menikah.

Sampailah pada sebuah masa  --- entah “hidayah” dari mana --- sang laki-laki tersebut bersedia menikah dan meminta segera dinikahkan. Keluarga laki-laki itu  pun segera melakukan berbagai persiapan yang diperlukan. Dan beberapa hari kemudian acara pernikahan sekaligus walimatul’usyi berlangsung meriah. Jejaka tua itu pun menikmati dan melewati malam pertamanya dengan segala dinamika di dalamnya yang hanya dia dan isterinya yang tahu.

Di pagi hari malam pertama, mantan jejaka tua itu minta bertemu dengan sahabat dekatnya. Di luar dugaan, ketika bertemu laki-laki itu menangis tersedu-sedu di hadapan sahabatnya itu. Sakin sedihnya, air matanya terus bercucuran dan badannya bergetar.

Dengan penuh empati sahabatnya bertanya, “Kelihatannya engkau sedih sekali, gerangan apa yang terjadi?. Apakah perangai isterimu tidak baik dan dia mengkasari mu?”.
Laki-laki itu sambil mengusap air matanya menjawab, “ Tidak, kamu jangan berburuk sangka. Isteriku tidak hanya cantik tapi dia juga baik budinya. Dia tidak hanya gesit ketika bekerja, tapi juga dia sangat lihai di atas ranjang”.

“Kalau demikian kenapa juga kamu sedih, bukankah seharusnya kamu bersyukur”, tanya sahabatnya yang sejak lama telah menjadi tempat nya curhat.

Setelah termenung sejenak dan dengan tatapan mata hampa, laki-laki itu menjelaskan dengan suaranya yang bergetar. “Aku sedih, mengapa baru sekarang aku menikah. Andai aku tahu begitu enak dan nikmatnya semalam, dari dulu aku sudah menikah”, jelasnya tanpa beban.

Kawan dekat laki-laki itu pun tersenyum sambil bercanda, “Itulah kamu, dari dulu kan sudah kubilang”.

oo0oo

Ternyata tidak semua orang tahu nikmatnya sebuah kekuasaan.  Seperti banyaknya orang tidak tahu betapa nikmatnya menikah.

Maka dari itu wajar saja bila ada orang yang begitu antusuias  mencari, menikmati kemudian mempertahankan sebuah kursi kekuasaan. Bagi orang seperti ini dia tahu  banget arti sebuah kekuasaan. Sebaliknya, orang-orang yang tidak tahu “nikmat” sebuah kekuasaan cenderung tidak peduli dengan ikhtiar mencari kekuasaan.

Ada juga tipikal manusia seperti alur kehidupan laki-laki tua di atas. Pertama dia tidak tertarik sama sekali dan tidak menginginkan sebuah jabatan dan kekuasaan. Tapi garis tangannya kemudian mengantarkan dia menjadi pejabat sekaligus penguasa.

Ketika kemudian dia duduk di singgasana kekuasaan barulah dia merasakan betapa enaknya menjadi penguasa dengan segala fasilitas yang melingkupinya. Dia pun menjadi paranoid. Yang dia pikirkan hanya bagaimana agar dia terus nyaman di tampuk kuasa dan dengan segala daya upaya mengikhtiarkan kesinambungan kekuasaanya.

Dia menjadi peluapa apakah kekuasaan yang diembannya selama ini berkonstribusi positif kepada rakyat atau tidak. Tida lupa mengevaluasi diri apakah selama ini dia berkompeten dengan jabatannya itu atau hanya sekedar  boh leuping.

Dari dulu sampai sekarang tipikal semacam ini melekat erat di jidat para penguasa. Ia terus ingin menjabat, dan menjabat lagi. Penguasa seperti ini seperti orang buang air besar di jamban, dia hanya menikmati sendiri tanpa pernah berpikir apakah produktifitasnya itu bermanfaat bagi yang lain.

Karena larut dalam kenikmatan personal, sekalipun lingkungan tidak merasa kehadirannya sebagai “rahmatan lil ‘alamin”, antara sadar dan tidak dia pun mengerang: Aku Maju Lagi?.

oo0oo

Sebagai justifikasi “Aku Maju Lagi” banyak alasan yang dapat di kedepankan.

Misalnya,  masih banyak rakyat yang meminta agar dilanjutkan. Tanpa perlu penjelasan rakyat mana yang telah memintan nya itu. Masih banyak program unggulan yang belum selesai. Emang  nya yang unggulan itu mana?.

Sebenarnya, bagi saya alasan itu tidak penting. Yang perlu kita apresiasikan adalah semangatnya utuk maju. Ia ingin membangun Aceh ini lebih baik lagi. Ini yang kita tunggu-tunggu.

Tapi apa pun yang melatarbelakangi, semua kita tidak boleh abai dengan pesan dari pabrik jamu: jangan sampai nafsu besar tenaga kurang.[].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...