“Pesan” di Balik Nama Pasangan Calon

By 22.07.00



Memang ada yang bilang apalah arti sebuah nama.

 Bahkan William Shakespeare  --- seorang sastrawan Inggris --- pernah mengungkapkan: "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet”. Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi juga!.

Tapi, bagi sementara pihak, umat Islam misalnya, nama adalah sebuah doa. Pada sebuah nama yang ditabalkan sebuah keluarga pada seorang anak mereka yang baru lahir di situ  terangkum  sejumlah narasi besar  terkait harapan keluarga  tersebut  akan masa depan anak mereka itu.

 Dengan kata lain, sebuah nama dalam tradisi sehari –hari kita dapat dikatakanj  semacam sebuah visi yang mencoba memproyeksi sebuah masa depan.

 Hal tersebut sepertinya juga berlaku dalam dunia politik, misalanya dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di berbagai tempat. Oleh pengusung kandidat kepala daerah hal pertama dilakukan setelah ada pasangan calon adalah mencari dan memberikan nama pasangan calon.

 Seperti yang kita lihat akhir-akhir ini bermacam nama ditabalkan kepada pasangan calon peserta Pilkada. Kerena calon pemilih kita diduga fanatic beragama, maka kebanyakan nama pasangan calon berbau agama. Intinya, dari nama pasangan calon tersebut diupayakan hadirnya sebuah narasi psykologis bahwa sesuai dengan nama pasangan calon tersebut, bila terpilih nanti pasangan ini akan memenuhi ekspektasi keinginan rakyat.

 Karena sebuah nama itu adalah doa sekaligus harapan si pemberi nama, maka pada setiap nama pasangan calon sepertinya akan terpantul guratan emosional dan pesan verbal terkait dengan pasangan calon tersebut.

 Misalnya, ada yang bilang,  bila dalam pemberian nama pasangan calon jumlah huruf nama salah satu pasangan calon yang lebih dominan (banyak) maka itu secara psykologi politik adalah pesan verbal bahwa yang bersangkutan dalam proses pemilihan dan bila nanti terpilih adalah pihak yang akan (seharusnya) lebih dominan.

 Dari beberapa nama pasangan calon yang muncul, rata-rata jumlah huruf nama pasangan calon lebih dominan kepala daerah dari pada wakil kepala daerah.

 Maka, penamaan pasangan calon ini dapat saja bermakna paling tidak dua hal. Pertama, dari awal oleh pengusung telah diyakini bahwa factor popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas calon yang diusung terbut berada pada sosok calon kepala daerah, bukan pada wakilnya. Kedua, konsekwensinya bila nanti terpilih dan dilantik maka jangan marah bila Sang Kepala Daerah tidak mau berbagi dengan wakil kepala daerah karena merasa lebih dominan.

 Memang, seperti pada Pilkada lalu di Aceh ada pasangan calon yang nama pasangannya lebih dominan wakil kepala daerah. Ini karena, ketika itu sangat diyakini  factor popularitas, akseptabilitas dan elektabilitas calon yang diusung berada pada sosok calon wakil kepala daerah. Persolan kemudian setelah terpilih lain di darat dan lain di laut itu persoalan lain.

Lantas, terkiat Pilkada, apakah dibalik nama pasangan calon itu berlaku adagium William Shakespeare , "What's in a name?”.  Atau memang ada pesan yang harus dibaca dengan teliti di balik penamaan sebuah pasangan calon kepala daerah.

 Untuk lebih jelas bagaimana sebenarnya hal ini  saya mohon pencerahan guru politik saya Risman A. Rahman. [].


- Pernah dimuat Acehtrend tanggal 3/8/2016



Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...