Geunteut (Tidak) Masuk Pendopo ?

By 06.35.00




Tahukah Anda apa itu Geunteut?.

Saya yakin Anda yang lahir dan dibesarkan di kampung-kampung pedalaman Aceh   --- sekalipun tidak pernah berinteraksi langsung dengan Geunteut ---  pasti tahu tentang makhluk gaib  yang menakutkan satu ini. Paling tidak Anda tahu dari cerita berantai yang dituturkan  keluarga menjelang tidur.Dari diskrepsi sejumlah pihak yang katanya pernah berurusan dengan geunteut, diceritakan geunteut itu  berbentuk hantu dengan wujud hitam dan berukuran sangat tinggi.

Dalam cerita orang tua di kampung,  Geunteut sering bersua di tengah jalan menghadang  perjalanan orang di malam hari. Geuteut bergerak cepat  dengan melangkahkan kakinya yang panjang dan tiba-tiba menghilang di balik rumpun bambu atau semak belukar. Saking tingginya kaki Geunteut, disebutkan dalam posisi  berdiri  ketinggian Geunteut  setara  dengan tinggi pucuk bambu.

Konon saking tinggi dan panjangnya kaki Geunteut maka siapapun ketika pertama kali bersua dengan Geunteut maka yang terlihat bukanlah keseluruhan tubuh Geunteut, tetapi yangtampak adalah  dua kaki Geunteut  yang menyerupai dua batang bambu yang berdiri simetris menjulang tinggi ke angkasa. Setelah mata kita arahkan pelan-pelan ke atas baru  beberapa saat kemudian terlihat badan dan kepala Geunteut.

Dari gambaran cerita yang ada  tersebut sepertinya struktur dan anatomi tubuh Geunteut mirip manusia. Persis banget, kecuali kakinya saja yang yang panjang.  Terkait kaki Geunteut yang panjang itu, orang Aceh di kampung-kampung sekalipun tidak pernah melihat  geuteut sering mengolok-ngolok temannya yang berkaki panjang dengan candaan lagee geunteut aki kah.

Dulu waktu saya masih kecil dan tinggal di sebuah  kampung di pedalaman Aceh, sering anggota keluarga atau tetangga menceritakan kejadian  kehadiran Geunteut  yang menghebohkan kampung kami. Ada seorang masyarakat, misalnya,  tiba-tiba tanpa sadar sudah berada dan duduk sendirian di atas kuburan. Atau dalam kejadian lainnya, ada seseorang yang tiba-tiba menghilang dan  dalam waktu relatif lama tidak kembali ke rumahnya. Ketika anggota keluarganya mencari, didapati orang  hilang tersebut sedang duduk santai di pucuk bambu.

                                                                   " Salah satu indikator 
kepala daerah yang positif telah berada di bawah
 bayang-bayangan Geunteut adalah  ketika kebijakan yang diambilnya 
tidak konsisten, tidak terarah bahkan sporadis. Emosi kepemimpinan sang 
kepala daerah sering tidak stabil, sangat mudah  murka dan seketika dalam
                                            satu helaan nafas dapat baikan kembali "

Dalam situasi normal yang bersangkutan pasti tidak mungkin naik dan duduk di pucuk bambu yang melambai dan tidak sanggup menahan beban  berat tubuh  seorang manusia dewasa. Namun ini terjadi dan nyata. Kemampuan abnormal yang terjadi semacam inilah dulu di kampung-kampug di Aceh diyakini sebagai ka diba le Geunteut (dibawa oleh Geunteut). Kemampuan manusia di bawah pengaruh  Geunteut memanjat batang bambu bukanlah  talenta orisinil yang bersangkutan tapi semua atraksi ini berada di bawah kekuatan supranatural  sang Geunteut.

Buktinya, ketika sadar yang bersangkutan tidak mampu turun dari ketinggian pohon bambu itu. Harus ada banyak pihak yang membantunya. Intinya, kemampuan luar  biasa sosok Geunteut adalah kemampuannya mempengaruhi akal, pikiran dan alam bawah sadar seseorang sehingga orang tersebut akan bersikap dan bertindak tidak rasional  sesuai keinginan Geunteut. Orang-orang yang jadi korban diba lee geunteut ini biasanya menjadi sosok pasif.  Panggilan dan seruan dari anggota keluarga atau masyarakat yang memintanya turun dari ketinggian pohon bambu atau pohon lainya --- misalnya ---  sama sekali tidak direspon. Dia seperti tidak berdaya  dan menatap nanar. Dalam kondisi kritis seperti ini biasanya orang pintar di kampung yang akan mengambil tindakan penyelamatan yang juga dilakukan  dengan cara-cara yang irrasional.

Saking seringnya zaman dulu  orang-orang di pedalaman Aceh  diba lee geunteut, maka banyak orang tua di kampung  menasehati anak gadisnya agar tidak keluyuran di malam hari dengan mengatakan bek kajak hoe hoe yang galak keuh, eunteuk diba lee geunteut.

Seiring dengan program listrik masuk desa yang menyebabkan perkampungan di Aceh menjadi terang benderang di waktu malam seperti halnya di kota-kota, kemudian masyarakat di kampung-kampung juga dengan mudah mengakses berbagai chanel televisi yang menyebabkan kampung-kampung di Aceh menjadi lebih hiruk pikuk di saat malam,  maka sepertinya kondisi ini telah menyebabkan eksistensi dan kiprah Geunteut saat malam hari di kampung-kampung di pedalaman Aceh semakin terusik dan berkurang, bahkan  terancam. Karena itu wajar saja bila saat ini sangat jarang kita dengar di kampung-kampung ada kejadian orang  dibawa lari Geunteut.

Sepertinya misteri Geunteut dengan segala reputasinya di kampung-kampung di Aceh telah menjadi masa lalu. Situasi kampung-kampung di Aceh yang mulai bising dengan berbagai aktifitas saat malam hari sepertinya telah membuat Geunteut kecut dan  anak anak Aceh secara perlahan-lahan melupakan Geunteut. Dengan kata lain kini geuteut tidak esksis  lagi di kampung-kampung.

Lantas apakah sosok geunteut yang dulu begitu menakutkan di kampung-kampung telah punah?. Sepertinya tidak juga.

Konon, Geunteut termasuk makhluk cerdas. Geunteut ternyata tidak hanya melakukan transformasi perilaku dari gaya dan style tradisional ke performa moderen, tetapi juga sebagai respon terhadap kemajuan berbagai sisi kehidupan manusia yang semakin pragmatis, komunitas Geunteut yang dulu berdiam dan beraktifitas  di kampung-kampung kini telah melakukan urbanisasi ke sejumlah kota di Aceh. Sesuai dengan kapasitas pengalaman dan jam terbang yang dimiliki masing-masing Geunteut,
ada Geunteut yang memulai kehidupan baru di ibukota provinsi dan banyak juga yang berkiprah di ibukota kabupaen kota. Pokoknya Geunteut telah masuk  ke kota, meninggalkan kehidupan kampung yang menurut mereka telah ketinggalan zaman.

Namun tidak ada informasi yang akurat, setelah berada di kota Geunteut tinggal dimana?.

Karena di kota rerimbunan pohon  yang menjadi tempat Geunteut  bersemanyam seperti di kampung-kampung jarang ditemui. Kalau pun ada komplek perkuburan sepertinya tidak  cocok bagi Geunteut  seperti saat di kampung karena komplek perkuburan di kota diterangi lampu pada  malam hari.

Sekalipun Geunteut telah pindah domisili ke kota, kita tidak boleh mempermasalahkannya, karena komunitas Geunteut juga punya hak yang sama dengan kita untuk mutasi ke daerah manapun dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia ini. Tapi diiringi rasa khawatir,  yang pasti  kita sangat berharap jangan sampai  Geunteut masuk dan tinggal di salah satu pendopo kepala daerah di Aceh.

Tapi menurut informasi beberapa ustadz yang paham ilmu supanatural dapat dipastikan beberapa pendopo di Aceh tidak akan dimasuki Geunteut karena telah dipagari dengan  pamplet asmaulhusna. Rupanya Geunteut takut akan asamaulhusna.  Tetapi sang ustad tersebut  juga menegaskan  kekhawatirannya, jika Geunteut telah duluan masuk pendopo dan kemudiaan sekeliling pendopo kemudian baru dipagari dengan pamplet asmaulhusna bisa bahaya juga, sebab Geunteut yang konon masih satu spesies dengan syaitan ini tidak bisa keluar lagi dari pendopo. Salah-salah geunteut bisa menjadi penduduk permanen pendopo.

Seperti halnya  orang kampung yang tidak suka Geunteut sebenarnya kita juga tidak suka kalau sampai Geunteut masuk pendopo. Karena dampaknya luar biasa, bukan hanya bagi komunitas pendopo tapi juga  bagi kita rakyat sebagai objek regulasi atau kebijakan dari  pejabat pendopo.Dengan kemampuannya menghipnoptis bisa saja Geunteut  yang tinggal di pendopo akan terlibat terlalu jauh mempengaruhi dan bahkan mengatur kebijakan pemerintahan dari pendopo. Dengan kemampuan supranaturalnya itu  Geunteut dapat hadir  dengan nyaman di sisi kepala daerah karena seperti lazimnya ureung diba lee geunteut  kepala daerah tidak tahu dan tidak sadar jika dirinya saat itu sedang berada di bawah pengaruh otoritas Geunteut.

Salah satu indikator kepala daerah yang positif telah berada di bawah bayang-bayangan Geunteut adalah  ketika kebijakan yang diambilnya tidak konsisten, tidak terarah bahkan sporadis. Emosi kepemimpinan sang kepala daerah sering tidak stabil, sangat mudah murka dan seketika dalam satu helaan nafas dapat baikan kembali. Karena memang inilah salah satu talenta  spesialis Geunteut : mempengaruhi manusia sehingga yang bersangkutan secara emosional tidak stabil serta  kehilangan konsentrasi dan seterusnya tanpa sadar mengikuti kinginan Geunteut. Bila kondisi ini sampai terjadi pada sebuah pemerintahan, maka boleh  boleh saja secara dejure sosok tertentu yang  dilantik secara meriah sebagai kepala daerah, tetapi selanjutnya secara defacto yang memimpin dan mengelola pemerintahan adalah Geunteut.

Saya yakin ilmuwan tata negara kita  belum berhasil membaca dan mengindentifikasi sinyal adanya keterlibatan Geunteut  dalam tata kelola sebuah pemerintahan. Kalau ilmuwan tata negara tahu dinamika ini pasti teori tentang bentuk pemerintahan akan ditambah lagi. Selain ada model pemerintahan demokratis, monarkhi absolut dan monarkhi konstitusional juga akan ada model pemerintahan Geunteut.

Geunteut memang hebat, dari desa menguasai kota!. Khak...khak...khak![]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...