Hulagu Khan, Ahok dan Kita

By 06.45.00

Add caption
Waktu itu siang hari, 10 Pebruari 1258 M.  Kekhalifahan Abbasiah  yang telah berkuasa selama tiga abad berada di titik nadir kehancuran. Hulagu Khan Raja Mongolia dengan ribuan pasukan bar-barnya menyerang, membunuh  dan membakar Kota Baghdad, ibukota Kekhalifahan Abbasiah. Dalam catatan sejarah umat yang dibantai Hulagu mencapai satu juta orang. Manyat bergelimpangan di berbagai sudut kota dan bau amis darah terasa di mana-mana.

Khalifah Al-Mu’tasim  Billah sebagai khalifah terakhir dinasti ini kalang kabut dan tidak berdaya mempertahankan kekuasaan yang diwarisinya secara turun temurun itu. Bukan hanya tidak mampu memperhankan kekuasaananya, Al-Mu’tasim  sendiri akhirnya disembelih dengan sadis di hadapan pengikutnya di dalam istanya yang indah.

Ternyata Hulagu dan tenteranya tidak cukup puas hanya dengan membakar kota, membunuh warga dan memperkosa perempuan Baghdad, mereka rupanya  juga punya agenda memusnahkan peradaban Islam yang sedang jaya di Baghdad.  

Diceritakan Sungai Trigis yang terletak di Kota Bagdad itu airnya berubah jadi hitam karena tinta yang meleleh dari puluhan juta buku  dari berbagai perpustakaan di Baghdad --- termasuk  Bait al-Hikmah, sebuah perpustakaan terbesar dan terlengkap ketika itu ---  yang dibuang memenuhi sungai bersejarah itu. Buku-buku tersebut sengaja dibuang oleh bangsa pengembara  itu di samping untuk memusnahkan peradaban literasi kaum muslimin juga sebagai ganti jembatan penyeberangan kuda-kuda mereka melewati  sungai deras itu.

Moralitas umat Islam saat itu benar-benar hancur lebur. Rasa percaya diri mereka sebagai khaira ummah (umat terbaik) telah terinjak-injak kaki kuda bangsa pendatang yang ingin berkuasa di Baghdad.  Dengan moralitas yang demikian kaum muslimin di Baghdad ketika itu persis seperti mayat berjalan: masih bergerak tapi tak punya semangat.

Ketika berkuasa tanpa batas di Baghdad, dengan  berbagai cara dan modus Hulagu Khan melakukan penistaan dan penghinaan terhadap Islam dan Ummat Islam. Di sekeliling mesjid-mesjid besar di Kota Baghdad dijadikan tempat tambatan kuda Mongolia. Kotoran dan makanan  kuda bertebaran di sekeliling masjid. Mereka  bahkan berani menginjak-nginjak  Al-Quran. Mereka juga merobek-robek Al- Quran dan kemudian membuangnya ke tempat tambatan kuda perang mereka di sekeliling masjid.

Berbagai tradisi yang sebelumnya sangat tabu dan dilarang di tengah-tengah umat Islam diberlakukan secara paksa, masif dan terstruktur oleh Hulagu. Salah satu  hal yang sangat menyakitkan umat Islam ketika itu adalah regulasi Hulagu Khan yang melarang umat Islam memakan daging yang disembelih dengan cara islami.  Siapa saja yang mau makan daging kambing, lembu atau hewan lainnya dipaksa menyembelih ala Mongolia.  Dalam tradisi Mongolia, hewan yang akan dimakan  tidak disembelih/ dipotong leher, tetapi hanya  ditusuk lehernya dengan besi panas, setelah mati baru diambil dagingnya untuk dimasak. Siapa saja yang berani menyembelih hewan dengan cara Islam maka Hulagu Khan  akan menjatuhkan hukuman pancung.

Ketika itu umat Islam dan ulama  tidak berdaya berhadapan dengan kekuasaan Hulagu Khan yang diceritakan suka berkata-kata kasar dan sangat mudah marah. Bahkan ulama-ulama ketika itu terbelah dalam dua kelompok dalam menyikapi sikap agresif dan arogan  Hulagu Khan. Ada  ulama yang serta merta mendukung, ada juga yang tidak sependapat. Banyak ulama yang tidak sependapat dan melawan Hulagu Khan akhirnya syahid di ujung pedang algojo Hulagu Khan. Sebaliknya ulama-ulama yang mendukung dan memberikan legalitas atas segenap kebijakan Hulagu Khan mendapatkan fasilitas duniawi yang tidak terkira.

Pada masa Hulagu Khan menjajah Baghdad inilah  seorang “ulama”  yang bernama Ibnu Thawus mengeluarkan fatwa “bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zalim”. Akibat dari fatwa “ulama” tersebut sebagian  besar umat Islam Baghdad ketika itu tersesatkan dengan memberikan dukungan kepada kepemimpinan Hulagu Khan.

Kisah terkait Hulagu Khan ini  dan sikap beberapa ulama Baghdad yang menjilat kepada kekuasaan dan bangsa asing  untuk kepentingan duniawi serta kondisi moralitas umat yang menderita penyakit mental  inferiority complex (rasa rendah diri yang berlebihan) di bawah kendali psykologi dan opini pemimpin kafir itu dikisahkan dengan apik oleh Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi dalam kitabnya yang berjudul Al Mughul Baina Al Intisyar wa al Inkisyar (Bangkit dan Runtuhnya Bangsa Mongol).

Fenomena Ahok
 
Membaca dengan seksama buku tersebut saya menjadi tertarik mengikuti pemberitaan media terkait dengan polemik Ahok di Jakarta. “Ahok efek” tersebut ternyata tidak hanya menyengat Jakarta saja. Sejumlah pihak di luar Jakarta pun ikut-ikutan panas akibat berbagai manuver liar  yang dilakukan laki-laki Cina kelahiran Belitung ini. Anak saya yang suka nonton film kungfu Cina bahkan bilang bahwa Ahok seperti dewa mabuk yang sulit dikendalikan dalam berbagai cerita kungfu Cina itu.

Tanpa bermaksud menyamakan Ahok dengan Hulagu Khan, saya melihat dari sejumlah pemberitaan media ternyata  kehadiran Ahok di Jakarta --- baik saat  sebagai gubernur maupun sebagai calon gubernur --- telah membuat geram umat Islam yang hanif, tidak hanya  di Jakarta tetapi juga di berbagai daerah lainnya di Indonesia.  Terakhir di Kepulauan Seribu Ahok bahkan patut diduga melakukan penistaan terhadap Al-Quran dengan mengatakan jangan mau dibohongi oleh Surat Al-Maidah Ayat 51. Sesungguhnya Ahok tidak pantas berkata seperti itu, karena, sebagai pemimpin yang kafir dia dengan sengaja telah menyinggung perasaan umat Islam, dan kedua, pernyataan tersebut adalah wujud rasa kebencian terhadap Islam dan kitab suci umat Islam. Sebagai pemimpin seharusnya dia pandai merawat kata. Karena mulut pemimpin bukanlah leubeung  alias comberan.

Formulasi dari “Ahok efek”  nyaris sama dengan kondisi sosial politik Baghdad ketika dijajah Hulagu Khan. Antara lain, pertama, umat Islam Jakarta  --- juga Indonesia ---  seperti tidak berdaya  menghadang agresifitas Ahok sebagai Gubernur Jakarta. Dengan berpayung pada regulasi yang diyakininya benar, Ahok terus maju tak gentar melakukan penggusuran. Dengan gagah perkasa dia pun melakukan reklamasi sejumlah bibir pantai di Jakarta.

Sepintas alasannya normatif: dalam rangka penataan Jakarta.  Tapi tahukan Anda kebanyakan korban dari penggusuran dan reklamasi adalah umat Islam. Bila reklamasi jadi tuntas dilaksanakan, maka selanjutnya nelayan yang ada di Jakarta   --- yang juga muslim --- konon dikabarkan tidak lagi memiliki akses ke laut. Dan di atas reklamasi itu akan dibangun berbagai fasilitas yang sebagian besar akan dimiliki oleh non pribumi.

Kedua, reaksi  ulama dan umat Islam Jakarta terhadap Ahok nyaris sama dengan rekasi ulama dan umat Islam Baghdad terhadap Hulagu Khan. Di Jakarta ternyata juga ada pengikut Ibnu Thawus  yang pada masa Hulagu Khan  pernah berfatwa “bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zalim”. Fatwa yang membolehkan umat Islam memilih pemimpin kafir ini beberapa waktu yang lalu sempat menjadi polemik di Jakarta. Bahkan ada “ABG” yang berani bicara lantang berkoar-koar sambil memelotot ulama dalam rangka membela Ahok.

Kesamaan kondisi  sosial politik  umat Islam Jakarta  dengan kondisi  umat Islam Baghdad ketika dijajah Hulagu Khan lainnya adalah umat Islam Jakarta benar-benar tertekan secara psykologis. Hari ini menolak gaya kepemimpinan kasar serta penistaan  Ahok terhadap Al-Quran langsung dituding  oleh berbagai kekuatan non Islam sebagai tindakan SARA, tidak Pancasilais serta mengancam keutuhan NKRI.

Membaca sejumlah media mainstream  --- baik cetak, elektronik dan omline --- seakan yang benar di Indonesia saat ini hanya Ahok dan pengikutnya, yang lain globok  semua dan tidak Pancasilais  --- sekalipun Ahok jelas-jelas melakukan penistaan terhadap Al-Quran yang merupakan kitab suci umat Islam. Ternyata Ahok dan pengikutnya begitu kuat menguasai dan mendominasi media mainstream untuk kepentingan membangun  struktur opini publik yang subjektif  sesuai keinginan mereka. Seperti Baghdad ketika digenggam Hulagu Khan, Jakarata pun seperti tertunduk lemas di bawah sorot tajam mata dan mulut kasar si Ahok.

Pelajaran Berharga
 
Arogansi  Ahok di Jakarta seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi  umat Islam dan juga pemimpin serta  politisi muslim. Dalam kitabnya tersebut di atas, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi menceritakan  ada dua kondisi sosial  terkait relasi kekuasaan-rakyat selama kepemimpinan Khalifah Abbasiah di Baghdad yang kemudian berkorelasi dengan sikap menerima pemimpin kafir oleh sementara penduduk Baghdad.

Pertama, ternyata Ibnu Thawus  dan umat Islam Baghdad yang mendukung Hulagu Khan adalah rakyat yang selama ini terzalimi oleh penguasa muslim sendiri.  Rakyat yang terabaikan oleh pemimpin Islam. Dalam banyak kesempatan pemimpin Islam ketika itu sering absen di tengah-tengah mereka. Dari penderitaan mereka ratusan tahun inilah kemudian muncul inspirasi sesat bahwa pemimpin kafir yang adil lebih baik dari pemimpin muslim yang zalim.

Kedua, para khalifah dan pejabatnya ketika itu  sibuk  menikmati kekuasaan, mereka hanya memiliki  sedikit waktu untuk mengurus kepentingan rakyat. Para politisi sebagai perwakilan umat ketika itu juga  jarang bersikap  amanah dan sungguh-sungguh memperjuangkan aspirasi rakyat.

Dua kondisi inilah  --- menurut Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shallabi --- kemudian berubah menjadi akumulasi kekecewaan sebagian  umat Islam Baghadad terhadap kepemimpinan Khalifah Al-Mu’tashim Billah. Mereka memang tidak berani menampakkkan kekecewaan tapi segenap kekecewaan yang ada terhadap  Sang Khalifah disimpan rapi dalam hati mereka. Kemudian kebencian terhadap pemimpin seiman meledak ketika Hulagu Khan tiba di Baghdad.

Mengetahui situasi sosial umat Islam Baghdad sebelum kedatangannya itu, begitu berhasil menguasai Kota Baghdad,  Hulagu Khan langsung memerintahkan seorang tenteranya memanjat menara masjid dekat Istana khalifah untuk  mengumumkan kepada seluruh penduduk bahwa kehadirannya dengan pasukan di Kota Baghdad merupakan  hukuman Tuhan terhadap orang Islam dan pemimpin mereka karena selama ini telah banyak melakukan kesalahan.

Nah, tidaklah salah bila kita pun bertanya pada diri sendiri, apakah kemunculan Ahok dan pengikutnya di Jakarta  --- sebagaimana kehadiran Hulagu Khan di Baghdad --- juga merupakan hukuman Tuhan kepada kita?.

Karena sebagai  pemimpin atau politisi --- misalnya --- kita pernah diberi kesepatan memimpin Jakarta dalam waktu yang lama, tetapi kita tidak bekerja maksimal mengurus warga dan membenah Kota Jakarta. Kehadiran dan keberadaan kita yang begitu lama tersebut tidak membawa perubahan yang lebih baik di Jakarta. Warga Jakarta tidak pernah merasa kehadiran kita sebagai pemimpin yang membawa perubahan.  Kita hanya sibuk berapologi membela diri ketika ditanya kenapa tidak berbuat. Bisa jadi warga Jakarta telah begitu lama menyimpan kecewa terkait gaya kepemimpinan pemimpin muslim dan mereka memuntahkannya ketika Ahok tiba.

Bila benar kondisinya demikian, maka kita tidak boleh menyalahkan umat yang mendukung Ahok. Yang mendesak kita lakukan adalah introspeksi diri terhadap pesan verbal warga muslim pendukung Ahok di Jakarta itu. Kenapa mereka lebih suka kepada orang di luar rumah?. Dari itu, kita harus terus memperkuat konsolidasi internal umat, kepada  pemimpin dan politisi muslim kita nasihati  agar setiap amanah dan trust yang diberikan harus didayagunakan dengan karya-karya terbaik untuk merawat kepercayaan umat. Tanpa trust dari umat, sekalipun kita mayoritas, kita akan seperti mayat-mayat berjalan, atau yang oleh Rasulullah disebutkan seperti buih di tepi laut yang begitu mudah diombang ambing dan dihancurkan. Besar dan banyak, tapi letoy.Nafsu besar tenaga kurang.

Bagi saya pemimpin itu ibarat sebuah rumah makan. Agar rumah makan itu laris maka tidak cukup hanya dengan menempel papan nama: Rumah Makan Enak. Tetapi citarasa makanan yang disajikan juga  benar-benar dirasakan enak oleh lidah pengunjung. Atau kita tidak boleh dengan gagah mengklaim bahwa rumah makan kita adalah rumah makan halal, karena pemilik dan pramusajinya orang Islam, tetapi kita juga harus berkomitmen bahwa seluruh tahapan makan yang kita sajikan seluruhnya berproses halalan thayyiba.

Ikhwan fillah, kita belum terlambat, mari kita benah “rumah makan” kita,  sebelum seluruh pelanggan kita beralih  ke  “Rumah Makan Ahok”. Allahuakbar!. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...