Catatan Harian: Souvenir Ridak

By 01.23.00

Jumat, 8/4/2016, 15.10


Kain ridak itu dulu begitu berkah dan karamah.

Karena di dunia dayah, hanya ulama khas yang layak menyanggulnya. Para murid tidak berani menggunakannya seperti layaknya guru mereka, karena mereka yakin itu bukan maqam mereka.

Bila suatu waktu Pimpinan daya menghadiahkan ridak kepada seseorang, maka itu adalah pesan verbal dari guru bahwa penerima ridak itu adalah orang special dan setiap langkahnya dalam restu sang ulama pemberi ridak.

Itu dulu!.

Sekarang, kain ridak begitu mudah didapatkan terutama bagi politi yang sowan ke pesantren. Kain ridak itu sepertinya tidak berkah lagi. Siapapun yang datang ke tempat itu langsung dikalungi ridak. Sudah seperti souvenir, sebagai tanda mata, wujud keramahtamahan sang pemilik tempat.

Politik  bagi-bagi ridak itu di satu sisi,  ya,  mendatangkan keuntungan jangka pendek bagi si pemberi. Tapi dalam interval waktu yang lama, police ridak yang demikian meluluhlantakkan kewibawaan dayah. Umat menjadi bingung dengan bahasa verbal ulamanya, isyarat mana yang harus mereka ikuti.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...