Apam dan Leumoe Kap Situek di Balik Prostitusi Online

By 01.25.00


Kita sepakat bahwa prostitusi online — sebagaimana diberitakan sejumlah media — yang terjadi beberapa tempat di Aceh  merupakan sebuah peristiwa yang sangat mengganggu sosiokultural kita. Kita prihatin, kecewa dan sangat menyesalkan peristiwa bejat  itu terjadi di negeri ini bahkan dilakukan sendiri oleh ahli waris negeri mulia  ini.

Di tengah dunia peradaban yang sangat terbuka seperti dewasa ini plus kemajuan teknologi informasi yang mampu melakukan penetrasi dan menyuplai  berbagai budaya asing  hatta ke kamar kamar tidur di rumah kita, maka di tengah situasi seperti, kita dibuatnya kalangkabut dalam menjaga dan mengawal moralitas privat dan publik kita.

Maka dari itu, sangat wajar kita terkejut dan kecewa ketika media membuka kepada kita peristiwa amoral itu.

Kejadian prostitusi online ini tentu telah mereduksi fondasi kesakralan pernikahan dan institusi keluarga di Aceh. Yang harus kita lakukan adalah amal jama,i  atau gerakan kolektif kolegial menyelamatkan keadaan.Tindakan apa yang harus kita lakukan dalam rangka pennaganan psikologi dan alternatif jalan keluar bagi mereka mereka yang telah terjerat kejadian ini, sekaligus langkah antisipasi apa saja yang dapat dan mungkin kita lakukan untuk mengantisipasi agar peristiwa seperti ini tidak terulang lagi di Bumi Serambi Mekkah.

Sebagai orang Aceh yang di negerinya terjadi peristiwa memilukan ini, seharusnya sikap  yang selayaknya ditampilkan adalah kesedihan, keprihatinan, kemarahan serta diksi dan narasi yang solutif terhadap persoalan ini.


Bukan justru sebaliknya, mengolok-ngolok dan menjadi bahan tertawaan. Olok-olok dan tertawaan terkait prostitusi online tersebut justru bukan menyelesaikan masalah tetapi justru memunculkan masalah baru yang sangat serius, yaitu merusak dan menghancurkan properti peradaban Aceh lainnya.

Menghina Apam

Salah satu properti peradaban Aceh yang tanpa sengaja dihina dan dirusak ketika mengolok prostitusi online dan pelakunya adalah salah satu makanan “sakral” orang Aceh, yaitu Apam.

Tahukah Anda bagaimana kedudukan kuliner Apam dalam peradaban orang Aceh?.

Sepanjang saya ketahui khanduri Apam dalam tradisi Aceh termasuk ritual yang masih dijunjung tinggi di tengah tengah masyarakat kita terutama di kampung-kampung.

Khanduri Apam (Kenduri Serabi) adalah salah satu tradisi masyarakat Aceh pada bulan ke tujuh (buleun Apam) dalam kalender Aceh. Buleun Apam adalah salah satu dari nama-nama bulan dalam “Almanak Aceh” yang setara dengan bulan Rajab dalam Kalender Hijriah. Buleun artinya bulan dan Apam adalah sejenis makanan yang mirip serabi.

Sudah menjadi tradisi bagi masyarakat Aceh untuk mengadakan Khanduri Apam pada buleun Apam. Tradisi ini paling populer di kabupaten Pidie sehingga dikenal dengan sebutan Apam Pidie. Selain di Pidie, tradisi ini juga dikenal di Aceh Utara, Aceh Besar dan beberapa kabupaten lain di Provinsi Aceh.

Kegiatan toet apam (memasak apam) dilakukan oleh kaum ibu di desa. Biasanya dilakukan sendirian atau berkelompok.

Pertama sekali yang harus dilakukan untuk memasak apam adalah top teupong breuh bit (menumbuk tepung dari beras nasi). Tepung tersebut lalu dicampur santan kelapa dalam sebuah beulangong raya (periuk besar). Campuran ini direndam paling kurang tiga jam, agar apam yang dimasak menjadi lembut. Adonan yang sudah sempurna ini kemudian diaduk kembali sehingga menjadi cair. Cairan tepung inilah yang diambil dengan aweuek/iros untuk dituangkan ke wadah memasaknya, yakni neuleuek berupa cuprok tanoh (pinggan tanah).

Dulu, Apam tidak dimasak dengan kompor atau kayu bakar, tetapi dengan on ‘ue tho (daun kelapa kering). Malah orang-orang percaya bahwa Apam tidak boleh dimasak selain dengan on ‘ue tho ini. Masakan Apam yang dianggap baik, yaitu bila permukaannya berlubang-lubang sedang bagian belakangnya tidak hitam dan rata (tidak bopeng).


Apam paling sedap bila dimakan dengan kuahnya, yang disebut kuah tuhe, berupa masakan santan dicampur pisang klat barat (sejenis pisang raja) atau nangka masak serta gula. Bagi yang alergi kuah tuhe mungkin karena luwihnya (gurih), kue Apam dapat pula dimakan bersama kukuran kelapa yang dicampur gula. Bahkan yang memakan Apam saja (seunge Apam), yang dulu di Aceh Besar disebut Apam beb. Selain dimakan langsung, dapat juga Apam itu direndam beberapa lama ke dalam kuahnya sebelum dimakan. Cara demikian disebut Apam Leu’eop. Setelah semua kuahnya habis dihisap barulah Apam itu dimakan.

Apam yang telah dimasak bersama kuah tuhe siap dihidangkan kepada para tamu yang sengaja dipanggil/diundang ke rumah. Dan siapapun yang lewat/melintas di depan rumah, pasti sempat menikmati hidangan Khanduri Apam ini. Bila mencukupi, kenduri Apam juga diantar ke Meunasah (surau di Aceh) serta kepada para keluarga yang tinggal di kampung lain. Begitulah, acara toet Apam diadakan dari rumah ke rumah atau dari kampung ke kampung lainnya selama buleuen Apam (bulan Rajab) sebulan penuh.

Selain pada buleuen Apam (bulan Rajab), kenduri Apam juga diadakan pada hari kematian. Ketika si mayat telah selesai dikebumikan, semua orang yang hadir dikuburan disuguhi dengan kenduri Apam. Apam di perkuburan ini tidak diberi kuahnya. Hanya dimakan dengan kukuran kelapa yang diberi gula (di lhok ngon u).

Khanduri Apam juga diadakan di kuburan setelah terjadi gempa hebat, seperti gempa tsunami, hari Minggu, 26 Desember 2004. Tujuannya adalah sebagai upacara Tepung Tawar (peusijuek) kembali bagi famili mereka yang telah meninggal. Akibat gempa besar, boleh jadi si mayat dalam kubur telah bergeser tulang-belulangnya. Sebagai turut berduka-cita atas keadaan itu, disamping memohon rahmat bagi orang yang telah meninggal tersebut, maka diadakanlah khanduri Apam tersebut.

Selain itu, ada juga yang mengatakan bahwa latar belakang pelaksanaan kenduri apam pada mulanya ditujukan kepada laki-laki yang tidak shalat Jum’at ke mesjid tiga kali berturut-turut, sebagai dendanya diperintahkan untuk membuat kue apam sebanyak 100 buah untuk diantar ke mesjid dan dikendurikan (dimakan bersama-sama) sebagai sedekah. Dengan semakin seringnya orang membawa kue apam ke mesjid akan menimbulkan rasa malu karena diketahui oleh masyarakat bahwa orang tersebut sering meninggalkan shalat Jum’at.

Nah dari cerita yang menjadi fakta di tengah tengah masyarakat Aceh tersebut di atas, maka sesungguhnya nilai Apam dalam tradisi kearifan budaya Aceh cenderung “sakral” dan jauh beberapa level di atas lontong atau KFC —  kuliner yang datang belakangan ke Aceh.

Jadi ketika sementara kita mengolok pelaku prostitusi online dengan diksi Apam, maka sesungguhnya kita telah menghina kuliner Apam, yang oleh indatu kita dalam kondisi ekonomi sulit sekalipun tetap memuliakan kuliner Apam.

Apam adalah kuliner Aceh yang halalanthayyiban, sedangkan prostitusi online adalah perbuatan hina dan haram. Menyamakan prostitisi dengan Apam adalah tindakan menghalalkan yang haram dan sebaliknya. Yang lebih fatal lagi, orang orang Aceh yang suka menyebut perempuan pelaku prostitusi itu dengan sebutan  Apam adalah orang Aceh  yang dengan sadar menghina diri sendiri, menghina indatu, yang juga melecehkan kuliner sendiri.

Anda bercanda, tapi menghina diri sendiri. Sehatkah Anda?. Janganlah menembak Kapal musuh tapi yang jatuh kapal sendiri.

Melihat dan membaca dinamika issu prostitusi online di medsos, di mana diksi Apam digunakan sementara warga net untuk menginisiali pelaku prostitusi online, maka tindakan itu adalah tindakan tak sadar diri. Hana tusoe droe. Ikut ikutan, lagee leumoe kap situek.

Berhentilah mengolok diri sendiri, jauhilah sikap dan tindakan menghina tradisi indatu. Ingat, suatu masa nanti, tanpa tradisi yang orisinil Aceh yang pernah menjadi sebuah bangsa akan jadi mitos. Ditolak sebagai sejarah. Nyan ban!. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...