Idul Fitri Menyatukan Mimpi Aceh

By 21.57.00



ADA yang bilang, situasi dan kondisi masyarakat Aceh hari ini ibarat kata pepatah “satu selimut beda mimpi”. Masyarakat Aceh terlihat seakan berada dalam satu “selimut” kesatuan teritorial, agama dan sosial budaya. Tetapi yang menyedihkan rakyat Aceh termasuk elitenya tidak memiliki mimpi yang sama, terkait formulasi masa depan Aceh. Masing-masing punya mimpi sendiri, dengan desain agenda dan kepentingan jangka pendek yang berbeda.

Apakah asumsi di atas benar? Semoga saja tidak. Sebagai masyarakat Aceh kita tetap berharap masih memilki mimpi yang sama, mimpi besar dan indah, untuk sebuah masa depan Aceh yang lebih baik. Suatu masa, secara pelan dan bertahap kita berharap rakyat Aceh akan berada dalam satu “selimut” serta memiliki mimpi yang sama serta berikhtiar mewujudkannya secara bersama-sama pula.

Di antara mimpi besar rakyat Aceh yang belum terwujud sepenuhnya adalah tegaknya syariat Islam secara kaffah dalam berbagai dimensi kehidupan. Juga terwujudnya tatanan “Aceh baru” yang jauh dari pertikaian dan kedengkian. Terbinannya sebuah pranata sosial masyarakat yang adil makmur dan sejahtera di bawah ridha Allah Swt. Harapan akan Aceh baru tersebut bukanlah sekedar ilusi, tetapi untuk sebuah harapan itu telah banyak harta, tenaga, bahkan nyawa dan air mata dikorbankan.

Mimpi besar rakyat Aceh tersebut bukanlah sesuatu yang a-historis. Mimpi tersebut sangat mungkin diwujudnyatakan bila segenap lapisan rakyat Aceh memiliki keinginan dan tekad yang sama. Kita berharap momentum puasa Ramadhan dan Idul Fitri 1437 Hijriyah ini menjadi dinamisator yang akan mendorong orang-orang Aceh menyatukan mimpi, terkait hadirnya sebuah tatanan Aceh baru yang dicita-citakan.

Diawali mimpi

Bagi Aceh yang ingin berubah ke arah yang lebih baik, bermimpi itu perlu. Perubahan besar yang terjadi pada umat-umat terdahulu juga diawali dari sebuah mimpi. Mimpi baik akan menginspirasi terwujudnya tatanan kehidupan yang lebih baik. Begitu juga mimpi buruk tentu akan mendorong sebuah komunitas secara tidak sadar memfasilitasi hadirnya tatanan khidupan yang tidak berkeadaban.

Suasana kehidupan yang makmur dan panceklik selama tujuh tahun bergantian pada zaman Nabi Yusuf as juga diawali dari mimpi Sang Nabi Bani Israel ini. Kejatuhan dan keruntuhan rezim otoriter Fir’aun yang disebabkan kedatangan Nabi Musa as juga dimulai dari mimpi buruk Fir’aun pada suatu malam di istananya yang megah di tepi Sungai Nil, Mesir itu.

Kedigdayaan Amerika Serikat hari ini juga bermula dari sebuah mimpi. American Dream (mimpi Amerika/ impian Amerika) atau juga sering disebut dengan Chasing the American Dream merupakan sebuah etos untuk mewujudkan sebuah kemajuan, kesuksesan dan kemakmuran. American Dream pertama kali dinyatakan oleh James Toslow Adams pada 1931, bahwa setiap warga negara AS merasa bahwa mereka dapat memperoleh kehidupan yang lebih baik dan lebih bahagia.

Karena itu, untuk sebuah masa depan yang lebih baik, orang Aceh juga harus bermimpi. Agar ada kesamaan mimpi atau cita-cita terhadapan masa depan Aceh tersebut diperlukan adanya kesatuan hati di antara kita. Dan kesatuan hati di antara kita sulit terwujud bila masing-masing kita tidak membersihkan hati dari berbagai penyakit yang hinggap, termasuk nafsu amarah.

Karena itu, Ramadhan sebagai syahrush shabar dan sekaligus “madrasah ruhaniah” dalam melatih pengendalian diri dengan berpuasa, kita harapkan mampu membentuk mental spiritual kita pasca Ramadhan menjadi manusia yang memiliki kematangan dan kedewasaan spritual dan emosional, sehingga dalam setiap dinamika sosial politik, rakyat Aceh mampu mengendalikan diri dan memiliki orientasi semata-mata untuk kepentingan Aceh yang lebih luas.

Puncak dari ritual Ramadhan yang kita jalankan selama sebulan adalah Idul Fitri. Di samping secara terminolog Idul Fitri bermakna kembali kepada fitrah, sesungguhnya Idul Fitri juga merupakan momen selebrasi atas kemenangan yang diraih kaum muslimin yang menunaikan ibadah puasa. Ibarat kehidupan, Idul Fitri adalah momentum kelahiran. Bagaikan kelahiran bayi, Idul Fitri adalah asa baru kehidupan masa depan yang cemerlang. Ramadhan adalah bulan pembakar dosa dan pembersih jiwa. Karena itu saat Idul Fitri, seorang muslim kembali terlahir sebagai manusia baru.

Karena itu kita berharap Idul Fitri tahun ini menjadi momentum spesial bagi rakyat Aceh untuk melakukan refleksi dan menginstal ulang sebuah mimpi bersama akan masa depan Aceh yang lebih baik. Idul Fitri tahun ini juga kita harapkan menjadi stimulus bagi segenap elemen rakyat Aceh untuk memutuskan mata rantai kebencian, tradisi dendam dan pewarisan dendam, serta kebiasaan sulit berjamaah dan suka berkerumun.

Tanpa kita sadari, selama ini kita belum “berjamaah”, kita masih senang berkerumun. Karena berjamaah adalah berada dalam satu saf lurus, rapat, serta mengikuti seorang imam dengan dengan segala gerak gerik yang serentak dan seragam untuk sebuah tujuan yang sama. Sedangkan kerumunan adalah kumpulan manusia-mansia tanpa visi dan minus orientasi masa depan. Terlihat mereka bersatu, tapi hakikatnya tidak lebih dari kumpulan buih yang mudah dipecahkan. Dalam kerumunan ada pemimpin, tetapi tidak ada kesatuan hati antara pemimpin dengan yang dipimpin. Itulah kondisi kita hari ini.

Kesatuan hati

Yang dibutuhkan rakyat Aceh hari ini untuk mengubah masa depannya yang lebih baik adalah kesatuan hati, kesamaan niat dan cita-cita terkait sebuah Aceh Baru yang lebih baik. Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini kita harapkan dapat menjadi media penyatuan hati, niat dan cita-cita kita bersama. Saat kita merayakan Idul Fiyri adalah momentum bagi kita untuk mendeklarasikan bahwa setelah melewati proses sterilisasi Ramadhan, maka nafsu dominan yang menyertai kita dalam merajut masa depan Aceh adalah nafsu mutmainnah, bukan nafsu amarah. Yang mendominasi hari-hari kita selanjutnya adalah semangat silaturrahmi dan kasih sayang di antara sesama, bukan etos kebencian dan permusuhan yang tidak berkesudahan.

Nafsu Mutmainnah adalah nafsu yang disinari cahaya sehingga dapat membersihkan hati dari sikap tercela dan dihiasi dengan sikap terpuji. Nafsu ini dapat menciptakan ketenangan jiwa seseorang di bawah ridha ilahi. Sedangkan nafsu amarah adalah musuh batin manusia yang selalu memerintahkan kepada keburukan dan jauh lebih berbahaya dibandingkan mush musuh lainnya. Sudah saatnya masa depan Aceh kita bangun dengan jiwa muthmainnah, bukan dengan semangat nafsu amarah.

Dengan semangat Idul Fitri ini kita berharap dapat melangkah lebih baik ke masa depan. Dengan hati kita yang telah bersih selama Ramadhan serta dimodali nafsu muthmainnah, kita yakin Aceh berpotensi berubah ke arah yang lebih baik. Hati kita akan menyatu dalam kebaikan dan kebenaran untuk Aceh baru. Insya Allah, Pilkada 2017 sebagai satu piranti demokrasi dan media redesain mimpi Aceh baru akan berjalan sesuai harapan, demokratis, aman dan damai.

Selamat Hari Raya Idul Fitri, mari tetap damai sampai Idul Fitri tahun depan. Taqabbalallahu minna wa minkum. Mohon maaf lahir batin. Mari kita terus merajut damai.

Selamat datang Aceh baru![].

- Pernah dimuat Seram Indonesia, 5/7/2016

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...