Idul Fitri dan Rekonsiliasi

By 21.19.00


HARI baik, bulan baik. Selayaknya kita manfaatkan untuk urusan dan hal-hal yang baik pula. Hal ini bisa diwujudkan dalam rangka rekonsiliasi atau memperbarui hubungan kita dengan Allah Swt (hablum minallah) dan dengan sesama manusia (hablum minannas), serta dengan alam lingkungan hidup kita.

Inilah sebetulnya hakikat dari Idul Fitri yang sebentar lagi kita rayakan, setelah menjalani ibadah puasa Ramadhan sebulan penuh.

Rekonsiliasi dengan Allah Swt, dapat kita lakukan dengan memperkokoh tauhid dan kesetiaan kita kepada-Nya. Dengan kekokohan tauhid, kita tinggalkan semua taghut, yaitu segala kekuatan yang menjadikan kita berkarakter dan berkepribadian mendua (ambigu), yang bahkan sering membuat kita menomorduakan Allah dalam kehidupan sehari-hari. Sedangkan peningkatan kesetiaan kepada Allah, bermakna kita meningkatkan kesediaan kita untuk melakukan sesuatu dan tidak melakukan sesuatu sesuai dengan amaran-Nya.

Sedangkan rekonsiliasi dengan sesama manusia dapat kita lakukan dengan merajut ulang kohesi sosial, saling memaafkan atas semua kesalahan, tidak melanjutkan dendam dan selanjutnya secara bersama-sama bersepakat seiring sejalan membangun kehidupan baru yang lebih baik di masa-masa mendatang. Sebagai sebuah daerah yang pernah didera konflik berkepanjangan, maka rekonsiliasi menjadi sebuah keniscayaan di Aceh.

Karena Ramadhan yang hampir tuntas kita jalani dan Syawal yang sebentar lagi kita jelang adalah bulan ukhuwah, sekaligus bulan rekonsiliasi, maka sangat diharapkan semua pihak di Aceh menjadi pendorong sekaligus pelaku rekonsiliasi itu sendiri. Karena itu, momentum Ramadhan dan Idul Fitri adalah waktu yang tepat untuk memperbarui semangat kita mewujudkan rekonsilasi yang tuntas di Aceh.

Tanpa adanya rekonsiliasi yang tuntas dan menyeluruh, serta semangat kolektif dari seluruh elemen masyarakat untuk mengahapus etos konflik dalam memori kehidupan berbangsa kita, maka yang akan terjadi bukan hanya kesulitan mewujudkan masa depan Aceh seperti yang selama kita cita-citakan.

Tetapi, yang lebih parah adalah kita juga akan terperangkap dalam fenomena yang sangat mengkhawatirkan, yaitu saling mengintai waktu yang tepat untuk balas dendam dan saling menjatuhkan. Padahal, saling menjatuhkan dan tradisi pewarisan dendam dalam kehidupan bermasyarakat bukanlah moralitas Islam.

Satu misi kerasulan Muhammad saw adalah menghapuskan sifat dendam yang telah menjadi tradisi turun-temurun di kalangan kaum jahiliyah Arab. Ajaran Islam sendiri tidak akan diterima secara meluas seperti saat ini andai dulu Rasulullah menyebarnya atas dasar balas dendan. Bila itu yang dilakukan Rasulullah, maka sejarah Islam pun saat ini akan ditulis dengan tinta darah di atas kertas kusut dan buram. Saat ini sejarawan dari agama apa pun akan mengakui keuniversalan semangat humanisme Rasulullah dalam menyebarkan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.

Karena itu--sekali lagi--mari kita buang seluruh aura kebencian serta semangat mendendam. Semua kita harus meyakini bahwa Aceh baru hanya dapat dibangun dengan semangat rekonsiliasi dan kasih sayang.

Makanya, setelah sebulan kita berpuasa yang kemudian kita rayakan Idul Fitri sebagai hari kemenangan, sesungguhnya merupakan momentum puncak bagi kita semua untuk menjalin dan membina kehidupan yang lebih baik dalam rida Allah Swt.

Karena itu pula, rekonsiliasi dan kasih sayang sesama aneuk nanggroe hendaknya menjadi semangat baru dan energi kolektif dari semua elemen masyarakat Aceh dalam menggapai masa depan yang lebih baik itu.

Akhirnya, selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1433 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin. (*)

 - Pernah dimuat Serambi Indonesia, 16/8/2012

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...