JELANG SENJA DI BATEE ILIEK; Menduga Arah Pilihan Politik Orang Bireun

By 00.20.00



Saat pulang dari Lhokseumawe – Banda Aceh kemaren sore, Ahad, 5/6, ketika melewati Krueng Batee Iliek kenderaan yang saya  tumpangi beserta keluarga terpaksa merayap bagaikan siput. Di atas jembatan Batee Iliek dan beberapa ruas kiri kanan,  sebelum dan sesudah jembatan tersebut  penuh tumpah ruah dengan  masyarakat dalam wilayah Bireun dan sekitarnya yang sedang menikmati dinginnya air sungai berbatuan itu.

Batee Iliek memang merupakan salah satu destinasi wisata masyarakat lokal yang terletak di Kecamatan Samalangan Kabupaten Bireun. Di samping sebagai objek wisata sungai, Batee Iliek juga dikenal sebagai nama wilayah administratif Gerakan Aceh Merdeka yang dipimpin oleh seorang Panglima Wilayah yang dalam struktur NKRI setara dengan Gubernur. Saat ini Panglima Wilayah Batee Ilik adalah Darwis Jeuniep, seorang pria berpenampilan tinggi besar, berkulit hitam plus bermisai/ kumis tebal sebagaiamana sering kita lihat fotonya yang dipublikasikan media.

Bate Iliek dan wilayah sekitarnya  --- utamanya Samalanga --- memiliki sejarah masa lalu, baik sejarah gemilang maupun yang mengerikan.

Selama Perang Aceh   Batee Iliek menjadi pertahanan gunung bagi para pejuang Aceh yang tidak dapat ditembus Belanda sampai 3 Pebruari 1901. Jenderal van Heijden yang kala itu memimpin pasukan Belanda menyerang Benteng Batee Iliek menderita luka-luka. Matanya buta terkena pelor senjata pasukan Aceh yang melepaskan tembakan  dari keinggian Benteng Batee Iliek. Kegagalan menaklukkan Batee Iliek ini menyebabkan Jenderal van Heijden dibangkupanajangkan oleh Gubernur Jenderal Belanda. Saelanjutnya tongkat kepemimpin Belanda di Aceh diserahkan kepada  Jenderal Van Heutsz yang diangkat menjadi Gubernur Militer atau Panglima Tentera Pendudukan di Aceh. Di tangannyalah Benteng Batee Iliek ini ditaklukkan.

Batee Iliek/ Samalanga  ini juga menjadi pusat keagamaan. Di wilayah ini ada sejumlah dayah besar yang dapat dikatakan merupakan bagian dari episentrum dinamika beragama di Aceh. Dari dayah-dayah di Samalangan inilah kemudian sejumlah alumninya didistrubusikan menjadi ulama ke berbagai pelosok Aceh, bahkan luar Aceh. Karenannya tidak mengherankan, hampir semua cagub bahkan gubernur Aceh selalu menyempatkan diri sowan ke Samalanga.

Pada era konflik Aceh , nama Batee Iliek adalah salah satu diksi yang mengerikan. Penumpang bus malam Banda Aceh – Medan selalu harap-harap cemas saat melintasi wilayah ini. Ya apalagi, kalau bukan di sweeping TNI  maka pilihan lainnya adalah dipreteli tentera GAM. Pokoknya kala itu melewati Batee Iliek dikala malam  --- seperti halnya sejumlah daerah lainnya di Aceh ---- ngeri-ngeri sedap.

Ada adagium tempoe doeloe yang terkait Batee Iliek/ Samalanga yang masih populer sampai saat ini. Konon, zaman dulu di seputaran Pidie – Samalanga (dulu dua wilayah ini adalah kerajaan)  sedang terjadi perang. Seorang Kleeng (keturunan India) yang melewati wilayah itu ditanyai masyarakat terkait kondisi keamanan sepanjang jalan yang dilaluinya.

Sambil menggeleng kepala, Kleeng yang kurang fasih Bahasa Aceh ini menjawab serius, “Pidie Pra’k, Meureudu Pra’k, Samalanga wala’k-wala’k”. Terjemahan bebasnya: Pidie prang, Meureudu prang, sedangkan Samalanga wallahua’lam (saya tidak tahu).

oo0oo

Kemarin sore, ketika melihat masyarakat Bireun yang begitu ramai berwisata ke Batee Iliek, saya sempat berceloteh, “Waahh ... kompak  banget orang Bireun”.

Saya katakan kompak ketika melihat orang Bireun rame-rame ke Batee Iliek karena saya tahu kehadiran warga Bireun berwisata ke Krueng Batee Iliek bukan karena ada yang mengkordinasi semacam even organizer. Saya sendiri sedikit banyak tahu karakter masyarakat Bireun yang aslinya adalah mandiri, karena ketika muda dulu saya lumayan lama berada di teritorial Bireun ini.

Jadi, saya ingin katakan, ketika tidak ada yang mengkoordinir, tetapi secara personal masing-masing orang Bireun dengan keluarganya ramai-ramai datang di hari yang sama ke Krueng Batee Iliek, maka sesungguhnya saya yakin mayoritas masyarakat Bireun memiliki rasa, perasaan, pikiran dan hati yang sama ketika berhadapan  dengan sebuah persoalan, apalagi bila persoalan tersebut terkait dengan perkara serius mengenai masa depan mereka dan daerah mereka ini.

Dugaan saya ini sebenarnya sederhana saja. Apalagi budaya masyarakat Bireun cenderung paternalistik, salah satunya adalah patron klien kepada arah dan kibijakan pimpinan dayah yang ada di Bireun --- utamanya Samalanga.

oo0oo

Sepanjang Wilayah Bireun yang saya lalui kemarin, saya melihat sejumlah spanduk dengan kata –kata merayu dilengkapi photo pemiliknya bertaburan sepanjang jalan. Saya duga pemilik spanduk itu hendak mencalonkan diri sebagai cagub Bireun ke depan.

Ada sapanduk Ruslan M, Daud (incumben) yang terkenal dengan Pantun Pelita-Lilin itu, ada Bang Mustafa Geulanggang, Amiruddin Idris, Tu Soep, Nasir Guru Mud dan banyak lagi.

Saya yakin memilih satu dari banyak calon itu kadangkala menjadi perkara yang menyulitkan orang Bireun. Apalagi dari bunyi spanduk yang ada sepertinya semua calon itu  jago merayu.  Terinspirasi dari Krueng Batee Iliek menjelang senja ketika saya melewati sungai bersejarah itu,  saya bertanya dalam hati akankankah dalam Pilkada Bireun beberapa waktu yang akan datang:  rasa, perasaan, pikiran dan hati orang-orang Bireun akan tergerak sama --- tanpa dipengaruhi kepentingan pihak lain --- seperti mereka kompak sama-sama berwisata ke Krueng Batee Iliek seperti yang saya saksikan itu.

Akankah orang-orang Bireun memiliki hati, pikiran dan sikap yang sama dalam memilih pemimpin Bireun yang akan datang ?. Akankah , jajaran dayah sebagai salah satu elemen strategis di Bireun  --- misalnya --- “membimbing”  umat  umat dalam pilkada  2017 agar memilih pemimpin yang benar ?. Atau, justru dayah-dayah di Bireun tidak menyadari potensinya, lalu membiarkan potensi dan nilai statregis dayah dalam  melakukan restorasi Bireun menjadi lebih baik dibiarkan begitu saja sehingga selanjutnya dieksploitasi  berbagai pihak lainnya untuk kepentingan jangka pendek mereka.


Bila benar seperti dugaan saya di atas, bahwa warga Bireun sangat  mandiri dalam berpikir dan bertindak, maka  akankah pada H-1 menjelang Pilkada Bireun, masayarakat Bireun  akan benar-benar mandiri untuk memilih pemimpin mereka dengan semata berhakim pada nurani masing-masing. Atau justru,  orang-orang Bireun tidak mampu berdaya menentukan sendiri masa depan  karena pengaruh pihak lain .

Kalaulah nanti H-1 Pilkada Bireun saya melewati Wilayah Bireun,  saya akan berhenti sejenak di Keude Bireun dan  menanyakan hal ini kepada mereka. Saya ingin tahu, terkait siapa Cabup Bireun yang akan mereka pilih. Saya juga ingin tahu jawaban orang Bireun, apakah tegas dan lugas, atau justru akan menjawab wala’k-wala’k  seperti jawaban orang kleeng tempoe doloe.

Akibat melamun dan terus berpikir saat melewati Bireun, ketika tiba di Banda Aceh saya baru sadar, saya lupa beli nagasari. Memang isteri saya beli Adee Kak Nah Meureudu, tapi bagi saya Nagasari Bireun belum bisa digantikan yang lain. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...