Menyamar Jadi Perempuan Iran

By 05.21.00


DEMI menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan Masjidil Haram di Mekkah dan Masjid Nabawi di Madinah, Pemerintah Kerajaan Saudi Arabia selaku khadimul haramaini (pelayan dua tanah suci)  menempatkan asykar alias polisi di kedua tempat suci itu.  Dalam melaksanakan tugasnya, asykar laki-laki yang rata-rata berkumis tebal dan kebanyakan berkulit hitam, bertanggung jawab atas keamanan dan ketertiban jamaah pria.

Sebaliknya, asykar perempuan dengan tanda khusus di dada atau lengan mereka bertugas mengawasi dan membantu jamaah perempuan yang datang dari berbagai penjuru dunia ke kedua masjid itu.

Sekalipun penempatan polisi di dalam dan luar dua masjid itu didedikasikan oleh Pemerintah Saudi dalam rangka memberikan jaminan keamanan dan kenyamanan kepada jamaah, namun dalam praktiknya banyak juga tingkah dan sikap dari asykar Negeri Wahabi itu yang terkadang mengganggu kenyamanan jamaah.

Ada perbedaan karakter antara asykar Saudi yang bertugas di Masjidil Haram dengan yang bertugas di Masjid Nabawi. Asykar yang bertugas  di lingkungan Masjidil Haram Mekkah terkesan kurang ramah, keras, dan terkadang cenderung kasar. Sedangkan asykar yang bertugas di Masjid Nabawi Madinah lebih ramah, lembut, dan lumayan familiar.

Yang menarik, saat azan berkumandang di kedua masjid itu ada sejumlah asykar yang khusyuk mendengar lantunan azan dan menjawabnya sebagaimana dianjurkan Rasulullah saw dalam sejumlah hadisnya. Ada juga segelintir asykar yang tidak peduli dengan seruan azan. Mereka terus sibuk berbicara sesama mereka, bahkan tertawa cekikikan. Sebagian yang lain bahkan dengan wajah tanpa ekspresi terus memainkan keyboard HP-nya.

Melihat ada sebagian polisi Arab Saudi yang tetap berbicara dan ketawa saat azan berkumandang, ada jamaah umrah dari Aceh yang spontan berkomentar, “Hana dideunge bang peulisi Arab nyoe.” Di Aceh, kalimat hana dideunge bang (azan) adalah berkonotasi negatif  bila ditujukan kepada seseorang. Saya yakin, sejumlah asykar Arab ini tidak sadar bahwa tindakan mereka berbicara dan tertawa cekikikan saat azan adalah tindakan yang tidak sesuai dengan sunnah Rasulullah  saw dan menjadi perhatian jamaah dari seluruh dunia, khususnya Aceh.

Terlepas dari persoalan di atas, ada sikap tidak adil atau tindakan diskriminatif yang saya lihat dan rasakan yang dilakukan polisi Saudi-- terutama polisi perempuan--yang bertugas di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Seharusnya, semua jamaah dari berbagaai penjuru dunia, apa pun warna kulitnya, apa pun bangsanya, serta bagaimanapun bentuk tubuhnya harus diperlakukan sama. Tidak boleh ada jamaah yang mendapat pelayanan diskriminatif dengan alasan apa pun.

Tapi dalam kenyataannya, tidak demikian. Kondisi diskriminatif ini terutama dirasakan oleh jamaah perempuan ketika berkunjung ke kedua masjid tersebut. Di Masjidil Haram, misalnya, asykar perempuan Saudi ini begitu ketat dan njelimet ketika memeriksa isi tas sandang jamaah perempuan yang masuk masjid. Mereka preteli satu per satu. Mereka tidak mengizinkan jamaah perempuan membawa HP.

Sikap tegas dan njelimet dari asykar perempuan Saudi ini sering tidak konsisten. Sebab, ketika berhadapan dengan jamaah perempuan dari Negeri Iran mereka bahkan tidak melakukan penggeledahan. Rata-rata jamaah perempuan Iran tidak berurusan dengan asykar ini. Sepertinya ada kecanggungan, ketidaktegasan, dan ketidakberanian asykar Saudi  ketika harus berhadapan dengan jamaah dari Iran.

Hal yang sama juga terjadi di Masjid Nabawi.

Saat jadwal jamaah perempuan berkunjung ke Raudhah dan kuburan Nabi Muhammad saw, jamaah perempuan Iran selalu diberikan prioritas pertama. Sedangkan jamaah dari negeri lain mendapat kesempatan setelahnya dan terkesan tidak diistimewakan.

Ketika melihat ada jamaah perempuan yang rata-rata tinggi besar, berkulit kuning langsat, serta memakai baju abaya hitam yang hendak masuk ke lokasi Raudhah dan kuburan Rasulullah, dengan spontan asykar perempuan Saudi yang bertugas di Masjid Nabawi langsung berteriak, “Iran- Iran.”

Teriakan itu biasanya sambil diikuti dengan gerakan menjulurkan tangan sang asykar untuk mempersilakan jamaah perempuan Iran segera masuk pada kesempatan pertama ke Raudhah dan  pada saat bersamaan mereka minta jamaah perempuan lain yang diyakini bukan perempuan Iran agar memberi jalan masuk kepada jamaah Iran.

Kenapa demikian?

Dari sejumlah pelajar Indonesia yang sudah lama bermukim di Arab Saudi saya mendapat informasi bahwa Pemerintah Saudi memang sedikit grogi dengan Pemerintah dan rakyat Iran. Iran termasuk salah satu negara yang sangat protektif melindungi rakyatnya di luar negeri. Bila ada rakyat Iran yang mendapat masalah di luar negeri, maka Pemerintah Iran akan allout membelanya. Rakyat Iran juga sangat militan. Mereka siap lakukan apa saja demi warganya.

Menyamar

Melihat jamaah perempuan Iran yang mendapat perlakuan istimewa dari asykar Saudi, terutama ketika masuk ke Rauhdah yang agak sulit karena selalu penuh dan sesak, maka saya dan sejumlah jamaah perempuan Aceh yang sedang di Madinah sepakat “menyamar” sebagai perempuan Iran.

Caranya mudah. Kami pun memakai pakaian abaya hitam yang mirip dan persis pakaian perempuan Iran itu. Ternyata memang manjur untuk  “mengibuli” asykar perempuan Saudi. Kami pun berjalan penuh wibawa dan percaya diri sebagaimana rata-rata perempuan Iran di Masjid Nabawi. Hasilnya? Lumayan. Kami mendapat kemudahan dan keistimewaan saat masuk Raudhah. Tidak dihalang-halangi lagi oleh  polisi perempuan Saudi.

Anda mau mendapatkan kemudahan saat berada di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi? Tiru kiat kami, menyamarlah sebagai perempuan Iran !.


-     Reportase ini di Tulis Hj. Nur Asiah Ibrahim, Seorang Ibu Rumah Tangga, tinggal di Aceh Besar. Pernah dimuat di Rubrik Citizen Reporter Serambi Indonesia edisi 6/5/2014

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...