Air Mata Buaya

By 06.35.00


Berbeda dengan anda,  saya termasuk laki-laki yang sangat mudah luluh dengan air mata. Benteng pertahanan saya langsung ambruk bila harus bernegoisasi dengan pihak yang berlinangan air mata. Di banyak peristiwa air mata mampu mengalahkan ketegaran saya.Itu dulu.

Menyadari kelemahan psykologis ini, setiap saat saya terus melakukan up date  diri diantaranya dengan banyak-banyak membaca buku bertemakan air mata. Buku-buku tersebut telah berhasil menginspirasi saya mengelola air mata, termasuk tidak lagi terpancing ikut menangis kala melihat orang menangis. Yang lebih menguatkan saya lagi adalah tindakan anak saya yang masih SD yang mengatakan saya cemen saat dia melihat air mata saya meleleh pada sebuah momentum yang sebenarnya biasa-biasa saja.

Sekarang saya sudah relatif kuat, minimal tidak mudah menangis. Termasuk kemarin, Selasa, 13/12, saat menyaksikan Ahok menangis di depan majelis hakim yang menyidangkan kasus penistaan agama yang melibatkannya di Jakarta,  saya tidak ikut-ikutan menangis. Justru saya heran, kok Ahok menangis ?.

Bukankah beberapa waktu yang lalu Ahok pernah sesumbar, “Kalau KPK sampai mentersangkakan saya dengan alasan yang tidak jelas, berarti takdir saya juga melawan oknum KPK. Wah, lengkap lah, top banget, Republik ini saya lawan semua," ujarnya, (DetikNews, Selasa,24 Nov 2015).
Lihat betapa gagah beraninya Ahok, republik ini akan berani dilawannya. Sangat hebat kan?.

Bukankah Ahok juga yang menyebutkan ibu-ibu di Jakarta yang menangis karena tergusur seperti orang menangis dalam sinetron. Tetapi kemarin --- sekali lagi --- kok  Ahok sesunggukan?. Jadi, kemarin saya tidak menangis seperti beberpa pihak yang begitu terharu melihat Ahok menangis, saya justru heran.

Penangis Profesional

Ternyata tangisan itu tidak selalu bermakna sedih dan penyesalan. Kadang kala tangisan itu hanya kamuflase. Ada kontradiksi. Matanya terlihat seperti  berduka tapi hatinya sesungguhnya bergembira.

Tetapi tidak sedikit juga orang menangis itu benar-benar menangis karena sebuah penyesalan. Menyesal karena suatu peristiwa  tragis yang telah terlanjur dilakukan. Atau menyesal karena dosa dan maksiat yang sudah terlalu banyak dibuatnya. 

Tangisan dan deraian air mata  seperti di atas  sering dilakukan para sufi, salah satunya Rabi’atul  Adawiyah. Adawiyah menangis karena trauma dosa dan takut akan neraka. Sampai hari ini puisi “ilahi lasturi ...”   yang selalu dibacanya saat menangis  di tengah malam masih populer dan dibacakan banyak orang di dunia.

Nabi Yusuf  as juga menangis sampai buta matanya karena sedih kehilangan anaknya. Umar bin Khattab, Khalifah Rasulullah SAW kedua, yang terknal sangat tegas, kekar dan perkasa ternyata juga sangat mudah menangis sampai mengguguk-guguk  bila berdiri shalat menghadap Tuhan nya. Padahal dalam sebuah hadits sahih Bukhari Rasulullah SAW pernah menegaskan bahwa syaitan pun  tidak berani berpapasan dengan Umar bin Khattab. Tangisan semacam ini digambarkan Allah dalam firman Nya, “Dan mereka bersujud ambil menangis dan maka bertambahlah atas mereka perasaan khusyuk”, Surat Maryam: 58.

Di samping linangan air mata ikhlas seperti  di atas, banyak juga  “profesional” yang mampu menangis kapan saja diperlukan tanpa melibatkan hati dan batiniahnya. Di saat bersamaan yang bersangkutan mampu melakukan dua hal sekaligus: matanya berlinang  sedih sedangkan hatinya bergembira ria. Mata dan hatinya berada di frekwensi yang berbeda. Suasana psykologi yang seperti ini oleh tetua Aceh tempoe doloe diistilahkan sebagai kliek-kliek ureung meukawen khem-kem ureung (maaf) koh boh. Dia menangis tapi bukan karena sedih, begitu juga sebaliknya, dia tertawa tapi sama sekali tidak gembira.

Sepanjang saya amati paling tidak ada tiga pihak yang mampu melakukan acting  menangis secara profesional.

Pertama, para aktor pemain film.  Sesuai dengan tuntutan skenario mereka mampu memerankan berbagai karakter yang diperlukan. Termasuk menangis sesunggukan bila dibutuhkan. Sekalipun linangan air mata para aktor itu kita sadarai sebagai akting semata-mata, jauh dari mkebenaran, tapi banyak juga di antara kita yang ikut menangis saat menyaksikan film yang diperankannya itu.

Penangis profesional kedua adalah sejumlah politisi senior. Ada beberapa politisi senior yang saya kenal sangat ahli dalam berpidato. Teman saya sering menyelutuk, kalau politisi ini sedang berpidato semuanya terasa indah  ---- bahkan katanya ---  nasi dingin pun bisa berasap. Politisi model ini mampu menangis dengan baik dan sempurna kapan saja. Sambil pidato berapi-api dia mampu menangis terisak-isak dan baru berhenti setelah beberapa audien ikut menangis.

Ketiga, penangis profesional adalah seperti yang  saya dengar cerita dari beberapa pihak tentang kisah  orang Aceh yang tinggal dekat dengan komplek Pecinan. Menjadi kebiasaan beberapa waktu yang lalu, setiap ada orang Cina yang meninggal mereka akan datang melayat. Di rumah duka orang ini akan ikut menangis sesunggukan seakan-akan begitu berduka atas kematian tersebut. Ujungnya, setelah seluruh prosesi selesai para penangis profesional ini akan mendapat angpau ala kadarnya.
Ketiga model linangan air mata di atas atau yang sejenisnya oleh beberapa pihak disebut sebagai air mata buaya. 

Lha, ada hubungan apa orang yang menangis  dengan buaya?. Yang satu tinggal di darat sedangkan yang satu lagi tinggal di air. Kalau yang dimakud adalah budaya darat, maka itu tidak mungkin, karena buata darat hanya sebuah perempumaan.

Ternyata menurut Wikipedia, yang dimaksud dengan air mata buaya merupakan emosi palsu pada seorang munafik yang pura-pura bersedih dan mengeluarkan air mata palsu. Ekspresi ini berasal dari anekdot kuno, bahwa buaya menangis untuk menarik perhatian mangsanya, atau menangis untuk mangsa yang mereka terkam. Kisah ini pertama menyebar dalam cerita perjalanan Sir John Mandeville pada abad ke-14. Sir John Mandeville  adalah penulis dari The Travels of Sir John Mandeville, sebuah memoir perjalanan yang pertama kali diterbitkan antara 1357 dan 1371.

Dalam bukunya tersebut Sir John Mandeville menceritakan tentang seekor buaya yang berpura-pura tidak makan daging. Tapi suatu saat buaya tersebut ditemukan membunuh seorang laki-laki. Anehnya, buaya tampak  mengeluarkan air mata saat memakan laki-lakai tersebut. Bahkan Wiliiam Shakespeare juga menggunakan istilah air mata buaya  dalam naskah sandiwara Tragedi Othello pada tahun 1603.

Faktanya memang buaya nampak menangis ketika memakan mangsanya. Dikarenakan ketika buaya menelan tubuh mangsanya yang besar, buaya harus membuka mulutnya lebar-lebar dan saat itu kelenjar air matanya tertekan sehingga keluarlah air matanya. Atau dalam versi lain, buaya meneteskan air mata untuk mengeluarkan kelebihan garam dari tubuhnya. Khususnya setelah buaya memakan mangsanya, buaya akan meneteskan air mata. Tapi bukan karena penyesalan buaya tersebut, namun secara alami hal itu terjadi karena kelenjar air mata buaya akan mengeluarkan cairan untuk mengeluarkan kelebihan garam dari buaya. Akhirnya buaya terlihat seperti menangis, padahal buaya sebenarnya  sedang berbahagia karena bisa makan enak.

Jadi tangisan buaya bukanlah karena rasa bersalah atau penyesalan karena telah memakan mangsanya. Dengan  kata lain air mata buaya hanya simbol penyesalan palsu. Memang di beberpa tempat akhir-akhir ini ada buaya yang menangis benaran karena benar-benar sedih disebabkan populasi mereka nyaris punah karena banyak permintaan akan kulitnya. Sepatu, tas tangan, koper, ikat pinggang, dan barang lain yang dibuat dari kulit buaya memang indah, awet dan sangat menarik.

Menjadi viral

Mulai 13/12 malam,  beberapa saat setelah sidang pertama kasus penistaan agama oleh Ahok di Jakarta  sampai tulisan ini saya tulis, hastag #airmatabuaya menjadi viral di media sosial. Banyak netizen yang mempertanyakan status air mata Ahok di depan majelis hakim yang terhormat itu. Apakah linangan air mata Ahok itu benar-benar manifestasi dari sebuah penyesalan atau justru itu sebuah acting yang telah diskenariokan?.

Tentu melalui tulisan ini saya tidak mau melibatkan diri dalam pusaran polemik terkait  judul  yang tepat untuk tangisan si Ahok itu. Saya justru kagum terhadap perubahan sikap Ahok yang begitu fantastis. Ahok yang sebelumnya  gagah perkasa tiba-tiba dia sesunggukan di depan meja hijau. Ahok yang hari-hari kemarin tak kuasa menjaga mulutnya dari berkata kasar dan pedas, tiba-tiba menjadi begitu humanis dan telaten membaca nota keberatan di hadapan majelis hakim dengan segenap intonasi yang lembut dan tratur, serta dengan pemilihan diksi yang empatik, serta sama sekali tidak meledak-ledak seperti tradisinya selama ini.

Soal mengapa Ahok kemarin menangis, lalu apakah air mata  itu air matabuaya atau bukan dan sebagainya?, silakan saja Anda berdiskusi lebih lanjut tapi jangan sampai berantam!.  Bagi saya pribadi soal status air mata Ahok kemarin sederhana saja: Hanya Tuhan dan Ahok sendiri yang tahu mengapa ia menangis. Biet bulut!. [].

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...