TGB, UAS, dan Kita

By 01.55.00




DUA ulama tersohor, baru saja hadir di nanggroe kita, Aceh. Pertama, Ustaz Abdul Somad Lc MA (UAS), seorang ahli hadis jebolan Universitas Al-Azhar Mesir dan Daarul Hadits Marokko. Ulama kelahiran Riau ini pertama ke Aceh akhir 2017 lalu, memenuhi undangan Pemerintah Aceh untuk menyampaikan tausiah Peringatan 12 tahun tsunami. Dan, Senin (12/3/2018) kemarin, ia kembali menginjakkan kakinya di Serambi Mekkah ini memenuhi undangan masyarakat Aceh.

Kedua, Tuan Guru Bajang (TGB) Dr Zainul Majdi MA. Di Nusa Tenggara Barat (NTB), sosok TGB ini bukan “manusia biasa”. Paling tidak beliau memiliki modal sosial politik spesifik yang melekat pada dirinya. TGB adalah pemilik “darah biru” Nahdhatul Wathan. Sebuah ormas besar, terkenal dan berpengaruh di NTB. Orang tua TGB dan keluarga besarnya adalah elite dan pendiri organisasi massa ini. Posisi sosial politiknya di Nahdhatul Wathan dan NTB sama seperti posisi sosial politik dan “darah biru” Gus Dur di NU dan Jawa Timur.

TGB juga seorang ulama muda yang brillian. Tidak hanya alim dan faqih, bukan hanya hafidz 30 juz dan ahli tafsir lulusan Al-Azhar Kairo, ia juga seorang orator, serta memiliki talenta sebagai organisator yang paripurna dan sukses. Dua potensi ini semakin sempurna ketika dia menjabat gubernur dua periode yang sukses di NTB. Maka wajar saja jelang Pilpres 2019 ada banyak pihak yang menaruh harapan; semoga TGB dapat bermetamorfosis dalam dinamika politik Pilpres 2019 menjadi tokoh bangsa dan negarawan ke depan.

Disambut positif

Kunjungan ulama luar Aceh untuk berceramah di Aceh bukanlah pertama kali dilakukan oleh UAS dan TGB. Sebelumnya telah banyak ulama luar Aceh yang diundang menyampaikan tausiah di sini. Misalnya, seperti yang dulu rutin dilakukan oleh “Sulthanah” Illiza Sa’aduddin Djamal saat beliau memimpin Bandar Aceh Darussalam. Tapi yang membedakan kunjungan ulama luar untuk mengisi ceramah di forum dakwah Jumatan yang rutin digelar di Bustanushshalatin (Taman Sari) Banda Aceh kala itu dengan kunjungan UAS dan TGB adalah reaksi publik, terutama melalui media sosial.

Ketika dulu Walikota Banda Aceh menghadirkan sejumlah ulama luar Aceh sebagai penceramah di Banda Aceh, reaksi publik cenderung negatif. Bahkan sejumlah pihak kala itu menyerang kebijakan Bunda Illiza sebagai tindakan kurang menghargai ulama-ulama yang ada di Aceh. Padahal saya sangat yakin iktikad Illiza ketika itu sama sekali tidak demikian, yang dilakukan Illiza lebih kepada sebuah inovasi menghadirkan selingan untuk meminimalisir kemungkinan rasa jenuh jamah dakwah yang dilaksanakan setiap pagi Jumat tersebut.

Reaksi seperti di atas tidak terjadi saat kehadiran UAS dan TGB di Aceh. Sikap publik di Aceh sangat mendukung kehadiran TGB dan UAS serta kehadirannya justru disambut dengan antusias. Ini dapat dibuktikan dengan tingkat kehadiran masyarakat mengikuti ceramah secara langsung di lapangan, antusiasme sebagian besar masyarakat menonton lewat live medsos karena tidak bisa hadir atau tempat acara telah sesak penuh oleh pengunjung, serta tidak ada sama sekali sentimen negatif terhadap kedua ulama tersebut dari netizen Aceh di dunia maya.

Bagi saya, kehadiran TGB dan UAS ke Aceh beberapa waktu lalu itu dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi TGB dan UAS sendiri. Kehadiran mereka di Aceh telah memantik inspirasi masyarakat Aceh terkait kerinduan mereka akan hadirnya ulama sebagai tokoh sentral di Aceh sebagaimana halnya TGB di NTB. Kalau TGB bisa muncul di NTB, apa sulitnya memunculkan sosok dan peran serupa di Aceh. Di NTB banyak pesantren, di Aceh juga tidak kurang dayah.
Kemudian, kalau ceramah dan pesan moral UAS dapat viral secara nasional, mengapa ceramah ulama Aceh tidak kita terkonsolidasikan menjadi demikian. TGB dan UAS sangat berpotensi menjadi magnit pemersatu umat, maka dengan konsolidasi yang baik ulama Aceh pun sebenarnya dapat lebih dari itu. Barangkali ini yang selalu terngiang-ngiang saat masyarakat Aceh berjumpa TGB dan UAS dan sampai saat TGB dan UAS telah meninggalkan Aceh.

TGB dan UAS menjadi tokoh di daerahnya masing-masing kemudian diterima menjadi tokoh umat di tingkat nasional, bahkan selanjutnya menjadi sosok yang dipertimbangkan dalam berbagai kebijakan yang akan dibuat pemerintah, bukanlah lahir dan hadir begitu saja tanpa ada agenda setting.
Agenda setting yang saya maksudkan adalah kesadaran setiap elemen umat di Aceh untuk bekerja kolektif kolegial mempersiapkan kelahiran dan kehadiran tokoh ulama yang dapat diterima semua pihak di Aceh. Tokoh ulama ulama yang bukan hanya fakih dan saleh serta hebat kepemimpinannya, tetapi juga mampu melayani dan mengayomi umat. Prototype ulama yang demikian tidak akan hadir di tengah-tengah masyarakat Aceh, bila kita tidak mempersiapkan prakondisi dan kondisi yang melatarbelakanginya.

Ide memunculkan ulama sebagai tokoh pemimpin sosial politik Aceh --sebagaimana halnya TGB di NTB-- merupakan satu inspirasi yang muncul di balik kedatangan dan interaksi UAS dan TGB dengan masyarakat Aceh. Proitotype UAS dan TGB bukanlah “material” yang sulit dicari di Aceh. Jadi tidak benar dugaan bahwa antusiasme masyarakat Aceh kepada TGB dan UAS dikarenakan tidak adanya sosok seperti TGB dan UAS di Aceh.

Banyak tokoh ulama di Aceh yang bahkan melebihi kaliber TGB dan UAS, cuma semua itu seperti barang terpendam karena lemahnya ikhtiar bersama kita melakukan konsolidasi dan promosi untuk mengantar para ulama kita ke panggung pemimpin puncak sosial politik di Aceh.



Di Aceh tidak kurang ulama-ulama muda cerdas, intelek, ganteng dan orator yang merupakan lulusan dari berbagai dayah yang sangat mungkin “diagenda-setting-kan” menjadi “TGB” dan “UAS” versi Aceh. Karena konsolidasi dan promosi kita lemah, maka potensi yang ada itu menjadi seperti ibarat uranium dalam perut bumi yang dikuasi orang-orang awam; Barang berharga, tapi tidak dapat didayagunakan. Tidak lebih seperti pepatah tetua Aceh, meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut keu asoe kaya.

Kedua, dari sisi masyarakat Aceh. Kerinduan masyarakat Aceh akan hadirnya ulama sebagai tukoh sentral di Aceh sebagaimana halnya TGB di NTB selayaknya mendorong kita di Aceh --utamanya yang berkompeten-- agar segera melakukan konsolidasi umat dan ulama. Ulama dan umat di Aceh adalah dua komponen yang tidak bisa dipisahkan. Ibarat dua sisi mata uang yang saling melengkapi. Sinergi keduanya akan melahirkan kekuatan yang signifikan dan dahsyat.

Saya yakin ulama-ulama muda Aceh sekaliber Ayah Sop Jeunib, Lem Faisal Sibreh, Ayah Muntasir Batee Iliek, Abiya Kutakrueng, dan Waled Rusli Lam Jamee (sekadar menyebut beberapa nama) dan banyak ulama muda Aceh lainnya, setelah melihat fenomena kehadiran dan sambutan UAS dan TGB tentunya tahu persis apa yang harus dilakukan, terkait agenda setting konsolidasi umat dan ulama di Aceh, guna menghadirkan peran ulama yang signifikan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara di nanggroe teuleubeh ateuh rueng donya ini.

Menjawab rindu

Saya yakin, saat Ayah Sop Jeunib, Lem Faisal Sibreh, Ayah Muntasir Batee Iliek, Abiya Kutakrueng, Waled Rusli Lam Jamee dan banyak ulama muda lainnya membaca tulisan ini akan sedikit tersenyum manis sambil berucap ringan, “Apa mungkin semua itu dikerjakan?”. Saya akan menjawab gamblang, “harus dan mungkin!”

Harus, karena ini adalah tanggung jawab moral kita semua untuk menjawab kerinduan umat. Umat Islam Aceh telah lama rindu --dan puncak kerinduan mereka membuncah saat kedatangan UAS dan TGB-- akan hadirnya sebuah kondisi, di mana potensi umat dan ulama Aceh terkonsolidasi dengan baik. Kemudian, dengan soliditas sosial politik tersebut, di Aceh akan hadir bukan hanya satu, tapi puluhan ulama yang prototipenya bahkan melebihi UAS dan TGB.

Mengapa saya menyebutkan nama-nama ulama muda Aceh untuk menjawab kerinduan umat di atas? Ya, karena kerja berat, keras dan penuh tantangan ini memang harus dilakukan oleh yang muda-muda. Para alim ulama kita semisal Abu Tu Blangblahdeh, Abu Mudi, Abu Kuta, Waled NU, Abu Balah Keutapang, dan sejumlah nama ulama senior Aceh lainnya tinggal diminta arahan, petunjuk dan keberkahan. Di mana pun di dunia ini perubahan dan perbaikan selalu digerakkan kaum muda dengan restu dan dukungan orang tua.

Saya yakin Tu Sop, Lem Faisal dan kawan-kawan punya semangat dan talenta untuk pekerjaan besar dan amal salih ini. Di Aceh teupong leubeh, pakon kueh han jeut tapeugot? Bismillah, mari kita mulai!

* Tulisan ini telah di publiklasikan di Harian Serambi Indonesia, 16 Maret 2013





Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...