Reportase dari Gampong Bayi; MEREKA YANG MENGINSPIRASI KU TELAH LAMA PERGI

By 01.27.00


Hari ini aku kembali berkunjung ke kampung halaman ku. Sebuah tempat dimana aku lahir , dibesarkan dua orang tuaku dgn susah payah dan berkembang di masa masa awal kehidupan ku.
Sekalipun banyak hal telah berubah, kampung halaman ku masih menghadirkan suasana pagi hari yang dulu di waktu kecilku begitu menghibur. Suasana itu adalah udara segar dan kicauan burung di waktu pagi yg begitu riuh. Di kampungku pagi ini rasanya aku seperti masuk relung waktu tahun 70-an. Sangat alami dan menyenangkan.


Kampungku itu dalam administrasi Pemerintahan Kabupaten Aceh utara di kenal dengan Gampong/Desa Bayi, kecamatan Tanah Luas. Sebuah perkampungan di pinggir hutan yang jauh dari keramaian kota dan ketika kecilku itu tidak ada aliran.listrik. Kala itu
siang adalah terang benderang dan malam adalah kegelapan.

Dua orang tua ku, Allahyarham Tgk. ABDUL Djalil El Madny dan Siti Hindun Yusuf adalah dua sosok idolaku layaknya seperti lilin: Dia relakan pengorbanan dirinya utk sebuah masa depan anak anaknya yg lebih baik.

Dua orang tua ku adalah petani miskin. Namun kaya semangat dan etos kehidupan. Beliaulah setiap waktu senggang selalu semangati aku. Kata beliau, "Kalau kamu pingin maju kamu hrs keluar sarang. Kamu harus cari tantangan di luar kampung ssendiri".

Di kampung kami ketika itu tidak ada telivisi dan koran. Yg membuat ku terharu setiap sebulan sekali setelah menjual hasil panen, Abi ___ begitu aku panggil orang tua laki laki ku ___ selalu pergi ke pasaar Kota Lhokseumawe dengan mendayung sepeda.



Saat pulang dari pasar, disamping bawa pulang Mie Bangladesh kesukaan kami, beliau juga bawakan sejumlah buku, koran dan majalah bekas. Aku masih ingat. Koran bekas yg dibawanya adalah Koran Waspada dan Majalah bekas yg dibawanya adalah Majalah Kiblat, sebuah majalah Islam yg kala itu di kelola Muh. NAtsir, mantan Perdana Menteri Indonesia dan Ketua Partai Masyumi.
Dari koran bekas dan majalah bekas itulah aku tahu banyak dunia luar dari komunitas ku yg terkunhkung di pedalaman Aceh. Maka ketika kemudian hari aku ke Banda Aceh dan aku berinteraksi dengan berbagai pihak, aku tdk terlalu awam dengan perkembangan yg ada. Abi ku adalah aktifis Masyumi dan di era orde baru beliau pendukung utama sebuah parpol islam. Inilah yang dikemudian hari juga mendorongku aktif di berbagai OKP dan ORMAS.

Intinya, dua orang tuaku adalah inspirasiku. Aku tidak bisa bayangkan kondisiku bila aku dua puluh tahun yang lalu tidak meninggalkan kampung dan berangkat mencari suasana baru di luar kampungku yg di tepi gunung itu.

Kini kedua orang tua ku telah tiada. Abi berpulang tahun 1992. Dan ummi meninggal tahun 2001 disela sela tam tum bunyi tembakan saat Aceh berkonflik.

Pagi ini aku berziarah ke pusaranya. Aku menyadari, semasa keduanya hidup rasanya tidak ada helaan nafasnya yang tidak diiringi doa dan harapan kebaikan kepadaku. Aku yakin banget, segala kelebihan dan kekurangan hidupku hari ini, termasuk segala keberkahan dan kemudahan, sungguh tidak terlepas dari ridha dan do'a keduanya.

Namun, kadang aku menangis keras, kenapa aku kadang ada hari yang aku lupa doakannya. Padahal, aku tahu betapa beliau sayang aku. Pernah suatu waktu, makanan yg sudah masuk mulutnya dikeluarkan lagi karena ummi tahu aku anak kecilnya suka makanan itu.

Pagi ini aku bahagia banget setelah ziarah di pusaranya. Aku berdoa dan menangis haru dekat kepalanya. Ketika kepala ku menyentuh nisannya, aku membayangkan aku tiduran dipangkuannya saat aku kecil bahkan ketika aku berkeluarga.

Ya Allah sayangilah kedua orang tuaku sebagaimana dia menyayangi ku di waktu kecil.
Alllahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani saghira. Amin. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...