Biarlah Muazzin Lain Kumandangkan Azan

By 08.28.00


Bila bin Rabbah — muazzin lagendaris Rasulullah SAW — memiliki kenangan manis yang tidak terlupakan dengan Nabi Muhammad SAW. Dalam hidupnya dia merasakan betapa Rasulullah SAW menyayanginnya, dan begitu juga sebaliknya betapa dia pun begitu mencintai Rasulullah Saw. Bagi Bilal cintanya kepada Sang Nabi adalah cinta tanpa tepi. Rasulullah lah melalui tangan Abu Bakar radhiallahu ánhu menyelamatkan nyawa Bilal yang ketika itu nyaris mati disiksa kafir Quraisy dikarenakan kemarahan mereka atas keislaman Bilal.

Selanjutnya, sejak hari-hari awal di Madinah, Rasulullah SAW menugaskan Bilal sebagai muazzin tetapnya di Mesjid Nabawi yang salah satu tugasnya mengumandangkan azan sehari semalam lima kali. Sepanjang hidup Rasulullah SAW, Bilal terus menjadi muazzin Nabi SAW dan dengan setia terus mengumandangkan Azan yang menggema ke seluruh penjuru Kota Madinah.

Bilal berhenti menjadi muazzin setelah beberapa waktu Rasulullah SAW wafat. Dia tidak lagi bersedia mengumandangkan azan karena setiap kali awal waktu shalat dia selalu merindukan Nabi dan seketika menjadi sedih dan duka ketika melihat di tempat biasa Rasulullah SAW berdiri tidak ada lagi sosok orang yang dicintainya itu berdiri seperti biasa.

Akhirnya Bilal pun memutuskan hijrah, meninggalkan Madinah, bergabung dengan pasukan Fath Islamy untuk hijrah ke negeri Syam. Bilal tinggal di Kota Homs, Suriah. Bilal sengaja meninggalkan Madinah karena khawatir bila masih di Kota Nabi itu dia tak bisa melupakan kenangan manis bersama manusia paling mulia di bumi ini, Rasulullah SAW. Hal itu akan merobek-robek hatinya.
BACA JUGA:  Berharap Bintang Bulan Bukan Sekedar Jampi

Setelah beberapa lama di Suriah, pada suatu malam ia bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpinya, Rasul bersabda dengan suara lembutnya, “Hai Bilal, mengapa engkau tak mengunjungiku? Mengapa sampai seperti ini?“

Bilal terkejut. Bilal terbangun dari tidurnya dan menagis tersedu-sedu. Tanpa pikir panjang, ia mempersiapkan perjalanan kembali ke Madinah. Ia berniat ziarah ke makam Rasulullah setelah sekian tahun lamanya meninggalkan Madinah. Di makam Rasulullah, tangis rindunya pecah. Kecintaan dan kerinduannya pada Rasul membuncah.

Ketika sedang menagis di pusara Nabi, dari jauh ada dua pemuda yang mengamatinya. Mereka cucu Rasulullah, Sayyidina Hasan dan Husein. Keduanya mendekati Bilal dan berkata: “Duhai paman, maukah engkau mengumandangkan adzan lagi. Sekali saja, untuk kami. Kami ingin mengenang kakek kami.”

Sayyidina Umar bin Khattab, yang melihat mereka, mendekat. Ia juga meminta Bilal mengumandangkan adzan lagi. Meski hanya sekali. Bilal pun bersedia. Saat mengumandangkan lafadz “Allahu Akbar”, dalam sekejap, seluruh Madinah senyap. Segala aktivitas dan perdagangan terhenti. Semua orang sontak terkaget, lantunan adzan yang dirindukan bertahun-tahun kembali terdengar syahdunya.

Saat Bilal melafadzkan “Asyhadu an laa ilaha illallah“, penduduk Kota Madinah berhambur dari tempat mereka tinggal, berlarian menuju Masjid Nabawi. Bahkan dikisahkan para gadis dalam pingitan pun ikut berlarian keluar rumah mendekati asal suara adzan yang dirindukan tersebut.
BACA JUGA:  [Wawancara Khusus] "Ini Pembajakan Terhadap Demokrasi."

Puncaknya, saat Bilal mengumandangkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah“, seisi Kota Madinah pecah dengan ledak tangis dan ratapan pilu, teringat Rasulullah di masa lalu. Tangisan Khalifah Umar bin Khattab terdengar paling keras.

Bahkan Bilal yang mengumandangkan adzan tersedu-sedu dalam tangis, hatinya teriiris, lidahnya tercekat, air matanya tak henti mengalir. Bilal pun tidak sanggup meneruskan adzannya, ia tak henti terisak, tak mampu lagi mengumandangkan melanjutkan panggilan mulia tersebut.

Hari itu, Madinah mengenang kembali masa saat Rasulullah masih ada. Hari itu, Bilal melantukan adzan pertama dan terakhirnya sejak kepergian Rasulullah. Adzan yang tak bisa dirampungkannya. Kisah ini tercatat dalam salah satu sejarah tinta emas Islam.

Saya , mungkin juga saudara terharu dengan kisah Bilal di atas. Tentu, masing-masing kita punya kesimpulan berbeda terhadap kisan indah di atas. Bisa jadi, di samping rasa sedih yang membuncah karena kerinduan kepada Nabi saat mengumandangkan azan, Bilal berhenti jadi muazzin boleh jadi juga karena sebuah keyakinan sudah cukup waktu baginya menjadi muzzin, biarlah muazzin lain saja yang mengumandangkan azan. [].

- Pernah dipublikasikan Acehtrend 9/8/2016

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...