Zaini Djalil

By 06.32.00


Saya yakin judul opini ini akan menarik perhatian banyak pihak. Mereka yang malas membaca koran pun akan terpancing untuk membacanya sekalipun beberapa aline, atau paling tidak akan bertanya kepada teman di sampingnya yang sedang baca kora, “Ada apa dengan Zaini Djalil?”.

Penyebabnya sedehana. Dalam beberapa hari ini nama Zaini Djalil, Ketua Umum Dewan Pimpinan Wilayah Partai Nasdem Aceh, menjadi pebincangan hangat di berbagai pelosok Aceh. Kita dengan mudah mendapatkan nama Zaini Djalil dalam banyak sekali pemberitaan, tidak hanya di media cetak dan elektonik, tetapi juga di media sosial dan online.

Posisi kasusnya sebenarnya peristiwa biasa, dan sama sekali bukan perkara luar biasa.

Bermula DPW Partai Nasdem Aceh mencalonkan Ir. H. Tarmizi Abdul Karim, M. Sc sebagai calon Gubernur Aceh periode 2017- 2021 dengan calon wakil gubernur Zaini Djalil, SH. Beberapa waktu kemudian, menjelang pendaftaran pasangan calon ke KIP Aceh terjadi “dinamika” politik yang relative cepat  --- tapi konon massif dan terstruktur --- sehingga DPP Nasdem dan beberapa partai politik lain yang kemudian ikut mendukung Tarmizi Abdul Karim sebagai calon gubernur Aceh “merundingkan” kembali posisi calon wakil gubernur yang semula telah didaulatkan kepada Zaini Djalil.

Dinamika politik ini semula oleh banyak pihak masih dikategorikan issue, tapi kemudiannya issue tersebut benar-benar menjadi fakta. Zaini Djalil yang semula berpasangan dengan Tarmizi Abdul Karim kemudian diganti dengan Sekretaris Umum DPD Partai Golkar Aceh, T. Macsalmina. Persoalan pun semakin menjadi terang benderang, ketika Rabu, 21/9, Zaini Djalil mengiklankan surat terbukanya di Harian Serambi Indonesia yang kemudian oleh berbagai pihak dioplaud ke berbagai media sosial. Melalui pariwara tersebut putra Bireun ini menyampaikan terimakasih kepada semua pihak yang selama ini telah membantunya serta penegasan komitmennya sebagai kader dan Ketua Umum DPW Partai Nasdem Aceh untuk mendukung dan ikut berjuang menyukseskan kebijakan politik Partai Nasdem dalam Pilkada Aceh.

Peristiwa Biasa
Apa yang saat ini “menimpa”  Zaini Djalil sebenarnya adalah hal biasa. Apalagi Zaini djalil bukanlah politisi senior sekaligus juga bukan politisi junior. Yang membuat peristiwa ini menjadi luar biasa adalah kemampun Zaini Djalil mensikapi apa yang menimpanya itu  layaknya seorang politisi tangguh dan hebat yang menurut saya  --- sekalipun Zaini  Djalil masih muda ---  kemampuan personifikasi politiknya itu melebihi prestasi politisi-politisi senior yang pernah ada di Aceh.

Sekalipun politisi muda, saya yakin perjalanan karir politik Zaini Djalil telah melampau zam,annya dan juga telah mengajarkan banyak hal kepadanya, diantaranya adalah kearifan dan pengendalian diri. Kearifan dan pengendalian diri inilah yang menyebabkan di awal-awal kemerdekan dinamika politik dan politisi menjadi indah dinimati. Saat ini deunia politik kita begitu gersang dari  kearifan dan pengendalian diri, sehingga menonton dinamika politik yang ada menyebabkan kita sebel.

Hal lain yang membuat seakan peristiwa “cerai politik”ini begitu membahana lebih karena efek media sosial. Saya melihat sejumlah netizen begitu serius dan terus “menggoreng”  Zaini Djalil  dengan berbagai varian di berbagai medsos. Seakan Zaini Djalil telah jatuh terpuruk, sedih, murung dan patah arang. Zaini Djalil telah di zalimi dan sebagainya. Padahal di alam nyata tidaklah demikian. Zaini Djalil terlihat berdiri tegak dan kokoh sebagai politisi muda yang beradab dan memiliki sikap. Ini antara lain terlihat dari ketegasan dan kelugasan yang disampaikan Zaini Djalil dalam surat terbukanya itu.

Pelajaran Berpartai

Ada yang gagal paham --- bahkan banyak, termasuk yang mengaku pengamat ---  terhadap apa yang seharusnya dipahami dibalik peristiwa yang menimpa Zaini Djalil ini. Sebenarnya peristiwa Zaini Djalil ini mengajarkan kita tentang etika dan tata cara berpartai yang benar. Tetapi karena gagal paham,  yang tersorot dari peristiwa ini tidak lebih hanya soal pihak yang terzalimi dan menzalimi.

Karena tidak jadi maju sebagai cawagub setelah tersosialisasi ke berbagai penjuru lalu zaini Djalil dipersepsikan sebagai sosok yang terzalimi dan perlu dikasihani. Sedangkan para pihak yang ditengarai menyebabkan terjadinya “perceraian” dan atau pihak yang tidak berupaya mempertahankan “pernikahan” di tunjuk-tunjuk sebagai figure zalim karena telah memperlakukan Zaini Djalil dengan begitu sadis.

Pola pikir demikian dalam melihat sebuah persoalan adalah pola pikir hitam-putih yang menyebabkan mata hati dan telinga kita tertutup dari kebenaran. Dengan perspektif provokatif yang demikian kita akan kehilangan sensitifitas untuk mengambil hikmah atau pelajaran dari sebuah peristiwa. Padahal sebuah peristiwa sekecil apapun pasti ada hikmah yang hadir bersamnya.

Jadi yang terjadi pada Zaini Djalil bukanlah “revolusi atau restorasi yang memakan anaknya sendiri” seperti yang dipersepsikan banyak pihak, tetapi menurut hemat saya apa yang terjadi pada Zaini Djalil adalah  sebuah pelajaran berharga bagi kita semua terkait bagaimana semestinya etika dan tata cara berpartai yang baik.

Sekarang banyak yang berminat jadi politisi, tapi mereka tidak ingat empat prinsip dasar yang harus selalu dipegang erat kader sebuah parpol.  Prinsip dasar tersebut adalah kepatuhan, kedisiplinan dan kearifan serta menjunjung tinngi kepentingan partai diatas kepentingan personal dan kelompok. [].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...