Golom Kiamat !

By 20.01.00


Menjelang magrib, Senin, 16/11, telepon genggam saya mengeluarkan dering bertalu-talu. Karena azan magrib dari mesjid dekat rumah sedang berkumandang dan saya sedang siap-siap berangkat ke mesjid, maka panggilan  handphone tersebut saya abaikan begitu saja.

Sepulang dari mesjid dan melihat panggilan tidak terjawab sampai tujuh kali naluri saya berkata pasti ada  sesuatu yang urgen dari si penelpon yang kebetulan sohib dekat saya. Ketika saya menelpon balik, dari ujung sana si penelpon berkata dengan nada lemas, “Ka abeh lon”.

Mendengar kalimat tersebut, saya terkejut dan balik bertanya, “Pue na musibah?”. Seperti mengabaikan begitu saja pertanyaan saya, mitra bicara saya itu malah kembali menginformasikan, “Lon ka abeh, Abu (maksudnya Abu Doto, Gubernur Aceh) ka geu non job lon”.

Saya mencoba memahami suasana batiniah sang kawan yang sedang bergelora itu. Saya katakan dengan suara datar kepadanya, “Oo... nye nyan kon masalah, golom abeh, nyang neu alami le droe neuh nyan kon kiamat”.

Saya katakan lebih lanjut, Anda bukan pecundang selama Anda terus bergerak. Anda baru akan menjadi pecundang, ketika Anda berhenti bergerak. Mutasi atau non job yang saat ini menimpa Anda tidak boleh menjadi  sebab Anda menjadi manusia putus asa, pemurung, labil  dan mengurung diri  di kamar tidur. Besok, seiring surya pagi, Anda harus beraktifitas seperti biasa, terus merajut silaturrahmi dan lebih aktif lagi membangun jejaring sosial. Yakinlah  --- lanjut saya --- siapa pun dia, baik yang melakukan mutasi maupun yang dimutasi selalu ada batasan masanya. Intinya, setiap orang ada masanya dan setiap masa ada orangnya. Bek lagee ureung agam hana (maaf) kreeh.

Setelah mendapat khutbah singkat dari saya itu, sang kawan yang tertimpa “musibah” terdengar suaranya bersemangat. “Ok, ka bereh meunye meunan, singeh beungeh tajep kupi beh”, katanya sedikit bersemangat mengakhiri pembicaraan telepon.

La Tahzan

Orang arif sering menasehati, dalam hidup ini tidak ada yang abadi kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan adalah sebuah sunnatullah yang tidak dapat dihindari. Pangkat dan jabatan juga merupakan bagian dari siklus sunnatullah perubahan.

Hidup ini ada saat nya kita berada di atas, tapi di saat lainnya kita berada di bawah. Ada saatnya dipuji, juga ada saatnya dicaci. Karena sedang berkuasa dan menjadi pejabat, banyak tamu yang “bersilaturrahmi” ke rumah kita, sebaliknya ada juga masanya ketika kita kehilangan jabatan tamu yang dulu bolak balik tidak lagi nampak batang hidungnya.

Ada masanya kita gembira, juga ada saatnya kita berduka. Jalan kehidupan adalah jalan yang berliku, menurun dan menanjak serta penuh dengan onak dan duri. Jalan kehidupan yang kita lalui adalah  jalan yang banyak persimpangan, yang kadang-kadang dipersimpangan tertentu kita nyaris kehilangan asa dan semangat. Tapi ingat, jangan pernah berhenti. Di banyak persimpangan ke depan kita harus yakinkan diri akan banyak asa dan peluang yang dapat kita jemput.  Itulah lika liku kehidupan yang semua kita akan melaluinya.

Seorang ulama Timur Tengah yang bernama Uwais Al-Qarniy melalui sebuah buku fenomenalnya menasehati kita: La Tahzan!. Jangan bersedih!. Kalaupun tidak bisa menghindari kesedihan, tidak boleh terlalu lama dalam situasi itu. Karena kesedihan yang lama berpotensi seseorang menjadi putus asa. Dan putus asa adalah kepribadian yang dilarang agama kita.

Anda tidak boleh bersedih karena Anda non job, jabatan Anda dicopot. Banyak hikmah yang Anda belum tahu dibalik sebuah kejadian. Ketika ada dizalimi misalnya, di samping Anda terus merawat semangat, sesuatu yang harus konsisten Anda lakukan adalah berbaik sangka kepada Allah SWT, rabb Yang Maha Kuasa. Allah SWT melalui Rasul-Nya Muhammad SAW telah berjanji tidak akan membebani hamba Nya dengan sesuatu di luar kadar kemampuan si hamba.

Anda tidak boleh merasa hina atau merasa sebagai manusia buangan ketika jabatan Anda dicopot. Karena yang mencopot atau yang menggantikan Anda belum tentu lebih baik dari Anda. Kuatkan diri Anda dengan sebuah keyakinan: Semua itu ada masanya


Husnuzan

Salah satu resep hidup yang harus dijalani PNS, utamanya  para pejabat,  agar tetap sehat dan awet muda adalah berbaik sangka yang dalam ajaran agama kita dikenal dengan istilah husnuzan.

Ketika Abu Doto misalnya mencopot Anda dari sebuah jabatan maka jangan pernah tersirat di hati Anda  sebuah kemarahan yang menyala-nyala. Berbaik sangkalah kepada Abu Doto. Sebagai seorang Ayah, seorang tua yang dituakan, seorang pejuang yang kenyang dengan asam garam perjuangan membela nasip rakyat Aceh, yakinlah tidak ada sebesar debu pun niat dari Abu Doto untuk menyakiti Anda.

Sebagai pemimpin Aceh tentu yang diharapkan Abu Doto adalah hadirnya sebuah perubahan yang luar biasa di Aceh. Hadirnya sebuah Aceh yang maju dan mandiri serta rakyatnya makmur sejahtera.

Keinginan Abu Doto tersebut bukanlah perkara mudah. Meraihnya pun bukan urusan gampang. Abu Doto harus berlari cepat bahkan sangat cepat dalam rangka membenah Aceh ini. Untuk itu Abu Doto  butuh SDM yang mumpuni yang mampu mengimbangi gaya dan kecepatan larinya. Setelah Anda diuji dengan jabatan selama ini ternyata Anda tidak kualifaid. Maka seperti halnya permainan bola, maka wajar saja bila di tengah permainan ada pergantian pemain. Anda harus sportif!.

Aceh ini bukanlah milik pribadi atau keluarga seperti halnya sebuah perseroan. Gubernur yang memimpin Aceh dalam mengambil berbagai kebijakan tidak pernah terkait dengan kepentingan pribadi dan primordial lainnya (entah benar entah gak ya... he .. he) . Ketika Anda dipecat dari senuah jabatan, maka agar Anda sehat dan tetap ceria, berkeyakinanlah bahwa semua itu untuk kepentingan Aceh yang lebih baik.  Atau paling kurang Abu Doto menjadi puas dan bahagia. Sehingga di masa tua nya itu, di sisa-sisa umurnya yang masih ada beliau dapat tertawa lepas bersama isteri, adik ipar dan keluarga dekatnya yang lain.

Khak-- khak ..khak!. .[].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...