Persahabatan Abadi Politisi Tempoe Doeloe

By 10.34.00



“Dalam politik tidak ada kawan dan lawan yang abadi,
yang abadi hanya kepentingan. Ketika kepentingan berbeda,
kawan pun menjadi lawan. Sebaliknya, ketika kepentingan sama,
 lawan pun berubah wujud menjadi kawan”.

oo0oo



Di atas panggung politik mutakhir di tanah air kita, adagium di atas seperti menjadi kebenaran mutlak.

Itulah yang diyakini dan diperankan sehari-hari oleh sebagian besar  elit politik kita dewasa ini. Persahabatan segera memasuki senjakala ketika pilihan dan aspirasi poltik berbeda.
Seakan tidak bias memadu-padankan dua hal tersebut di waktu bersamaan: Pertemanan sejati di satu sisi, dan pilihan politik yang berbeda di sisi lain.

Padahal di masa lalu, di masa-masa awal kemerdekaan negeri ini, ketika para politisi masih disatukan hati untuk berkonstribusi kepada negeri,  perbedaan politik tidak memutuskan persahabatan mereka. Bagi mereka pilihan politik adalah sebuah pilihan rasional untuk sebuah cita-cita ideal, sedangkan persahabatan adalah entitas kemanusian yang berdimensi universal yang mampu mengabaikan tendensi politik demi alasan-alasan kemanusia. Hal inilah yang dipraktekkan politisi kita tempo dulu dan layak kita contohi dewasa ini.

oo0oo

Alkisah, sesungguhnya Syarifuddin Prawiranegara, Soekarno, IJ Kasimo, Leimina dan Subandrio adalah serangkai sahabat sejati.

Syarifuddin Prawiranegara adalah  ayah dari Fadhli Zon, Wakil Ketua DPR RI dan Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI). PDRI adalah pemeintahan darurat yang dibentuk Sukarno ketika agresi Belanda II di mana ketika itu Sukarno ditawan Belanda di Yogyakarta dan seluruh wilayah Indonesia dalam penguasaaan kolonialis Belanda kecuali Aceh. Awalnya PDRI berpudat di Bukit Tinggi, Padang, selanjutnya dipindahkan ke Bireun, Aceh.

Pak Syaf – begitu beliau dipanggil – adalah  elit Partai Masyumi yang merupakan rival tangguh PNI, partai besutan Soekarno bersama  Leimina dan Subandrio. Sedangkan IJ Kasimo adalah Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (PARKINDO) yan g juga lawan politik Masyumi di parlemen ketika itu.

Di parlemen kala itu selalu terjadi perbedaan pandangan  politik  yang keras antara Masyumi, PNI dan Parkindo. Syarifuddin Prawiranegara, Leimina dan Subandrio juga sama-sama anggota Kabinet Presiden Sukarno. Syarifuddin Prawiranegara menjabat sebagai Gubernur BI pertama, sedangkan Leimina dan Subandrio adalah Wakil Perdana Menteri.

Namun sekeras apapun pertentangan mereka di panggung politik, di luar panggung politik mereka dalah sahabat sejati. Beberapa catatan sejarah menyebutkan, anggota parlemen ketika itu hanya beberapa orang saja yang memilki mobil. Selebihnya naik angkot atau motor ketika setiap pagi dating bekerja ke gedung parlemen.

IJ Kasimo politisi militan Kristen dari Fraksi Parkindo  termasuk salah seorang anggota parlemen yang memiliki mobil ketika itu. Sedangkan Muhammad Natsir dan Muhammad Room (Masyumi) tidak memiliki alat transportasi apapun. Beliau ini saat hendak ke gedung parelemen sering naik angkot bahkan kadang jalan kaki.

Suatu hari Natsir --- yang pernah menjadi Perdana Menteri --- yang terkenal dengan Mosi Integralnya mempersatukan kembali NKRI setelah pernah menjadi Negara-negara bagian itu sedang menunggu angkot. Tiba-tiba IJ Kasimo lewat dengan mobilnya, lalu dia mengajak Natsir naik mobilnya dan mengantar Natsir sampai ke rumah.

Dalam buku Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo  yang ditulis JB Sudarmanto dicatat  betapa anak-anak dan isteri Syarifuddin Prawiranegara merasakan betul besarnya rasa kemanusiaan Sukarno dan orang-orang di sekitarnya saat  Syarifuddin Prawiranegara  ditahan karena terlibat dalam PRRI/Permesta. Padahal Syarifuddin Prawiranegara adalah musuh politik Sukarno.

Dalam buku itu diceritakan bahwa pada awal-awal kemerdekaan persahabatan di atas segalanya. “Politik memang boleh beda. Tapi, anak-istri nggak boleh terlantar,”  demikian dikisahkan dalam buku tersebut.

Ketika Sjafruddin ditahan akibat terlibat Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI), hidup anak-istrinya memang seketika jadi susah. Rumah mereka diambil paksa, isteri dan anak-anak Syarifuddin hidup tercerai-berai. Ada yang menumpang pada saudara atau ditampung pengurus  Masyumi yang mampu lainnya.

Lily , isteri Syarifuddin Prawiranegara, membiayai hidup anak-anaknya dari pemberian sahabat-sahabat Sjafruddin dan segelintir orang yang bersimpati. Banyak orang takut mendekati keluarga Sjafruddin semasa dia ditahan. Akibat ketakutan itu antara lain, anak-anak Syarifuddin Prawiranegara kesulitan mendapatkan sekolah ketika hendak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP. Sekolah Muhammadiyah  -- yang notabene dekat dengan Masyumi, partai tempat Sjafruddin berkancah–  didatangi Lily bahkan tak berani menjamin bisa menerima anbak-anak Syarifuddin Prawiranegara.

Persoalan itu baru bisa dipecahkan oleh persahabatan Sjafruddin dan IJ Kasimo, tokoh Partai Katolik. Setelah mendapat surat Sjafruddin yang diantar langsung oleh Farid Prawiranegara, salah seorang anak Syarifuddin Prawiranegara,  Kasimo langsung memberi saran dan surat pengantar.

 “Kamu datang saja ke Kanisius, pasti diterima,” kata Kasimo sebagaimana disitir JB Sudarmanto dalam Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo. Berbekal surat itulah Farid akhirnya bisa melanjutkan sekolah di SMP Pangudi Luhur yang terletak di Jalan Brawijaya, tak jauh dari rumah Sjafruddin.

Kesulitan keluarga Sjafruddin berubah begitu dua putrinya, Salvyah dan Aisyah, mengadu kepada Waperdam Leimena dan Waperdam Soebandrio di kantor Leimena. Kedua waperdam kaget begitu mendengar kesulitan hidup keluarga Sjafruddin pasca-penahanan sang kepala keluarga. Soebandrio langsung menelepon Jusuf Muda Dalam, orang Aceh yang menjadi Gubernur Bank Indonesia ketika itu, agar yang menyita rumah Sjafruddin, segera mengembalikan rumah itu.

Oleh Jusuf, perintah Seobandrio langsung ditindaklanjuti dengan merapikan rumah itu terlebih dulu. Saat isteri dan anak-anak Syarifuddin Prawiranegara masuk rumah sudah dicat semua dan lengkap dengan peralatannya.

Leimena dan Soebandrio juga mengatakan kepada dua putri Sjafruddin agar datang ke rumah Leimena di Jalan Teuku Umar saban bulan untuk mengambil sembilan bahan pokok. “Ini kontribusi kita untuk bapakmu. Kita kan sama bapakmu berteman sebetulnya,” kata Leimena.

Sejak itu, keluarga Sjafruddin kelebihan bahan keperluan sehari-hari. Setiap bulan, Lily membagikan kelebihan barang-barang itu kepada keluarga tahanan politik lain macam M. Natsir dan Burhanuddin Harahap.

Meski dirahasiakan, kabar bantuan Leimena-Soebandrio itu sampai juga ke telinga Presiden Sukarno. Sambil mengutarakannya ke pengusaha Dasaad saat sarapan di Istana, Sukarno mengatakan keprihatinannya mengetahui Lily harus menggunakan bis kota untuk bepergian semenjak Sjafruddin ditahan.

“Itu Leimena sama Bandrio kasih sembilan bahan pokok sama duit. Kita kasih dua mobil ya! Anda kan dapat keagenan Mazda kotak, tolong kasih dua mobil sama Lily,” kata Sukarno  kepada Dasaad,
Beberapa hari kemudian, Dasaad mengontak  keluarga Syarifuddin Prawiranegaradan menyerahkan dua mobil seperti perintah Sukarno.

oo0oo

Kisah di atas hanya bagian dari cupilan kisah cara berpolitik para politisi kita masa lalu. Bagi mereka pertemanan  di atas segalanya sekalipun berbeda jalur politik. Kini sangat jarang kita temui para politisi yang tetap menjalin silaturrahmi dan pertemanan ketika pilihan politik berbeda.
Dunia memang telah berubah, ka bak ujong, ka toe kiamat. []

Baca juga yang lainnya

0 komentar

Silahkan tinggalkan komentar anda...