Jantho yang Belum Berubah

By 00.53.00



Pagi ini untuk keperluan dinas saya berkunjung ke Kota Jantho, setelah lebih kurang 13 tahun meninggalkan kota tersebut.

13 tahun yang lalu saya pernah berdedikasi di tempat ini sebagai PNS Direktorat Jenderal Sospol Depdagri yang diperbantukan pada Kantor Sospol Aceh Besar. Di kota ini lah dengan segala suka dukanya saya awali karir PNS saya. Banyak kesan dan kenangan selama 3 tahun bertugas di tempat ini.

Mesjid Agung Kota Jantho dan Rumah Makan Kak Ni adalah dua tempat yang sulit saya lupakan.

Di mesjid ini dulu saya sering shalat berjamaah, Shalat Dhuha bahkan juga sesekali diminta oleh ta'mir menjadi Khatib Jumat. Di mesjid inilah --- seiring dengan berbagai kendala, tantangan dan hambatan sebagai pegawai baru di Jantho --- saya mendapatkan spirit dan kekuatan untuk "bertahan" hidup.

Kemudian, Rumah Makan Kak Ni adalah tempat makan siang vaforit kami. Di sini tersedia kuliner khas Aceh yang betul-betul "kampungan" dan sesuai dengan selera lidah saya.

Dulu nyaris setiap siang saya makan di tempat ini. Baik di awal bulan, tengah bulan maupun di akhir bulan. Di akhir bulan kami tetap selera makan di sini, karena Kak Ni begitu pengertian dengan cadangan devisa kami yang sudah begitu menipis.

Menindaklanjuti pesan Presiden Soekarno, JASMERAH; Jangan Sekali kali Melupakan Sejarah, maka tadi ketika berkunjung ke Jantho saya tetap singgah di kedua tempat ini.

Sekalipun melewati interval waktu 13 tahun dalam amatan saya Jantho belum bnayak berubah. Ya, memang ada beberapa kantor baru atau bangunan baru yang bertambah, tetapi di luar itu masih seperti yang dulu.

Kota Jantho masih terlihat sepi, Bupati sebagai penguasa tunggal di Kota Jantho boleh datang dan pergi silih berganti, tetapi Kota Jantho masih meringkik sepi. Belum ada sampai hari ini sebuah ijtihad yang benar-benar mumpuni untuk mengobati rasa sepi kota yang didirikan Bupati Bakhtiar panglima Polem ini.

Dulu ketika saya bertugas, pernah ada dua Bupati yang mengeluarkan kebijakan untuk membuat Jantho sedeikit ramai. Kebijakan itu adalah semua pejabat Pemda Aceh Besar harus tinggal di Jantho. Regulasi itu hanya bertahan sebentar, selanjutnya secara kolektif kolegial mengangkangi kebijakan tersebut. Dan Jantho pun tetap dalam sepi.

Saya kira kota yang sepi juga ada positifnya. Bupati Aceh Besar dan jajarannya yang berkantor di Kota Jantho pasti dapat bekerja penuh konsentrasi dalam sepi bersamaan dengan semilir angin yang bertiup dari celah celah bukit dan rerimbunan pohon di kota yang terletak di kaki Gunung Seulawah ini.

Karena sepi itu menginspirasi, maka mungkin juga inilah alasan ISBI membuat kampusnya di kota ini.

Hal lain yang tidak berubah di Kota Jantho ini adalah jadwal kedatangan PNS ke kantor. Karena kebanyakan PNS tinggal di Banda Aceh ---- seperti saat dulu saya bekerja --- rata-rata PNS baru masuk kantor di atas jam 09.00 WIB.

Makanya tadi, saya begitu pengertian dan sedikitpun tidak jengkel, ketika di sebuah kantor di Kota Jantho saya harus menunggu sampai jam 10.00 WIB untuk sebuah urusan dengan pejabat sebuah kantor. Dulu, saya juga masuk ke kantor di Jantho sekitar jam tersebut.

Akan kah Kota Jantho akan terus seperti ini sepanjang masa?.
Hanya waktu yang akan menjawabnya.[]

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...