Georgetown, Kota Minus Klakson

By 06.06.00


Memanfaatkan cuti kerja akhir tahun, kali ini saya jalan-jalan ke beberapa tempat di Malaysia. Salah satu lokasi yang saya kunjungi adalah Geogetown. Georgetown merupakan ibu kota negara bagian  Pulau Pinang atau sering disebut Penang,  Malaysia.

Kota ini merupakan salah satu pelabuhan utama di Selat Malaka. Pulau ini pertama kali didatangi sekitar tahun 1769 oleh seorang kapten dari Inggris. Kemudian kota ini berkembang menjadi persinggahan banyak kapal dari banyak kawasan. Nama kota ini diambil dari nama Raja Inggris George III. Kota ini membentang di bagian tenggara Pulau Penang dan menjadi pusat bisnis Pulau Penang.

Georgetown dapat dikategorikan kota tua.  Segala macam romantisme aristokrasi lampau peninggalan pendudukan Inggris masih berdiri tegap. Puluhan gedung tua masih memajang keanggungan arsitektur bergaya Victoria. Model lanskapnya kurang lebih sama dengan penampakan kawasan tua Singapura atau Kolkata, keduanya juga pernah menjadi pusat kekuasaan Inggris di timur jauh.
Salah satu hal yang perlu diketahui,  Georgetown merupakan salah satu titik UNESCO Heritage City di Malaysia, satu lainnya adalah Malaka. Status ini membuat gedung-gedung di dalam wilayah Georgetown tidak boleh diubah bentuk dan wujudnya.


Bangunan-bangunan tua di Georgetown begitu eskotik. Gaya bangunan di sini  terdapat percampuran  seni dan arssitektur antara Melayu, China, dan Eropa dengan umur yang hampir 500 tahun.
Banguna tua di kota ini tidak cuma bisa dilihat, namun juga bisa dijelajahi. Karena, bangunan di kawasan kota tua Georgetown hidup dan memegang peran besar dalam pariwisata. Banyak bangunan tua di sini dirawat dan dijadikan tempat penginapan, toko dan cafe. Masuk dan melihat-lihat bangunan tua di sini seperti layaknya kita masuk ke lorong waktu menuju masa silam. Georgetown tidak terlalu besar, kota tua ini bisa dijelajahi dengan berjalan kaki sekitar 2 jam atau lebih.

Landmark paling terkenal di George Town adalah KOMTAR Tower. KOMTAR ternyata merupakan akronim dari  Komplek Tun Abdul Razak. Sebagaimana diketahui Tun Abdul Razak  merupakan Perdana Menteri Malaysia ke-2 (1970 -1976) yang merupakan ayahanda dari PM Malaysia saat ini, Najib Tun Abdurrazak. Tower Komtar ini merupakan gedung pencakar langit tertinggi ke-6 di Malaysia dengan 65 lantai.

Khusus untuk berkeliling seputaran George Town, Pemerintah Kota Penang menyediakan Free Shuttle Bus yang gratis ditumpangi kapan saja. Wisatawan bisa naik dan turun di Halte Bis yang ada tanda “Bas Percuma Free Shuttle” dan hanya perlu menunggu bis dengan tulisan “C.A.T (Central Area Transit)”.

Bagi saya saat yang indah di George Town adalah saat malam tiba. Ketika malam menjelang, langit perlahan akan berubah menjadi gelap, lampu-lampu kota mulai menyala. Penang Bridge pun mulai memunculkan warnanya, selintas garis kuning di atas laut yang menandakan eksistensinya. Ah! George Town dan Pulau Penang terlihat bercahaya! Indah sekali melihat pesona malam pulau ini dari ketinggian. Mendadak suasana menjadi sangat romantis, melihat kilau cahaya malam kota dari ketinggian.


Selama di Georgetown salah satu hal yang menarik saya adalah ketertiban berlalu lintas. Padahal Georgetown bukanlah kota madani seperti di kampung kita. Sepertinya kebanyakan warga Georgetown khususnya, Penang dan Malaysia pada umumnya, semua mereka sangat sadar untuk tertib berlalu lintas.

Di sana barangkali kita tidak perlu berdoa seperti di Banda Aceh, “Ya Allah, janganlah pernah berkenderaan di belakang ibu-ibu yang mengendarai motor, yang lampu sentnya ke kiri tapi dia dia belok kekanan”.

Mungkin karena kesadaran berlalu lintas yang baik pula dan kondisi emosional pengendara yang sempurna karena kehidupannya lebih sejahtera, maka di Georgetown sangat jarang kita temui pengendara di jalan raya membunyikan klakson sesukanya. Di  sini klakson baru dibunyikan bila kondisi memang diperlukan sesuai fungsi dari klakson itu sendiri. Bukan seperti di jalan-jalan di kampung kita, klakson justru dijadikan  media mengumbar kemarahan dan keangkuhan personal sepanjang jalan. Lampu merah masih tinggal lima digit lagi, suara klakson sudah riuh rendah.

Soal klakson di jalan, Georgetown harus diancungi jempol, kota ini minus klakson, sedang di negeri kita sepanjang jalan surplus klakson.  Barangkali ini terkait dengan kualitas peradaban berlalu lintas. Ya, harus kita akui, peradaban berlalu lintas kita  memang masih di bawah rata-rata. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...