Umeng Geuntot Ampon Syik

By 20.59.00




Beberapa hari yang lalu di beberapa media online, juga di sejumlah medsos di Aceh, beredar foto beberapa kepala dinas yang menjadi peserta aktif temu relawan sang kepala daerah yang menurut informasi akan maju sebagai Cagub Aceh 2017 – 2021.

Dalam hitungan beberapa detik setelah postingan foto tersebut, beragam reaksi dari netizen terutama dalam bentuk ketidaksetujuan akan aksi para kepala dinas  itu meledak di dunia maya.

Ada yang bilang, keterlibatan kepala dinas sebagai PNS aktif dalam agenda politik cagub tidak benar dan bertentangan dengan Undang-Undang ASN. Bahkan ada juga yang mengutuk, untuk kepentingan pribadi kok pakai fasilitas negara. Pokoknya komentar yang diunggah itu variannya nano-nano.

Semula saya mengira peristiwa ini hanya kejadian biasa, wajar saja seorang atau beberapa orang pejabat publik tanpa sengaja terserempet dengan dinamika politik yang ada di seputarannya.
Dan karenanya jangan terlalu serius dipermasalahkan, cukup dinasihati saja kalau itu memungkinkan.

Tapi tadi sore saya dengar dari beberapa sumber yang layak dipercaya, peristiwa kehadiran sejumlah kepala dinas pada acara temu relawan cagub itu dapat saja berpotensi menjadi berita yang akan lebih menarik lagi beberapa hari mendatang. Informasi yang berkembang Kementerian PAN-RB dan Komisi Aparatur Sipil Negara (KASN) sebuah lembaga  yang memiliki otoritas mengawasi dan memberi sanksi kepada PNS indisipliner juga telah memantau peristiwa ini.


"Seorang staf senior yang hadir bersamanya
 secara refleks mengambil sikap yang cepat dan diwaktu yang tepat. 
Sang staf yakin bahwa ampon syik dalam kondisi kritis,
 kehormatannya berada di titik nadir serta harus ada
 upaya penyelamatan yang efektif demi kehormatan
                                                       dan harga diri ampon syik"

Bahkan, konon dalam beberapa hari ini kabarnya DPRA juga akan memanggil pihak terkait dengan kejadian ini untuk diminta konfirmasi. Meminjam istilah Syahrini, bisa saja kejadian ini akan membahana.

Beberapa kawan menanyakan pendapat saya terkait peristiwa yang ada di foto itu.
Ketika saya menjawabnya bahwa kejadian itu hal biasa, sang kawan sedikit marah dan berkata, “Nyan be raya buet mantong biasa bak droe neuh!”.

Saya mencoba menenangkan sang sahabat. “Saya katakan biasa, karena peristiwa seperti ini buka baru pertama kali terjadi, tapi dalam sejarah tempoe doeloe Aceh juga ada kejadian serupa”, ujar saya menjelaskan.

Lalu saya menuturkan sebuah cerita zaman kepadanya.

Konon, dulu saat para ampon syik masih berkuasa di Aceh, ada seorang ampon syik yang datang ke sebuah acara dengan beberapa stafnya. Di tempat acara yang bergengsi dan dihadiri banyak tokoh terhormat itu, tiba-tiba ampon syik keluar geuntot (maaf: kentut).

Seorang staf senior yang hadir bersamanya secara refleks mengambil sikap yang cepat dan diwaktu yang tepat. Sang staf yakin bahwa ampon syik dalam kondisi kritis, kehormatannya berada di titik nadir serta harus ada upaya penyelamatan yang efektif demi kehormatan dan harga diri ampon syik.

Staf senior tersebut lalu bangun dari tempat duduknya dan mengatur sembah sujud kepada ampon syik. “Ampun paduka, maafkan hamba yang tidak sopan ini, perut hamba sakit maka hamba kentut”, kata sang staf setengah berteriak dengan posisi bersimpuh di depan ampon syik.

Seakan nyambung dengan sekenario staf nya, ampon syik pun segera bangun dari duduknya dan seketika menendang staf nya. “Kurang ajar, tidak tahu adab”, tegas ampon syik penuh wibawa. Dan seterusnya kehormatan ampon syik pun pulih seperti sedia kala.

Selesai acara ketika sampai di rumah, ampon syik memanggil staf lalu memeluk dan memuji kinerja stafnya yang telah menyelamatkan ampon syik.  Lalu ampon syik menghadiahkan sepetak tanah sawah (umeng) kepada stafnya yang telah teruji loyalitas tanpa bertepi itu. Sejak saat itulah di wilayah kekuasaan ampon syik, sawah hadiah ampon syik itu disebut masyarakat dengan umeng geuntot.

Jadi, saya bilang ke teman saya, jangan ributkan peristiwa itu. Kalau kehadiran sang pejabat di acara temu relawan itu karena ketidaktahuan, maka kita maafkan saja, bukankah Allah juga maha pemaaf.
Namun kalau kedatangannya dengan kesadaran penuh, maka itu adalah sikap reflektif seorang staf membantu dan menyelamatkan ampon syik.

Seperti kisah tempoe doeloe di atas, konsekwensi tetap ada bagi para Kadis yang berkenan hadir itu:
Kalau umeng geuntot sudah diberikan maka ampon syik tidak akan mencabutnya kembali. Sebaliknya, kalau belum dapat jatah akan segera mendapat hadiah umeng geuntot.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...