Air Mataku Menetes di Sisi Makam Nabi

By 21.22.00

                                             

                                               

Rasa syukur yang tidak bertepi membuncah dari dada ku ketika pesawat Saudi Arabia Airlines yang aku tumpangi mendarat dengan mulus di Bandara Prince Muhammad Bin Abdul Aziz Internasional Air Port, Madinah, Saudi Arabia.

Ini adalah perjalanan pertamaku ke luar negeri. Aku bersyukur dan bahagia karena telah begitu lama merindukan Kota Madinah dan Mekkah. Alhamdulillahi ála kulli hal, atas karunia Allah ini.

Di Madinah di samping ingin shalat di Mesjid Nabawi, aku ingin sangat berdoa di Raudhah dan ziarah ke Makam Nabi SAW. Sedangkan di Kota Mekkah aku ingin melihat indahnya Baitullah dan Mesjidil Haram serta berhasrat bermunajat di dalamnya. Selama ini cerita tentang bahagiannya berkunjung ke haramain (Mekkah dan Madinah) hanya aku dengar dari cerita ayah dan bunda ku di waktu-waktu senggang.

Memasuki kota Madinah entah kenapa tiba-tiba aku merinding membayangkan kota ini pernah menjadi saksi sejarah yang sangat penting dalam menegakkan agama yang aku anut. Kota indah dimana kehijauan pohon-pohon kurma berpadu dengan gersangnya bukit-bukit khas padang pasir serta bangunan-bangunan modern. Kota Madinah saat ini sudah berbeda dengan saat pertama kali menjadi tempat hijrahnya Rasulullah Muhammad SAW dari tanah kelahiran Beliau di Mekkah.

Ada rasa damai dan sejuk saat pertama kali menginjakkan kaki di negeri yang sekaligus menjadi tempat beristirahat terakhir Rasulullah SAW. Sesaat setelah check in di Hotel Dar El Aiman yang terletak pas di depan Mesjid Nabawi, aku dan rombongan segera bergegas mengambil air wudhu dan ingin segera menuju ke Mesjid Nabawi untuk shalat pertama. Dengan bergegas , kami bersama-sama Jemaah lain yang juga sedang menuju ke sana untuk melaksanakan shalat Azhar.

Setelah melewati pelataran yang sangat luas, kami tiba di depan pintu King Fath yang merupakan pintu utama. Saat aku sudah menyimpan sandal di rak yang disediakan dan untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di atas karpet tebal di dalam masjid, aku merasakan lututku gemetar dan dengan serta merta aku melakukan sujud syukur. Inilah Masjid Nabawi, masjid dimana Rasulullah SAW turun tangan langsung dalam membangunnya, masjid yang sekaligus menjadi rumah beliau hingga menghadap Allah SWT.

Saat itu aku belum melihat makam Rasul yang memang letaknya cukup jauh berada di dekat mimbar. Namun bayangan mengenai perjuangan Beliau serta sahabat-sahabat dan seluruh umat muslim di zamannya sudah cukup untuk membuatku berurai air mata. Jemaah sudah banyak hingga aku hanya bisa melakukan shalat Ashar di tengah-tengah masjid. Sesaat setelah shalat ashar selesai, aku dan rekan-rekan lain memilih tetap tinggal di dalam masjid. Kami sudah berniat untuk berdiam di masjid hingga shalat maghrib. Setelah Jemaah di dalam masjid berkurang, kami lalu bergerak maju menuju mimbar utama dengan tujuan utama melihat makam Rasulullah SAW. Makam Rasulullah terlihat di jaga oleh beberapa petugas. Kami sudah antri untuk melewati area di depan makam dengan tak henti-hentinya membaca shalawat.

Sebuah perasaan haru saat melewati pintu-pintu berwarna emas yang mengelilingi makam yang tadinya adalah rumah Rasulullah. Selain makam beliau, juga berbaring sahabat beliau Abu Bakar As-Shiddiq dan Umar bin Khattab. Hampir semua Jemaah termasuk aku mencucurkan air mata saat melewati makam dan kami juga di arahkan oleh petugas untuk segera keluar karena antrian yang panjang. Yang terbayang di benakku saat melintasi makam beliau adalah perjuangan yang tak kenal lelah hingga akhir hayatnya menegakkan agama Islam, kesederhanaan, kesabaran, dan segala sifat dan sikap beliau yang diteladani seluruh umat muslim di dunia.

Saat sejenak berkesempatan berdiri di sisi makam Nabi SAW, tanpa aku sadari aku tak mampu membendung tetesan airmata ku. Aku mengangkat tangan kearah makam mulia itu kemudian aku kecupkan, sembari aku berkata pelan, “Assalamualaiaka Ya Rasulullah, aku umat mu yang menziarahi mu. Karena rindu dan cinta, aku dengan susah payah mendatangi kota mu. Aku juga telah ke Raudhah tempat dulu engkau tinggal bersama Ummul Mukminin. Sungguh, aku mencintai mu dan sunnah mu ya Rasulullah, melebihi cintaku kepada diriku sendiri. Aku mengharapkan syafaat mu di hari kiamat, untuk ku dan ayah bunda ku. Allahumma shalli ‘ala saidina Muhammad wa’ala ali saidina Muhammad”.

Setelah “menyapa” Nabi, aku merasa begitu lega, serasa aku merasa kehadiran aura Sang Nabi. Selanjutnya, karena terlalu berdesakan dengan jamaah lain aku pun beringsut dan kembali ke hotel dengan sebuah rasa bahagia yang tidak terhingga. Selain Makam Rasulullah SAW, hal yang menarik di dalam masjid Nabawi adalah Raudhah yang berarti Taman Surga. Area itu terletak antara Makam Rasulullah SAW dan mimbar. Untuk menandainya sangat mudah , Bunda ku yang terus mendampingiku membisikan kepada ku bahwa area Raudhah adalah seluruh lantai yang dilapisii karpet berwarna hijau, sedangkan karpet lainnya berwarna merah. Area Raudhah termasuk salah satu tempat terbaik untuk memanjatkan doa ke hadirat Allah SWT.

Aku dan rekan duduk di area Raudhah dan membaca Al-Quran yang kami lakukan hingga menjelang maghrib. Demikianlah hari-hari indah dengan perasaan penuh ketenangan dan kedamaian selama berada di Medinah khususnya di dalam masjid Nabawi.

Selama lima hari di Madinah rinduku akan kota Madinah, Mesjid Nabawi dan Makam Nabi serasa tak lekang. Aku suka banget dengan kubah masjid Nabawi yang berwarna hijau nan indah, payung-payung di halaman masjid yang sangat indah dan selalu kami nantikan saat proses buka dan tutupnya di pagi dan sore hari.

Sekalipun rindu tak bertepi akan kota NaBI itu, setelah lima hari di Madinah aku harus segera keluar dari kota mulia itu. Selamat tinggal Kota Madinah, aku berjanji --- insya Allah --- lain kali akan kembali kesini.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...